AqidahArtikelKonsultasi

Tidak Bersyahadat di Akhir Hayat, Apa Amalannya Gugur?

Tidak Bersyahadat di Akhir Hayat, Apa Amalannya Gugur?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang tidak bersyahadat di akhir hayat, apa amalannya gugur?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz, apabila ada seseorang wafat tetapi tidak mengucapkan syahadat di akhir hayatnya dikarena-kan sakit tidak bisa berbicara.. Sudah berusaha menuntunnya untuk mengucapkan itu tetapi qadarullah tidak bersyahadat sampai ajal itu datang..
Apakah orang tsb mendapat azab kubur dan amalan amalannya selama hidup gugur ustadz?

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.
 

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, semoga Allah selalu membimbing kita di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Tanda Husnul Khotimah

Kebaikan manusia di akhirat ditentukan di akhir hidupnya. Dan di antara tanda-tanda husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik) adalah mengucapkan syahadat atau kalimat laa ilaha illa Alloh di akhir hayat.

Di dalam sebuah hadits yang shohih disebutkan:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ dia akan masuk surga.
(HR. Abu Dawud, no. 3116. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

2- Orang Yang Mati Tanpa Mengucapkan Syahadat

Bagaimana apabila ada seseorang wafat tetapi tidak mengucapkan syahadat di akhir hayanya, dikarenakan sakit, tidak bisa berbicara, atau lainnya?

Kita harus mengetahui bahwa tanda-tanda husnul khotimah bukan hanya mengucapkan syahadat di akhir hayat. Bahkan ada banyak tanda-tanda yang lain. Seperti seorang muslim yang meninggal di saat beribadah umpamanya.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: أَسْنَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِي فَقَالَ: ” مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ـ قَالَ حَسَنٌ: ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ـ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ 

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku menyandarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dadaku, lalu beliau bersabda,

“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah –Hasan berkata-: karena mengharapkan wajah Allah, yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.

Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah, yang dia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.

Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang dia mengiri hidupnya dengan amal tersebut maka dia masuk surga.
(HR. Ahmad 23324. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)

Atau tanda-tanda lainnya.

Kemudian bahwa kebiasaan kematian seseorang adalah seperti apa yang biasa dia lakukan di waktu hidupnya. Jika di saat hidupnya dia rajin dan istiqomah beribadah, insya Alloh dia akan mati di dalam kebaikan. Dan ketika seseorang mati di dalam kebaikan, maka dia akan dibangkitkan di dalam kebaikan pula.

Maka lihatlah, apakah orang tersebut ketika hidupnya rajin sholat lima waktu, bersedekah, dan ibadah lainnya?
Jika ya, maka berharaplah, semoga dia mendapatkan kebaikan.

3- Apakah Orang Tersebut Mendapat ‘Azab Kubur?

‘Azab kubur adalah haq, benar-benar ada. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah wal jama’ah.

Alloh Ta’ala berfirman tentang Fir’aun dan kaumnya:

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46 

Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.  Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.
(QS. Al-Mukmin/40: 45-46)

Imam Al-Qurthubi -rohimahulloh- mengatakan:  “Mayoritas ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil di dalam menetapkan adanya siksa kubur”. (Fathul Bari 11/233)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata:

دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِي إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِي صَلَاةٍ إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dua nenek Yahudi Madinah masuk menemuiku, keduanya mengatakan kepadaku: “Sesungguhnya orang-orang yang berada di dalam kubur disiksa di dalam kubur mereka”. Aku mendustakan keduanya, aku tidak senang membenarkan keduanya. Lalu keduanya keluar.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam  datang masuk menemuiku, maka aku berkata kepada beliau: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya dua nenek…”, aku menyebutkan kepada beliau.
Beliau bersabda: “Keduanya benar. Sesungguhnya mereka disiksa dengan siksaan yang didengar oleh binatang-binatang semuanya”. Kemudian tidaklah aku melihat beliau di dalam sholat setelah itu kecuali beliau berlindung dari siksa kubur”.
(HR. Bukhori, no. 6366; Muslim, no. 586)

Dan siksa kubur itu ada sebab-sebabnya, sebagaimana hadits Abdullah bin ’Abbas, dia berkata:

 مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya ini disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dalam perkara yang berat (untuk ditinggalkan). Yang pertama, dia dahulu tidak menutupi dari buang air kecil. Adapun yang lain, dia dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba)”.
Kemudian beliau mengambil sebuah pelepah kurma yang basah, lalu membaginya menjadi dua, kemudian beliau menancapkan satu pelepah pada setiap kubur itu.
Para sahabat bertanya: “Wahai Rosulullah, kenapa anda melakukannya”.
Beliau menjawab: “Semoga siksa keduanya diringankan selama belum kering”.
(HR. Bukhori, no. 218; Muslim, no. 292)

Akan tetapi tentang apakah orang ini atau itu disiksa di dalam kuburnya, maka ini perkara ghoib. Kita tidak boleh menduga-duganya, kecuali ada keterangan dari Al-Qur’an atau hadits.

4- Apakah Amalan-Amalan-nya Selama Hidup Gugur?

Jika orang itu kafir, maka seluruh kebaikannya di dunia tidak akan bermanfaat di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ

“Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang.Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”
(QS. Ibrahim/14: 18)

Adapun jika dia seorang muslim, maka pasti memiliki kebaikan yang akan menyebabkan keselamatannya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl/16: 97)

Semoga Alloh selalu memberikan bimbingan kebenaran dan kebaikan kepada kita semua, sehingga selamat di dunia dan di akhirat.

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Sabtu, 12 Rabiul Akhir 1442 H/ 28 November 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini

 

Baca Juga :  Dahulu Pernah Membuat Tempat Ibadah Orang Kafir, Bagaimana Taubatnya?

Ustadz Muslim Al-Atsary

Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen

Related Articles

Back to top button