Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi

Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi

Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi

Tak seperti judul artikel ini, “Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi”, kisah yang akan kita simak pada kesempatan kali ini bukanlah kisah hewan-hewan yang saling bercakap-cakap layaknya kisah kancil pencuri ketimun atau kisah khayalan lainnya. Kisah kita kali ini adalah sebuah kisah yang spektakuler, kisah abadi yang tak lekang direnggut masa. Kisah ini dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim.

Al-Kisah, dahulu kala, di kalangan kaum Bani Israel, hiduplah seorang lelaki kaya raya yang tak punya anak, tak punya kerabat pewaris hartanya kecuali keponakannya yang fakir lagi miskin harta.

Sang keponakan pun sangat berharap untuk mewarisai harta pamannya itu. Namun ternyata, Allah mentakdirkan sang paman berumur panjang hingga datanglah setan membisikkan kepada si keponakan untuk membunuh pamannya dan selanjutnya menjadi pewaris tunggal kekayaannya.

Ia pun memutar akal piciknya agar bisa melancarkan aksinya tanpa dicurigai orang lain. Ia bunuh pamannya pada suatu malam, lalu ia bawa jasad pamannya itu ke depan pintu kota tetangga dan meletakkannya di sana.

Pagi harinya, penduduk kota terkaget bukan kepalang. Mereka dituduh membunuh sang paman oleh keponakannya. Terjadilah perdebatan antara mereka. Lantas, mereka mendatangi Nabi MusaAlaihis Salam beramai-ramai untuk mengadukan perkara ini.

Turunlah wahyu kepada Nabi Musa memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi. Mereka berkata: Apakah kau jadikan kami sebagai ejekan? Musa berkata : Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil” (Q.S. Al-Baqarah 2: 67)

Mereka tuduh nabi Musa ‘Alaihis Salam mempermainkan mereka. Mereka pun berkata:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ

“… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa (ciri-ciri) sapi itu? …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 68)

Nabi Musa pun berdoa, dan turunlah wahyu:

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

“… Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi tersebut tidaklah muda, tidak pula tua, pertengangan antara keduanya. Lakukanlah apa yang diperintahkan kepada kalian” (Q.S. Al-Baqarah 2: 68)

Mereka masih belum puas dengan jawaban Nabi Musa ‘Alaihis Salam, mereka bertanya lagi:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنهُا

“… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa warnanya? …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 69)

Nabi Musa pun berdoa kembali, dan turunlah wayu:

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

“… Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi itu kuning tua warnanya,menyenangkan orang yang melihatnya” (Q.S. Al-Baqarah 2: 69)

Mereka masih belum puas juga. Mereka pun berkata:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa (ciri-ciri) sapi tersebut. Karena sesungguhnya (ciri-ciri) sapi ini masih belum jelas bagi kami, dan insya Allah kami pasti mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah 2: 70)

Maka turunlah wahyu kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam :

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا ذَلُولٌ تُثِيرُ الأَرْضَ وَلا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لا شِيَةَ فِيهَا ۚ

“…Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi tersebut bukan sapi yang dipakai untuk membajak tanah, bukan pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya…” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

Mereka berkata:

الآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّۚ

“…Sekarang, (barulah) engkau datang membawa kebenaran …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

Mereka mempersulit diri mereka sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Apabila ketika Nabi Musa memerintahkan untuk menyembelih sapi, mereka segera melaksanakannya, maka itu cukup bagi mereka.

Akhirnya, mereka pun kepayahan mendapatkan sapi dengan ciri-ciri tersebut. Mereka cari dan cari, namun sapi yang dimaksud tak mereka temukan. Hingga suatu saat mereka menjumpai orang yang memiliki sapi persis sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Musa. Akan tetapi, sang pemilik sapi tak mau menjualnya. Mereka mencoba menawar dengan harga yang tinggi, namun pemilik sapi tetap tak mau. Maka, datanglah Nabi Musa dan pemilik sapi pun merelakan sapinya dengan harga yang fantastis, yaitu dengan emas seberat  sepuluh kali lipat berat sapinya. Mereka terpaksa membelinya meski dengan harga yang sangat mahal. Allah berfirman :

فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

“… maka mereka menyembelih sapi tersebut setelah mereka hampir tak melakukannya …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

Lalu, Nabi Musa ‘Alaihis Salam  memerintahkan mereka mengambil bagian tubuh dari sapi tersebut untuk dipukulkan ke jasad sang paman.

Sang Paman pun terbangun dan hidup lagi. Mereka bertanya kepadanya, “Siapa yang membunuhmu?” Ia menjawab, “Keponakanku.” Lalu, sang paman pun kembali tergeletak tak bernyawa. Allah berfirman:

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ . فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“ Dan ingatlah ketika kalian membunuh seseorang lalu kalian saling tuduh tentang hal itu, dan Allah menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan. Maka kami berfirman: pukullah mayat itu dengan bagian tubuh sapi itu. Begitulah Allah menghidupkan orang mati dan memperlihatkan kepada kalian ayat-ayat-Nya agar kalian mengerti.” (Q.S. Al-Baqarah 2: 72-73)

Peristiwa ini adalah sebuah mukjizat yang jika didengar oleh orang yang lemah iman, imannya akan menguat, jika disaksikan oleh orang yang lalai, ia akan ingat, dan jika dialami oleh seorang pendosa, ia akan tobat. Namun, tak demikian halnya dengan kaum Bani Israel. Bukan iman yang semakin meningkat, bukan keyakinan yang semakin mantap, setelah mereka melihat dengan mata kepala mereka seonggok mayit hidup kembali atas izin Allah, hati mereka malah menjadi keras. Allah berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ

“ Lalu, hati kalian mengeras setelah itu. Hati kalian seperti batu atau lebih keras lagi…” (Q.S. Al-Baqarah 2: 74)

Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi

Dari kisah ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran, diantaranya:

  • Hidayah itu mahal. Betapa banyak orang yang diharamkan dari nikmat hidayah ini sehingga ribuan ayat dan mukjizat yang mereka alami dan saksikan tak berefek bagi mereka. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa mensyukuri dan menjaga nikmat hidayah ini. Yang dengannya, lantunan ayat dan sholawat terasa manis di lidah. Dengannya, untaian nasehat terasa sejuk di hati. Dengannya, kaki terasa ringan melangkah menuju rumah Allah. Bukan hal yang aneh jika Allah memerintahkan kita untuk terus berdoa meminta hidayah kepada-Nya tak kurang dari 17 kali sehari. Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mengulang:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ

“Tunjukkilah kami jalan yang lurus…” (Q.S. Al-Fatihah 2: 6)

Hidayah itu mahal, mari kita syukuri dan kita jaga.

  • Diantara adab dalam bertanya adalah tidak menanyakan hal-hal yang tak ada faedahnya, yang justru malah akan mempersulit kita. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya akan menyusahkan kalian…”(Q.S. Al-Maidah : 101)

  • Setelah menukilkan kisah tersebut, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkomentar:

والظاهر أنها مأخوذة من كتب بني إسرائيل وهي مما يجوز نقلها ولكن لا تصدق ولا تكذب، فلهذا لا يعتمد عليها إلا ما وافق الحق عندنا، والله أعلم

“… Dan yang tampak adalah bahwasannya kisah tersebut diambil dari kitab-kitab Bani Israel, dan itu termasuk diantara hal-hal yang boleh dinukil tapi tidak dianggap benar dan tidak pula dianggap dusta. Oleh karenanya, hal tersebut tidak dijadikan sandaran kecuali yang sesuai dengan kebenaran di sisi kita, Allahu a’lam.”

Demikian artikel “Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi”, semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh:
Ustadz Rusli Evendi حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 


Sumber : Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Al-Hafizh Ibnu Katsir, Jilid 1, Cet. 2, Tahun 1998, Penerbit: Maktabah Darul Fiihaa, Damaskus.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS