Apa Sebab Allah Menyiksa Hambanya

Apa Sebab Allah Menyiksa Hambanya

Pertanyaan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kenapa Allah membalas orang-orang yang durhaka kepada-Nya dengan penderitaan meskipun para pendosa itu sudah bertaubat? Bukankah mudah bagi Allah untuk memberikan ampunan? Dan bukankah tidak ada guna nya bagi Allah dengan menyiksa mereka?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Ditanyakan oleh Sabahat BiAS T04 G-49

Jawab:

Pertama: Kita harus tahu bahwa Allah berkuasa mutlak terhadap diri kita. Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya dan memprotes keputusan-Nya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ (23)

Dia (Allah) tidak akan ditanya terkait apa pun yang Dia lakukan, namun mereka (manusia) lah yang akan ditanya. (Al Anbiya’: 23).

Kedua: Perhatikan ayat-ayat di surah Al Buruj berikut beserta penjelasan ulama tentangnya:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10) إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11) إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ (12) إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13) وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (16)

(10) Sesungguhnya mereka yang menyiksa kaum mukminin dan mukminat kemudian tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan siksa yang membakar.

(11) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Itulah keberuntungan yang besar.

(12) Sesungguhnya, siksa Rabbmu sangatlah pedih.

Penjelasan: Imam Burhanuddin Al Biqa’i dalam tafsir Nadhmud-durar mengatakan,

“Berhubung tidak ada yang dapat memberi pahala maupun menyiksa dengan cara seperti ini melainkan Dzat yang memiliki puncak segala keagungan; maka Allah menjelaskan alasan perbuatan-Nya (yang dapat memberi pahala sekaligus menyiksa sedemikian rupa) tadi, yaitu karena Dia memiliki keagungan yang tak dapat dijangkau oleh akal fikiran manusia (termasuk fikiran anda dan saya).

Kemudian Allah menegaskan kepada musuh-musuh-Nya yang mengingkari hal ini, bahwa “Sesungguhnya siksa Rabbmu sangatlah pedih”.

Jadi, ketika Dzat yang demikian banyak anugerah dan karunia-Nya tadi sampai menyiksa orang-orang yang kafir dan memusuhi agama-Nya; maka siksaan-Nya akan sangat pedih sekali.

Nah berhubung siksaan yang teramat sangat pedih tadi tidak mungkin dilakukan kecuali oleh Dzat yang memiliki kemampuan dan kekuasaan mutlak, maka Allah kembali menjelaskan bukti kekuasaan dan kemampuan-Nya yang bersifat mutlak tadi, yaitu dalam ayat berikutnya:

(13) Sesungguhnya, Dia-lah (Allah) yang memulai penciptaan dan yang akan mengembalikannya lagi.

Penjelasan: “Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa hanya Dia lah yang mampu menciptakan makhluk dalam bentuk dan rupa yang Dia kehendaki; kemudian setelah mematikan makhluk tersebut, Dia pula yang akan menghidupkannya kembali pada waktu yang Dia kehendaki. Adapun selain Dia, maka tidak mungkin dapat melakukan hal ini sedikitpun.

Nah, setelah Allah Ta’ala menjelaskan tentang siksa-Nya, dan pihak yang mampu melakukan kekerasan belum tentu mampu berlemah lembut… kalaupun mampu berlemah lembut, maka belum tentu mampu bersikap sangat lembut yang luar biasa. Dan tidak ada pihak yang dapat menghapuskan dosa-dosa secara total sampai ke bekas-bekasnya bagi siapa saja, sehingga pelakunya tidak lagi mendapatkan hukuman maupun cibiran dari siapa pun; melainkan Dzat yang mampu melakukan segalanya.

Oleh karena itu, Allah menjelaskan itu semua sebagai bukti/dalil bahwa Dia-lah Yang Dapat Berbuat Semaunya. Allah juga menegaskan bahwa perbuatan Allah itu di luar batas-batas kewajaran, yaitu dalam ayat berikutnya:

(14) Dialah yang Maha Pengampun, dan Maha Pecinta

Artinya, Allah sanggup menghapuskan dosa-dosa hamba sekaligus bekas-bekasnya jika Ia berkehendak, sehingga si hamba tidak lagi merasakan ketidaknyamanan akibat dosanya sama sekali. Dia pula yang memperlakukan hamba yang dikehendakinya tadi dengan perlakuan seorang pecinta ketika memenuhi permintaan pihak yang dicintainya. Dia akan mencurahkan cinta yang demikian besar dan luas kepada si hamba yang telah dihapuskan dosanya tadi, dan menanamkan perasaan kasih sayang di hati manusia lainnya terhadap si hamba tersebut. Allah lantas semakin menegaskan hal ini dengan menyebutkan keistimewaan diri-Nya yang tidak dipungkiri oleh siapa pun.

Sekaligus sebagai penghormatan bagi makhluk-Nya yang satu ini, dan bahwasanya ia merupakan makhluk paling agung. Yaitu dalam ayat berikutnya:

(15) Dialah yang Memiliki ‘Arasy (singgasana) lagi Maha Terpuji

Yakni, dialah yang yang memiliki singgasana kerajaan yang menunjukkan diri-Nya sebagai penguasa tunggal, pemimpin, dan pengatur alam semesta yang menjadi tumpuan segala sesuatu. Dan Dia juga Maha Mulia dan Maha Agung dalam hal dzat-Nya maupun sifat-sifat-Nya yang indah, yang Maha Tinggi dalam memberi karunia.

Nah, berhubung segala keistimewaan ini jelas menunjukkan bahwa Allah itu memiliki kekuasaan yang sempurna, maka muncullah firman Allah berikutnya:

(16) Dia Maha Melakukan apa yang Dia inginkan.

Yakni, Allah menekankan dan mengulang-ulang bahwa diri-Nya benar-benar mampu mewujudkan semua keinginannya tanpa merasa berat atau kesulitan sedikitpun. Baik hal tersebut dengan melakukannya secara langsung tanpa perantara atau melalui perantaraan makhluk-Nya.”

Jadi, Allah tidak akan menyiksa kembali orang-orang yang sudah bertaubat kepada-Nya, selama taubat tersebut dilakukan sesuai aturan Allah, bukan semaunya atau asal-asalan.

Allah bebas secara mutlak untuk menjadikan seseorang itu menderita di dunia… siapa pun yang protes tentang hal ini tidak akan digubris. Akan tetapi tahukah anda bahwa penderitaan tersebut terjadi karena banyak kemungkinan:

1- Mungkin karena si hamba masih banyak dosa terhadap Allah yang tidak disadari olehnya, sehingga otomatis ia belum bertaubat darinya. Sehingga melalui musibah/penderitaan di dunia tersebut dosa-dosanya digugurkan oleh Allah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits sahih, bahwa segala beban pikiran, kesedihan, keletihan, penyakit bahkan rasa nyeri tertusuk duri yang menimpanya; adalah sebagai kaffarat (penghapus) dosa-dosanya.

2- Mungkin saja karena Allah hendak menghukumnya akibat dosa-dosa tertentu agar dia jera atau agar dia terhindar dari hukuman yang lebih berat di akhirat.

3- Mungkin saja itu bagian dari siksa Allah yang disegerakan bagi orang kafir di dunia. Sebelum siksa yang lebih pedih di akhirat nanti.

4- Atau mungkin saja karena Allah ingin mengangkat derajat si hamba dengan memberinya berbagai ujian berat, namun bila ia bisa melaluinya dengan sabar maka pahalanya sangat luar biasa. Dan Allah lebih tahu mana yang lebih baik bagi hamba-Nya daripada hamba itu sendiri.

Adapun pertanyaan terakhir bukankah tidak ada gunanya bagi Allah untuk menyiksa hamba-Nya?

Jawabnya: Benar. Karena Allah memang tidak pernah membutuhkan apa pun dan siapa pun. Sehingga semua yang Dia ciptakan bukanlah diciptakan karena bermanfaat bagi diri-Nya. Bahkan kalau lah seluruh umat manusia beserta jin-nya menjadi makhluk yang paling kafir sekalipun; Allah tetap saja tidak berkurang kekuasaan-Nya. Demikian pula sebaliknya jika mereka semua menjadi makhluk yang paling bertakwa; Allah tidak bertambah kekuasaan-Nya.

Jadi, Allah memang tidak butuh untuk menciptakan kita, memberi kita rezeki, memberi kita kasih sayang, menyembuhkan kita, menolong kita, menyiksa kita, dan sebagainya… tapi itu semua Allah lakukan karena suatu hikmah.

Bedakan antara melakukan sesuatu atas dasar hikmah dengan melakukan sesuatu karena hajat (kebutuhan).

Semua perbuatan dan keputusan Allah pasti mengandung hikmah, namun sedikitpun Allah tidak berhajat kepadanya.

Apa hikmahnya? Kita mungkin saja bisa menyimpulkan, atau diberitahu oleh Allah namun mungkin saja kesulitan menyimpulkannya dan tidak diberitahu oleh Allah.

yang penting bagaimana nasib kita di akhirat nanti, jadi tidak usah banyak protes karena protes kita tidak ada gunanya sedikitpun. Tidak ada seorang pun yang akan membela kita di hadapan Allah, sebab Dia lah yang Maha Adil, Maha Bijak, dan Maha Berkuasa.

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS