Fawaid Hadist #72 | Keutamaan Sahabat Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu

Fawaid Hadist #72 | Keutamaan Sahabat Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan serial fawaid hadist, Fawaid Hadist #72 | Keutamaan Sahabat Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Selamat membaca.
[div class=”fawaid-hadis”]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: « لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ » قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا أَحٍبَبْتُ الْإِمَارَةَ إلاَّ يَوْمَئذٍ، فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى لَهَا، فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، وَقَالَ: « اِمْشِ وَلَا تَلْتَفِتْ حَتَّى يَفْتَحَ اللهُ عَلَيْكَ » فَسَارَ عَلَيٌّ شَيْئًا، ثُمَّ وَقَفَ وَلَمْ يَلْتَفِتْ فَصَرَخَ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلَى مَاذَا أُقَاتِلُ النَّاسَ؟ قَالَ: «قَاتِلْهُمْ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ فَقَدْ مَنَعُوا مَنْكْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang Khaibar pernah bersabda,
“Sungguh akan aku berikan panji (bendera) ini kepada seseorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya.”
Umar bin Al-Khaththab berkata, “Aku tidak pernah menginginkan jabatan -menjadi pemimpin- (di medan perang) kecuali pada hari itu. Maka aku pun menampakkan diri dengan harapan semoga aku dipanggil untuk menerima panji itu. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan panji itu kepadanya, lalu bersabda, “Majulah ke depan dan janganlah kamu menoleh ke belakang sehingga Allah memberikan kemenangan kepadamu.”
Kemudian Ali radhiyallahu anhu bergerak beberapa langkah kemudian berhenti tetapi tidak menoleh ke belakang dan menyeru dengan suara tinggi, “Wahai Rasulullah, atas dasar apakah aku memerangi manusia?” Baginda menjawab, “Perangilah mereka, sehingga mereka bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka telah berbuat demikian, terpeliharalah harta dan darah mereka kecuali dengan haknya, dan hisabnya diserahkan kepada Allah Ta’ala.”
(HR. Muslim, no. 2405).
[/div]Faedah Hadist
Hadist ini memberikan faedah-faedah berharga, di antaranya;
1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan aku berikan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Panji yang dimaksudkan adalah bendera yang dibawa oleh panglima perang agar pasukan yang berada di belakangnya mendapatkan petunjuk.
2. Yang dimaksud dengan “manusia” dalam hadits ini adalah orang-orang kafir Harbi, yaitu orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Makanya Allah Ta’ala befirman:
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ…
“Sesungguhnya yang Allah larang itu hanyalah untuk memberikan loyalitas kepada orang kafir yang memerangi dan mengusir kalian dari negeri-negeri kalian, atau setidaknya membantu orang untuk mengusir kalian…” (QS. Al-Mumtahanah: 9)
Ini menunjukkan bahwa memerangi orang-orang kafir Harbi disyaratkan harus di bawah bendera imam / penguasa atau pemimpin resmi kalau itu jenis jihad thalabi (ekspansi). Tapi kalau jihad difa’i (orang kafir menyerang kaum muslimin), maka yang seperti ini tidak disyaratkan harus di bawah bendera imam. Setiap muslim wajib membela diri saat itu.
3. Keutamaan sahabat Ali bin Abi Thalib, di mana beliau dipilih untuk membawa panji bendera perang sebagai panglima.
4. Siapa yang ingin membawa panji bendera perang, maka ia wajib membawa sifat mencintai Allah dan Rasul-Nya.
5. Kebenaran tentang mukjizat Rasul bahwa kaum muslimin akan menang dalam perang khaibar.
6. Dilarang membunuh musuh dalam perang yang telah mengucapkan syahadat, hal ini karena Islam menghukumi secara zahir dan Allah Ta’ala Maha Tahu rahasia hati manusia.
7. Bersegera dalam menaati perintah Rasul.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Referensi: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.
[div class=”fawaid-hadis”]
Yuk dukung operasional & pengembangan dakwah Bimbingan Islam, bagikan juga faedah hadist ini kepada kerabat dan teman-teman.
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab perantara dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
*unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).
[/div]