Fiqih

Hukum Wanita Safar Pergi Berhaji Tanpa Mahrom

Hukum Wanita Safar Pergi Berhaji Tanpa Mahrom

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Wanita Safar Pergi Berhaji Tanpa Mahrom. selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah Ustadz saya ada beberapa pertanyaan:

1. Bagaimana hukum wanita tanpa mahram safar untuk berhaji?

2. Jika saya mempunyai tabungan +/- 350juta apakah saya (tanpa mahram) wajib berangkat haji dengan haji furoda ataukah cukup mendaftar haji biasa? Jazakumullahu khair.

Ditanyakan oleh Sahabat AISHAH (Akademi Shalihah)


Jawaban:

1. Wanita yang ingin safar untuk haji harus ditemani mahram, tidak boleh bepergian sendirian. Ini adalah bagian dari perintah syariat.

Ingatlah semua perintah agama itu mengandung kebaikan dan maslahat yang agung dan begitupun larangan mengandung bahaya mudharat yang besar (hanya saja kita belum tahu).

Larangan safar tanpa mahrom bagi wanita ini bersifat umum.

Sebuah hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ » . فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِى جَيْشِ كَذَا وَكَذَا ، وَامْرَأَتِى تُرِيدُ الْحَجَّ . فَقَالَ اخْرُجْ مَعَهَا

“Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya. Tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”
Kemudian ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.”
Beliau bersabda, “kalau begitu (lebih baik/ dahulukan) engkau berhaji bersama istrimu.” (HR. Bukhari, no. 1862).

Hadis yang lain juga, dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh melakukan perjalanan jauh (safar) sejauh perjalanan sehari semalam kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339)

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh melakukan perjalanan jauh (safar) sejauh perjalanan sehari kecuali jika bersama mahramnya.” (HR. Muslim no. 1339).

Hadits yang disebutkan di atas mengandung faedah,dilaranganya wanita bersafar (menempuh perjalanan jauh) tanpa adanya mahram. Itu berarti siapa saja dari wanita yang tidak mendapatkan mahramnya, maka ia tidak boleh (haram hukumnya) melakukan safar, walaupun safarnya termasuk safar ibadah.

2. Saran saya adalah anda berangkat umrah dulu bersama mahram (anda boleh membiayai perjalanannya), karena umrah itu untuk yang pertama kali mengerjakannya adalah hukumnya wajib (satu kali seumur hidup).

Umrah itu dikenal dengan haji shagir (kecil), dan para ulama memasukan mahram bagi wanita dalam safar haji itu bagian dari rukun kemampuan, jika tidak ada mahram, maka gugur kewajiban haji bagi wanita.

Dipersyaratkan wanita harus memiliki mahram untuk melakukan safar haji. Jika wanita tidak memiliki mahram yang menemaninya, maka gugur kewajiban haji untuknya, walaupun wanita tersebut mampu secara finansial dan fisik.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. 
حفظه الله

Senin, 25 Jumadil Awal 1444H / 19 Desember 2022 M 


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at
Back to top button