Siapa Saja Mahram Kita (Bagian 1)?

Siapa Saja Mahram Kita (Bagian 1)?

Siapa Saja Mahram Kita (Bagian 1)?

Para pembaca yang budiman, beberapa waktu yang lalu penulis mendapatkan kabar  yang tertulis via email yang justru membuat hati penulis teriris-iris pedih. Bagaimana tidak karena ada seorang muslimah yang mencintai pamannya (adik ibunya) & ingin menikah dengannya, padahal ibunya tidak merestuinya, sang ibu menolak bukan karena tahu bahwasanya seseorang itu haram menikah dengan anak saudaranya, akan tetapi dikarenakan sebab lain.

Kemudian muslimah tadi melarikan diri & menikah dengan pamannya dan sudah memiliki anak, dan wanita muslimah tadi meminta saran apa yang seharusnya dilakukan karena ia ingin meminta maaf pada ibunya.

Sampai sejauh ini penyimpangan yang terjadi dan kesemuanya tidak terlepas dari eksistensi kejahilan & kelalaian atas ilmu islam yang banyak menimpa masyarakat kaum muslimin hari ini. Karena jauhnya kita dari majelis-majelis ilmu.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Yang maknanya :
“Ya Allah sesungguhnya kami telah menzalimi diri-diri kami, apabila Engkau tidak mengampuni & menyayangi kami, niscaya kami adalah termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS Al A’raf : 23).

Dalil Mahram Dalam Al-Qur’an

Pembahasan kita kali ini tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi atau sering disebut mahram. Dalil secara umum tentang mahram adalah firman Allah ta’ala,

وَلَا تَنكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

Yang maknanya :
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan.”
(QS An Nisa’ : 22)

Allah juga berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Yang maknanya:
“Diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS An Nisa’ : 23).

Sebagian kita salah faham didalam menyebut orang-orang yang haram untuk dinikahi, lalu kita mengatakan muhrim untuk orang yang haram kita nikahi, padahal ini sebuah kesalahan, karena muhrim maknanya orang yang melakukan ihram, sedangkan mahram adalah orang yang haram untuk kita nikahi.
(Lihat shahih fiqih sunnah : 3/76 oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim).

Wanita yang Selamanya Haram Dinikahi (Mahram Permanen)

Berdasarkan ayat-ayat QS An Nisa’ :  22-23 diatas kita simpulkan (sebagaimana hal ini disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab fiqih) bahwa wanita-wanita yang haram dinikahi itu secara global ada dua, yang haram secara permanen dan haram sementara. Yang haram secara permanen adalah sebagai berikut :

1. Mahram Dikarenakan Nasab

Tujuh orang dikarenakan sebab pertalian nasab mereka adalah :

  • Ibu ke atas (maksudnya termasuk nenek dari jalur  ayah maupun ibu, nenek buyut dari ayah maupun ibu, dan seterusnya).
  • anak perempuan ke bawah (maksudnya termasuk juga cucu, cicit, dan seterusnya), termasuk pula anak dari hasil perzinaan, ia haram bagi ayahnya. Meskipun secara hukum syar’i ia bukan anaknya tapi secara biologis ia tetap anaknya.
  • saudara perempuan secara mutlak.
  • anak-anak/keturunan saudara perempuan ke bawah (keponakan & keturunannya).
  • anak-anak/keturunan saudara lelaki ke bawah (keponakan & keturunannya).
  • lalu bibi dari jalur ayah, terus ke atas (maksudnya termasuk juga bibinya ayah kita, bibinya kakek kita maupun bibinya ibu kita atau bibinya nenek kita, dan seterusnya).
  • bibi dari jalur ibu terus ke atas ( maksudnya termasuk juga bibinya ayah, bibinya kakek,  maupun bibinya ibu atau bibinya nenek, terus keatas).

(Lihat Asy Syarhul Mumti’ syarah zaadil mustaqni’ : 12/110 oleh Al Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah)

2. Mahram Dikarenakan Sebab Persusuan

Tujuh orang dikarenakan sebab persusuan.

Rincian dari 7 point  ini adalah sama dengan ke 7 point yang sebelumnya. Hanya saja yang membedakannya, yang pertama karena sebab pertalian nasab sedang yang kedua karena persusuan. Dalil akan hal ini adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Diharamkan untuk persusuan itu sebagaimana apa yang diharamkan karena pertalian nasab”.
( HR Bukhari : 2645).

Berkata Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin rahimahullah ketika menjelaskan 7 orang yang haram dinikahi karena sebab persusuan :
“Maksudnya adalah, termasuk haram dinikahi dengan keharaman yang permanen adalah 7 orang yang haram dinikahi karena sebab persusuan, rinciannya sebagai berikut :

  • Wanita yang menyusui kita maka menjadi ibu kita & haram dinikahi.
  • Anak wanita yang menyusu pada istri kita maka menjadi anak kita & haram dinikahi.
  • Anak wanita yang menyusu pada ibu kita maka ia menjadi saudari kita & haram dinikahi.
  • Anak wanita yang menyusu pada istri saudara lelaki  kita maka menjadi keponakan kita & haram dinikahi.
  • Anak wanita yang menyusu pada saudara perempuan  kita (entah kakak kita atau adik kita) maka menjadi keponakan kita & haram dinikahi
  • Anak wanita yang menyusu pada nenek kita dari jalur bapak,  maka menjadi bibi kita & haram dinikahi.
  • Anak wanita yang menyusu pada nenek kita dari jalur ibu, maka me njadi bibi kita & haram dinikahi.”

(Lihat Ibhajul mu’minin syarah manhajis salikin : 2/224-225 oleh Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin rahimahullah)

Syarat Wanita Persusuan Menjadi Mahram

Akan tetapi ada hal yag harus kita perhatikan terkait sah & tidaknya sebuah proses penyusuan itu. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah (beliau adalah mufti umum kerajaan arab saudi sebelum Syaikh  Ibnu Baaz ) menyatakan bahwa para ulama menganggap sah proses penyusuan itu & bisa menyebabkan adanya pertalian darah apabila memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Proses menyusui tersebut minimal lima kali susuan dengan tempat & waktu yang berlainan.

Berdasarkan hadis ‘A’isyah
“Al qur’an menetapkan bahwa susuan yang membuat seseorang menjadi mahram itu 10x susuan, lalu hal tersebut dinasakh/dirubah menjadi 5x susuan saja”.
(HR Muslim : 1452 & dishahihkan oleh Al Imam Al Albani rahimahullah dalam  irwa’ul gholil : 7/218 hadis no : 2147).

2. Proses menyusui tersebut terjadi ketika si anak berusia kurang dari dua tahun. Berdasarkan firman Allah ta’ala,

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Yang maknanya :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”
(QS Al Baqarah : 233).

3. Proses menyusui tadi memang memberikan pengaruh bagi pertumbuhan jasad si anak.

Berdasarkan sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Susuan itu adalah yang mengenyangkan usus & terjadi sebelum anak disapih”.
(HR Tirmidzi : 1152 & beliau berkata, “Hadis hasan shahih”, hadis ini dishahihkan oleh Al Imam Al Albani dalam irwa’ul gholil : 7/221 hadis no 2150, lihat pula majmu’ fatawa war rasaa’il Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu syaikh : 10/126).

3. Mahram Dikarenakan Pernikahan

Empat orang dikarenakan sebab pernikahan, mereka adalah :

• Ibu dari istri kita terus ke atas (mertua atau ibunya mertua dst).

Dan seseorang akan menjadi mertua kita apabila telah terjadi akad nikah walaupun kita belum menyetubuhi istri kita. Ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu berdasarkan keumuman ayat “Dan ibu dari istri-istri kalian”. Ini berbeda dengan anak tiri yang baru menjadi mahram kita setelah kita menyetubuhi ibunya (istri kita).

Jadi seandainya kita menikahi seorang wanita yang memiliki anak, dan wanita tadi mati dalam keadaan kita belum menyetubuhinya, maka diperbolehkan bagi kita menikahi anaknya. Sebaliknya bila kita sudah menyetubuhi wanita tadi maka anaknya menjadi haram kita nikahi selamanya & ini adalah kesepakatan para ulama’.
(Lihat jami’ ahkamin nisa’ : 3/87 oleh Syaikh Mustofa Al ‘Adawi).

• Anak dari istri kita/anak tiri apabila kita telah menyetubuhi ibunya (istri kita) terus ke bawah (maksudnya termasuk juga anak dari anak tiri kita, atau cucu dari anak tiri kita dst).

Al Imam Ahmad pernah ditanya,
“Seorang lelaki menikahi seorang wanita yang telah memiliki anak, lalu wanita tadi mati, apakah boleh lelaki tadi menikahi anak tirinya ? beliau menjawab, “Tidak boleh, tidak boleh pula menikah dengan keturunan anak tiri”.
(Lihat Masa’il imam Ahmad : 2/29 tahqiq Syaikh Fadhlurrahman bin Muhammad).

• Istri dari bapak kita/ibu tiri kita terus keatas (maksudnya termasuk juga istri kakek dari jalur ayah maupun istri kakek dari jalur ibu dst semuanya adalah mahram bagi kita). Walaupun ia telah diceraikan ayah kita ia tetap menjadi mahram bagi kita selamanya.

• Istri dari anak-anak kita/menantu terus kebawah (maksudnya termasuk juga istri dari cucu kita, istri dari cicit kita dst), merupakan mahram kita.

(Lihat Ibhajul mu’minin syarah manhajis salikin : 2/226-227 oleh Syaikh Abdullah Al Jibrin rahimahullah).

4. Para Istri Rasulullah Tidak Boleh Kita Nikahi

Para istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala,

 وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا

“Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”
(QS Al Ahzab : 53).

Berkata Al Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Mereka haram untuk kita nikahi sampai hari kiamat, hanya saja bagi kita waktu tersebut telah habis karena seluruh istri-istri nabi telah wafat”.
(Asy syarhul mumti’ syarah zaadil mustaqni’ : 12/107-108 oleh Al Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah).

5. Wanita yang di LI’AN oleh suaminya haram bagi suaminya selamanya

Wanita yang dituduh berzina oleh suaminya tapi ia tidak mau mengakuinya, dan suaminya tidak bisa mendatangkan bukti & saksi. Kemudian bila si istri minta ditegakkan hukum qodhaf maka menjadi maka Qodhi memanggil mereka dan meminta pada suami untuk bersumpah lima kali bahwa istrinya telah berdusta & pada sumpah yang ke-5 ia menyatakan bahwa laknat Allah akan menimpanya bila ia berdusta.

Lalu qodhi meminta si istri untuk bersumpah lima kali, pada sumpah yang ke-5 si istri menyatakan bahwa kemurkaan Allah akan menimpa dirinya bila suaminya benar dalam tuduhannya. Apabila ini sudah dilakukan maka keduanya dipisahkan & haram untuk menikah lagi selamanya.
(Lihat Asy Syarhul mumti’ : 12/111).

Pembaca yang budiman sampai disini pembahasan kita tentang wanita-wanita yang haram kita nikahi untuk selama-lamanya, adapun wanita yang haram untuk dinikahi dalam jangka waktu tertentu akan kita bahas pada lain waktu insya’Allah. Terhadap mereka inilah kita mengatakan “Aku tidak akan menikahi kamu”.

Wallahu a’lam bish showab, semoga bermanfaat & akhir dari seruan kami adalah anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS