Adab & Akhlak

Solusi Jika Perusahaan Melarang Menumbuhkan Jenggot

Solusi Jika Perusahaan Melarang Menumbuhkan Jenggot

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan solusi jika perusahaan melarang menumbuhkan jenggot. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya. Ana bekerja di sebuah perusahaan, perusahaan tersebut membuat peraturan tidak boleh memanjangkan kumis dan jenggot, saat ini ana membiarkan jenggot ana tumbuh karena anjuran dari hadis Rasulullah. Mana yang harus ana laksanakan? Menaati aturan perusahaan atau perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam. Jazakallahu khairan.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

Dalam banyak Hadist Nabi sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan memanjangkan jenggot, di antaranya Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda:

خالفوا المشركين: وفروا اللحى، وأحفوا الشوارب

Baca Juga :  Sedekah Dengan Nama Keluarga yang Telah Meninggal

“Selisihilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggotmu tumbuh lebat dan rapikanlah kumis”. (HR. Bukhari no. 5892)

Dalam riwayat lain, rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam– bersabda:

جزوا الشوارب، وأرخوا اللحى خالفوا المجوس

“Potonglah kumis dan biarkanlah jenggotmu tumbuh memanjang, selisihilah orang-orang majusi”. (HR. Muslim no. 260)

Dan dalam riwayat lain, beliau juga bersabda:

أعفوا اللحى وخذوا الشوارب وغيروا شيبكم ولا تشبهوا باليهود والنصارى

“Peliharalah jenggot dan ambillah kumis dan ubahlah warna uban kalian dan jangan meniru-niru orang yahudi dan nashrani”. (HR. Ahmad no. 5670; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Ahmad Syakir)

Ketaatan pada Allah dan rasulnya lebih dikedepankan dari ketaatan pada makhluk, jika aturan yang dibuat makhluk/manusia menyelisihi aturan Allah dan Rasulnya, maka kita lebih mengedepankan ketaatan pada Agama, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ.

Artinya: “tidak ada ketaatan di dalam kemaksiatan kepada Allah sesungguhnya ketaatan hanya di dalam hal yang ma’ruf.” HR. Bukhari dan Muslim.

Saran saya, Anda bisa bernegosiasi dengan pihak perusahaan untuk mendapat pengecualian dalam peraturan, diusahakan terlebih dahulu untuk membuka diskusi dan komunikasi. Jika Anda sudah meminta pengecualian dan pihak perusahaan tidak menerima, maka apa boleh buat, Anda harus lebih mengedepankan aturan agama dibandingkan aturan manusia. Misal ada konsekuensi Anda diberlakukan potongan gaji atau sanksi yang lain, maka yang demikian lebih baik daripada Anda menyelisihi aturan Allah dan Rasulnya. Demikian, wallahu alam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Selasa, 1 Jumadil Akhir 1443 H/ 4 Januari 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button