ArtikelKeluarga

Suami Baik tapi Mudah Marah, Bagaimana Menyikapinya

Pertanyaan: Assalamualaikum, Izin tanya ya ustadz, pernikahan saya masih seumur jagung, suami saya nafkah tetap jalan walau pas2an, baik saat baik, tetapi ibadah dan ilmu agama masih cenderung kurang.

Tetapi saat marah saya terus dimaki2, diancam2, sangat mengerikan, saya sangat takut.

Saya tidak ingin cerai, tapi disisi lain hati saya sakit sekali sampai susah untuk menghormatinya.

Apa yang harus saya lakukan ya ustadz? Apakah ini merupakan hasil dosa2 kami berpacaran lama dulu? Bagaimana prosedur dan tata caranya jika saya ingin rumah tangga ini dirahmati Allah.. Terima kasih

Jawaban: 

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته بسم الله، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد

Suami Baik, Tetapi Saat Marah Meledak-ledak, Memaki, dan Mengancam

Semoga Allah memberikan ketenangan kepada anti, memperbaiki keadaan suami anti, dan menjadikan rumah tangga anti sebagai rumah tangga yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Pertama, bersyukurlah kepada Allah 

karena anti menyampaikan bahwa suami masih menunaikan nafkah dan masih memiliki sisi-sisi kebaikan. Ini merupakan modal yang baik untuk memperbaiki rumah tangga. Namun, di sisi lain, kebiasaan memaki, menghardik, dan mengancam ketika marah adalah akhlak yang tidak dibenarkan dalam Islam dan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

‎لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).

Bahkan ketika ada seorang sahabat meminta nasihat, Rasulullah shallallahu hanya berulang kali mengatakan:

‎لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6116).

Hal ini menunjukkan bahwa marah yang tidak terkendali dapat menjadi pintu bagi banyak dosa, seperti mencaci, menghina, mengancam, bahkan melakukan kekerasan.

Apakah Ini Akibat Dosa Pacaran Dahulu?

Bisa jadi dosa-dosa masa lalu menjadi sebab hilangnya keberkahan atau ujian dalam rumah tangga, karena kemaksiatan memang memiliki dampak terhadap kehidupan seorang hamba. Jika dahulu pernah berpacaran, maka hendaknya kedua belah pihak benar-benar bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha.Allah berfirman:

‎وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Taubat yang benar akan menjadi sebab datangnya keberkahan dan pertolongan Allah.

Bagaimana Agar Rumah Tangga Dirahmati Allah?

Rumah tangga yang dirahmati Allah dibangun di atas ilmu, iman, dan akhlak yang baik, Allah berfirman:

‎وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19).

Suami hendaknya belajar bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlakukan istri-istrinya. Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya kepada keluarganya.

Dari Aisyah binti Abu Bakar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

‎خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 3895 dan dinilai shahih).

Karena anti juga menyebutkan bahwa ilmu agama suami masih kurang, maka cobalah mengajak beliau belajar agama secara bertahap. Bisa dengan mendengarkan kajian bersama, membaca buku-buku akhlak, atau menghadiri majelis ilmu. Tidak sedikit rumah tangga yang berubah menjadi lebih baik setelah suaminya mulai mengenal ilmu syar’i.

Apa yang Sebaiknya Anti Lakukan?

  1. Pilih waktu yang tepat untuk berbicara, bukan ketika beliau sedang marah. Sampaikan dengan lembut bahwa kata-kata kasar dan ancaman sangat melukai hati anti.
  2. Perbanyak doa agar Allah memperbaiki akhlak suami. Hidayah berada di tangan Allah.
  3. Dorong suami untuk menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah obat bagi banyak kerusakan akhlak.
  4. Bersabar selama tidak ada kezaliman yang membahayakan jiwa atau agama, karena memperbaiki seseorang membutuhkan waktu.
  5. Apabila kemarahan suami sudah mengarah kepada kekerasan fisik atau mengancam keselamatan anti, maka jangan dipendam sendiri. Libatkan orang tua, keluarga yang bijaksana, atau tokoh agama yang dihormati suami untuk melakukan islah (perdamaian dan perbaikan).

Allah berfirman:

‎وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا

“Jika kalian khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka utuslah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisa’: 35).

Ini adalah solusi syariat sebelum mengambil langkah yang lebih jauh.

Penutup

Jangan terburu-buru berkesimpulan bahwa rumah tangga anti tidak bisa diperbaiki. Selama suami masih memiliki keinginan untuk berubah, masih menunaikan kewajibannya, dan belum sampai pada kezaliman yang membahayakan, maka berusahalah memperbaiki rumah tangga dengan doa, kesabaran, ilmu, dan komunikasi yang baik.

Namun, pada saat yang sama, Islam juga tidak membenarkan seorang istri terus-menerus menjadi korban caci maki, ancaman, atau kekerasan. Karena itu, jika keadaan semakin memburuk, jangan ragu meminta bantuan keluarga atau pihak yang dapat membantu memperbaiki keadaan.

Semoga Allah memperbaiki akhlak suami anti, melunakkan hatinya, menjadikan beliau pemimpin keluarga yang bertakwa, dan mengumpulkan anti berdua dalam rumah tangga yang penuh rahmat hingga ke surga-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dijawab ringkas oleh : Ustadz Muhammad Fikri Al-Hilabi, S.Ag., M.Ag.

Back to top button