6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (2)

6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (2)

6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (2)

Setelah pada 6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (1) dijelaskan 3 (tiga) ciri yang layak dimiliki oleh orang beriman yaitu khusyuk dalam sholat, menjauhkan diri dari hal yang sia-sia , dan mengeluarkan zakat dan sedekah. Maka tiga ciri selanjutnya yang orang beriman hendaknya memilikinya adalah,

Keempat, Menjaga Kehormatan

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

 وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ  ۝ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Mukminun 23: 5-7)

Imam As Sa’di mengatakan “Tidak diragukan lagi bahwa menjaga kehormatan diri dari perbuatan keji (khususnya perbuatan zina) adalah tanda yang besar sekaligus hal yang bisa menumbuhkan keimanan seorang hamba. Seorang mukmin yang khawatir dengan posisi dirinya ketika nanti berada di hadapan Rabbnya akan berusaha mengekang hawa nafsunya.” (At Taudhih wal Bayan/62)

Seorang mukmin akan berusaha mengekang hawa nafsunya. Walaupun demikian, Islam tidak membiarkan nafsu yang bersifat naluriah ini terhenti tak tersalurkan. Islam memberikan jalan keluar yang dihalalkan yaitu pernikahan sehingga orang-orang yang beriman bisa menyalurkan nafsu yang bersifat naluriah tersebut pada jalan-jalan yang dihalalkan, bahkan dia mendapat pahala dengan menyalurkannya melalui jalan yang halal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ ؛ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .

“Hubungan badan antara kalian adalah sedekah”. Para sahabat ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, “Bukankah jika kalian berhubungan badan dengan yang haram maka kalian akan mendapatkan dosa? Karenanya jika kalian berhubungan badan dengan yang halal, kalian pun akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim no. 720)

Seorang mukmin juga bisa terus mendulang pahala melalui anak-anak yang dilahirkannya dengan cara mendidiknya menjadi anak-anak yang sholeh dan shalihah. Bahkan dia pun bisa terus mendapatkan kebaikan-kebaikan melalui doa anak keturunannya yang sholeh walaupun dia sudah wafat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ ؛ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Di antara pesan ayat tersebut yang perlu kita perhatikan juga, “Barangsiapa mencari yang selain itu (penyaluran syahwat kepada pasangan yang sah/budak yang dimiliki) maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (Q.S. Al Mukminun 23: 7). Selain perzinaan, yang termasuk dalam golongan orang yang melampaui batas adalah pelaku nikah mut’ah, pelaku kumpul kebo, dan juga pelaku LGBT. Semoga Allah melindungi kita dari yang berlaku keji.

Kelima, Menjaga Amanah

Allah berfirman,

 وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya. (Q.S. Al Mukminun 23: 8)

Ciri orang beriman yang selanjutnya adalah menjaga amanah dan janji. Amanah yang dimaksud di sini adalah amanah yang terjadi antara dia dengan sesama manusia maupun amanah antara dia dengan Rabbnya Subhanahu wa ta’ala berupa tauhid dalam peribadatan dan meninggalkan kesyirikan. Selaras dengan hal ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tidak sempurna keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan tidak sempurna agama orang yang tidak menjaga janji.” (HR. Ahmad dishahihkan no. 12383 oleh Syaikh Al-Albani)

Imam As Sa’di mengatakan, “Jika Anda ingin mengetahui kadar agama dan keimanan seseorang lihatlah sifatnya, apakah dia termasuk orang yang menjaga amanah atau tidak? Baik amanah berupa harta, berupa perkataan ataupun wewenang. Apakah dia menepati hak-hak, perjanjian-perjanjian, dan akad-akad yang terjadi antara dia dengan Allah maupun antara dia dengan sesama hamba atau tidak? Jika dia seperti itu (orang yang menjaga amanah -pent) maka dia adalah orang yang agama dan keimanannya baik. Namun jika tidak, dia adalah orang yang tidak sempurna agama dan keimanannya sekadar ketidaksempurnaannya dalam menjaga amanah.” (At Taudhih wal Bayan/62)

Walaupun di zaman ini disebutkan susah mencari orang yang amanah, namun orang-orang yang beriman akan senantiasa teguh menjaganya. Jika kita belum demikian, maka jadikan diri kita sosok yang menjaga amanah dengan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya. Selain itu, ketahui pula kapasitas diri kita sehingga kita tidak sembarangan dalam menerima amanah karena hal tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya.

Keenam, Menjaga Sholat

Allah Ta’ala berfirman,

 وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan orang-orang yang memelihara sholatnya. (Q.S. Al-Mukminun 23: 9)

Imam As Sa’di mengatakan “Yang dimaksud senantiasa mengerjakan sholat pada waktunya, sesuai tata caranya, memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya”. Beliau juga melanjutkan tafsir ayat ini dan mengaitkan dengan ayat ke-2 mengenai khusyuk dalam sholat, “Maka Allah memuji mereka karena mereka khusyuk dalam sholat dan menjaga sholatnya karena perkara sholat ini tidak tegak sempurna kecuali keduanya terpenuhi. Siapa yang menjaga sholat tapi tidak khusyuk sholatnya, atau khusyuk namun tidak menjaga sholatnya maka orang itu tercela dan tidak sempurna penegakkan sholatnya”. (Taisir Karimirrahman, Tafsir surat Al Mukminun ayat 9)

Beliau juga memberikan permisalan yang sangat bagus yang menggambarkan hubungan menjaga sholat ini dengan keimanan seseorang. Beliau berkata, “Menjaga sholat ini bagaikan air yang senantiasa mengalir di taman keimanan. Maka air tersebut mengairi dan menumbuhkan tanaman sehingga tanaman itu bisa menghasilkan buahnya setiap saat” (at Taudhih wal Bayan/62). Hal ini pun selaras dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ . قَالُوا : لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ : فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sebuah sungai di depan pintu kalian, lalu ia mandi di sungai itu lima kali sehari, apakah akan tersisa kotoran walau sedikit?”. Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapuskan dosa dengannya.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667).

Begitulah orang-orang yang beriman, mereka menyadari betul arti penting sholat sebagai rukun Islam yang ke-2, mereka memahami keutamaan orang yang mengerjakannya dan ancaman kepada orang yang meninggalkannya. Karena itu mereka senantiasa berusaha menjaga sholatnya dalam kondisi apapun. Terlebih lagi Allah telah memberikan keringanan dalam kondisi-kondisi tertentu sehingga seorang bisa menjamak atau mengqoshor sholatnya sehingga tak ada lagi alasan untuk meninggalkan sholat.

Penutup

Demikianlah 6 ciri orang-orang beriman yang Allah sebutkan dalam Al Quran. Jika kita memperhatikannya, maka semuanya sering teruji pada kehidupan kita sehari-hari dan amalan tersebut mencakup di dalamnya amalan hati, amalan lisan, dan amalan anggota badan. Begitulah keimanan, dia ibarat pohon yang perlu nutrisi setiap saat dengan amalan-amalan yang berkualitas yang melibatkan hati, lisan, dan anggota badan seorang mukmin.

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)
—————————————————————————————————————————————–

Referensi:
Taisir Karimirrahman, Imam As Sa’di
At Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman, Imam As Sa’di

CATEGORIES
Share This

COMMENTS