Syarat Memperoleh Manfaat dari Al-Qur’an

Syarat Memperoleh Manfaat dari Al-Qur’an

Syarat Memperoleh Manfaat dari Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sumber penerang kehidupan. Setiap muslim meyakini Al-Qur’an bak lentera ajaib bagi hati yang dapat menerangi kelamnya ruang kalbu. Demikian pula dia tidak akan pernah ragu bahwa apa yang ada di Al Qur’an tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Itulah Kitab (Al Qur’an) yang tiada keraguan sedikitpun padanya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 2).

Jika anda ingin mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an, maka berkonsentrasilah membaca dan mendengarkannya. Perhatikan baik-baik dan posisikanlah diri sebagai orang yang sedang diajak bicara oleh Allah Ta’ala. Sebab, Al-Qur’an merupakan pesan dari Allah untuk kita yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya. Seperti itulah yang Allah isyaratkan melalui firman-Nya dalam surat surat Al-Qaf ayat 37

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya

Firman Allah Ta’ala :

(أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ)

Atau yang menggunakan pendengarannya
Maksudnya ia memusatkan pendengarannya kepada ayat Al-Qur’an yang dibacakan. Konsentrasi atau pemusatan pendengaran ini merupakan syarat untuk bisa mendapatkan pengaruh dari bacaan ayat Al-Qur’an.

Sedangkan firman Allah Ta’ala :

(وَهُوَ شَهِيدٌ)

Sedang dia menyaksikannya
Maknanya disini adalah menyaksikan dengan hati yang hadir (konsentrasi), tidak ghaib (lalai)

Ibnu Qutaibah menjelaskan, “Maksudnya, dia menyimak Kitabullah dengan hati yang konsentrasi dan memahami, tidak lalai dan tidak lengah. Ayat ini mengisyaratkan hal yang dapat menghalangi pengaruh Al-Qur’an, yaitu hati yang lalai dan tidak memahami ucapan yang ditujukan kepadanya. Hati seperti ini tidak menghayati dan merenungi apa-apa yang disampaikan tersebut.” (Tafsir Gharibul Qur’an halm 315)

Ibnu Qoyyim al jauziyah rahimahullah menjelaskan, “Jika engkau ingin mendapatkan manfaat, menghayati Al Qur’an maka kumpulkanlah (himpunlah) hatimu ketika membaca dan mendengarnya, simaklah dengan penuh perhatian dan hadirkanlah kehadiran Dzat yang mengajakmu berkomunikasi dengan Al Qur’an (Fawaidul Fawaid hal. 104-105 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA)

Kesimpulannya adalah, diantara faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menghayati dan mentadabburi peringatan yang ada dalam Al Qur’an adalah :

1. Adanya hati yang masih sehat
2. Menggunakan dan memfokuskan pendengaran
3. Tidak tersibukkannya hati dengan selain Al Qur’an, artinya hatinya benar-benar hadir ketika mendengar atau membaca Al Qur’an.

Orang yang mentadabburi (merenungi) al-Qur’ân seakan melihat proses tenggelamnya kaum Nûh juga Fir’aun beserta pengikutnya; Mereka juga seakan mendapati bekas-bekas petir yang menyambar kaum ‘Ad dan Tsamûd.

Orang yang mentadabburi al-Qur’ân akan mengetahui dan memahami hakikat jalan kebaikan beserta buah yang akan diraih oleh para pelakunya juga akan mengetahui hakikat jalan keburukan beserta akibat yang akan menimpa para pelakunya.

Bagaimana mungkin hati kita tidak nyaman untuk berdzikir kepadaNya, melestarikan kecintaan kepadaNya, rindu kepadaNya dan senang dan dekat denganNya, padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur tersebut tiada, maka rusak dan binasalah hati. Hidup pun tak lagi bermanfaat.

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi’ حفظه الله



(Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya, Mahasiswa S2 Magister Hukum Islam – Kelas Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta, Da’i Mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Kab. Semarang, Jawa Tengah)

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Saryanto Abu Ruwaifi حفظه الله  klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS