Tata Cara Sujud Tilawah, Sujud Sahwi Dan Syukur
Tata Cara Sujud Tilawah, Sujud Sahwi Dan Syukur
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tata cara sujud tilawah, sujud sahwi dan syukur. Selamat membaca.
Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz. Semoga Allah memberkahi ustadz dan keluarga Afwan ustadz ana ingin bertanya:
1. Bagaimana tata cara sujud tilawah yang benar di dalam sholat?
2. Bagaimana tata cara sujud syukur yang benar?
3. Bagaimana tata cara sujud sahwi yang benar?
Syukron ustadz Jazakumullah Khair.
(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh
Sujud Tilawah, Sujud Sahwi Dan Sujud Syukur
Secara umum, bahwa bacaan sujud, baik sujud sahwi, tilawah atau sujud syukur bisa menggunakan bacaan sujud ketika dalam shalat fardhu/sunnah. Dengan membaca:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
“Subhaana robbiyal a’laa” – Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” – Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku.
Dalam kitab Mughnil Muhtaj – salah satu kitab fiqih Syafi’iyah – disebutkan, “Tata cara sujud sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatan wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, thuma’ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirosy.
Ketika duduk antara dua sujud sahwi, duduk tawarruk ketika selesai dari melakukan sujud sahwi, dan dzikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti dzikir sujud dalam shalat.
Pada bacaan dzikir selain bacaan di atas, para ulama berbeda pendapat, karena didapat kelemahan di sanadnya sehingga ada perbedaan antara yang membolehkan dan tidak membolehkan.
Terkait dengan bacaan sujud sahwi yang berkembang di masyarakat , Ibnu Hajar rahimahullah melemahkan pendapat tersebut, dan mengatakan,”
قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .
“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At-Talkhis Al Habiir, Ibnu Hajar Al Asqolani, 2/6, Al Madinah Al Munawwaroh, 1384.)
Sujud tilawah
Berkata syekh bin Baz rahimahullah ta`ala ketika ditanya terkait dengan takbir dalam sujud tilawah, baik di dalam shalat atau di luarnya, juga apakah diharuskan salam?, beliau menjawab,”
سجدة التلاوة في الصلاة مثل سجود الصلاة، إذا سجد يكبر، وإذا رفع يكبر، والدليل على هذا: ما ثبت عن رسول الله ﷺ أنه كان في الصلاة يكبر في كل خفض ورفع؛ إذا سجد كبر، وإذا نهض كبر، هكذا أخبر الصحابة من حديث أبي هريرة وغيره، وهذا السجود من سجود الصلاة[1]، هذا هو الظاهر من الأدلة.
أما إذا سجد للتلاوة في خارج الصلاة، فلم يُرو إلا التكبير في أوله، هذا هو المعروف كما رواه أبو داود والحاكم.
أما عند الرفع في خارج الصلاة، فلم يُرو فيه تكبير ولا تسليم، وبعض أهل العلم قال: يكبر عند النهوض، ويسلم أيضًا، ولكن لم يرد في هذا شيء، فلا يشرع له إلا التكبيرة الأولى عند السجود إذا كان خارج الصلاة. وبالله التوفيق[2].
نشر في مجلة الدعوة)، العدد: 1520، في 15/7/1416هـ. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 24/ 405)
“Sujud tilawah sama dengan sujud ketika shalat. Jika ia sujud, dan bangkit darinya maka ia bertakbir. Dalilnya sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah shallahu alaihi wasallam bahwa ketika shalat beliau bertakbir dalam setiap turun dan bangkitnya. Jika sujud dan bangkit beliau pun bertakbir. Sebagaimana yang di ceritakan shahabat dari hadist abu Hurairah dan selainnya. Sujud ini (tilawah) adalah bagian dari sujud shalat, begitulah yang terlihat dari dalil.
Adapun sujud tilawah di luar shalat tidaklah disebutkan kecuali hanya bertakbir di awalnya, ini yang lebih dikenal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al Hakim.
Adapun ketika posisi bangkit (dari sujud) di luar shalat, maka tidak didapatkan riwayat yang menyebutkan takbir dan salam. Sebagian ulama mengarahkan untuk bertakbir ketika bangkit dan juga melakukan salam.
Namun tidak di dapatkan riwayat apapun dalam masalah ini, sehingga tidak disyariatkan kecuali hanya bertakbir pertama ketika akan sujud, bila hal ini dilakukan di luar shalat. Wabillah taufiq. (https://binbaz.org.sa/fatwas/19854/)
Bila lupa belum sujud sahwi setelah selesai shalat
Kami nukilkan dalam masalah ini sebagaimana yang di jelaskan oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, beliau menjelaskan,”
Mengenai masalah ini kita dapat bagi menjadi dua keadaan:
Keadaan pertama: Jika sujud sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.
Dalam keadaan seperti ini –menurut pendapat yang lebih kuat- selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan sujud sahwi ketika ia ingat meskipun waktunya sudah lama.
Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafi’i, Yahya bin Sa’id Al Anshori, Al Laits, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466.)
Di antara alasan pendapat di atas adalah:
Pertama: Karena jika kita mengatakan bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan sujud sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah dalam lupa sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga raka’at, setelah itu malah beliau ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan.
Lantas beliau pun mengerjakan raka’at yang kurang tadi. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau melakukan sujud sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.
Kedua: Orang yang lupa –selama wudhunya masih ada- diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk sujud sahwi. Meskipun lama waktunya, sujud sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarohnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)
Keadaan kedua: Jika sujud sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal.
Untuk keadaan kedua ini berarti shalatnya batal hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika sujud sahwi yang ditinggalkan adalah sujud sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan raka’at, maka ia boleh melaksanakan sujud sahwi setelah ia berwudhu kembali. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466.)
Wallahu a`lam.
Referensi
- At-Talkhis Al Habiir, Ibnu Hajar Al Asqolani, 2/6, Al Madinah Al Munawwaroh, 1384.
- Shahih Fiqh Sunnah, 1/466.
- HR. Muslim no. 684
- https://binbaz.org.sa/fatwas/19854/
- https://muslim.or.id/10309-sujud-sahwi-4-lupa-melakukan-sujud-sahwi.html
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
19 Safar 1444 H/ 15 September 2022 M
Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini