Penentuan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal

Penentuan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal

PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN DAN SYAWAL DENGAN BULAN-BULAN LAINNYA BERBEDA 

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Pertanyaan dari Sahabat BiAS :

Ustad, dalam sistem penanggalan Islam permulaan awal bulan Romadhon dan awal bulan Syawal selalu berbeda. Kenapa untuk 10 bulan lainnya awal bulannya tetap/sama/ tidak berbeda seperti awal Romadhon dan Syawal?

Jazzakallahu khairan, Ustad

(Disampaikan :Widya, Admin BiAS T07- G64)

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Yang pertama Islam itu bukan agama matematis, bukan agama hitung-hitungan, dan bukan agama akal.

Sesuatu yang benar secara astronomi belum tentu benar secara agama, sesuatu yang benar secara matematika belum tentu dianggap benar secara agama, dan sesuatu yang dianggap benar oleh akal belum tentu dianggap benar oleh agama kita.

Bukan berarti maknanya di sana ada pertentangan antara akal dengan agama. Tidak sama sekali, akan tetapi akal yang sehat pasti akan senantiasa sesuai dengan agama. Ketika ada pertentangan antara akal dengan agama, maka pasti ada sesuatu di dalam akal yang tidak pas.

Kewajiban kita sebagai umat Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah mentaati syariat yang dibawa oleh baginda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam secara umum.

Adapun dalam kasus penentuan awal dan akhir bulan, maka kita mengikuti instruksi penguasa dalam hal ini. Jika ternyata salah, maka kesalahan ditanggung oleh penguasa, karena di sana banyak dalil yang memerintahkan kita untuk mentaati penguasa.

Yang kedua bahkan ahlis sunnah wal jamaah sepakat akan kewajiban mengikuti penguasa dalam pelaksanaan shalat hari raya dan Shalat Jum’at. Disebutkan dalam Aqidah Imam Sufyan At-Tsauri yang diriwayatkan oleh Syu’aib bin Harb :

يَا شُعَيْبُ لا يَنْفَعُكَ مَا كَتَبْتَ حَتَّى تَرَى الصَّلاةَ خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ ، وَالْجِهَادَ مَاضِيً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , وَالصَّبْرَ تَحْتَ لِوَاءِ السُّلْطَانِ جَارَ أَمْ عَدَلَ ” . قَالَ شُعَيْبٌ : فَقُلْتُ لِسُفْيَانَ : يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ : الصَّلاةُ كُلُّهَا ؟ قَالَ : ” لا , وَلَكِنْ صَلاةُ الْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ , صَلِّ خَلْفَ مَنْ أَدْرَكْتَ , وَأَمَّا سَائِرُ ذَلِكَ فَأَنْتَ مُخَيَّرٌ , لا تُصَلِّ إِلا خَلْفَ مَنْ تَثِقُ بِهِ , وَتَعْلَمُ أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

“Wahai Syu’aib tidak bermanfaat apa yang engkau tulis sampai engkau berpendapat wajibnya shalat di belakang penguasa yang baik ataupun penguasa yang jahat. Dan jihad akan terus ada sampai hari kiamat dan wajib bersabar di bawah panji penguasa yang jahat maupun penguasa yang adil.

Syu’aib menyatakan : Wahai Abu Abdillah ; Apakah seluruh shalat ?

Sufyan menjawab : Tidak, akan tetapi Shalat Jum’at dan shalat hari raya, shalatlah di belakang penguasa yang engkau ketahui.

Adapun shalat-shalat selainnya, maka engkau bebas memilih, jangan engkau shalat kecuali di belakang orang yang engkau percayai dan engkau ketahui ia merupakan ahlissunnah.”

(Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah : 1/154 Oleh Hibatullah Al-Lalaka’i).

Imam Harb menghikayatkan ijma’ (konsensus) para ahli ilmu atas hal ini (wajibnya Shalat Jum’at dan shalat hari raya) di dalam Masaail beliau yang sangat terkenal, lantas dikatakan di dalamnya :

ذه مذاهب أهل العلم وأصحاب الأثر وأهل السنة المتمسكين بها المقتدى بهم فيها من لدن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا وأدركت عليها من علماء الحجاز والشام وغيرهما وغيرهم عليها فمن خالف شيئًا من هذه المذاهب أو طعن فيها أو عاب قائلها فهو مبتدع خارج من الجماعة زائل عَنْ منهج السنة وسبيل الحق

“Ini adalah merupakan madzhabnya para ahli ilmu dari kalangan ahli atsar dan ahlissunnah yang berpegang teguh dengan sunnah. Mereka wajib diteladani dalam hal pengamalan sunnah, dari kalangan para sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam hingga hari ini.

Dan aku mendapati ajaran ini ada pada para ulama Syam, Hijaz, dan negri-negri yang lain. Barangsiapa menyelisihi sedikit saja dari madzhab ini atau mencelanya, atau mencaci orang yang menganutnya, maka ia adalah ahli bid’ah yang keluar dari jamaah, tergelincir dari sunnah dan jalan kebenaran.” (Lihat Hadyul Arwah : 399 oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah).

Yang ketiga kenapa kaum muslimin berselisih dalam penetapan awal bulan, jawabnya adalah karena mereka tidak mengikuti instruksi penguasa dalam masalah ini.

Yang kami tahu di era tahun 90-an ketika kami masih kecil, kaum muslimin sepakat bersama-sama di dalam penetapan awal Ramadhan dan pelaksanaan shalat hari raya. Adapun zaman ini tidak kompak lagi karena banyak yang tidak mengindahkan instruksi penguasa.

Wallohu A’lam,
wabillahit taufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Admin Akhwat Bimbingan Islam
Ahad, 29 Rajab 1439H / 15 April 2018M

 



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA فظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA فظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS