Manhaj

“REVISI” Mahasiswa Diwajibkan Demo ?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta, saya diwajibkan untuk hadir di demo, esok hari dalam rangka ‘aksi bela islam’ dan menyeret penghina agama ke penjara, long march, sekilas ini terlihat seperti solidaritas sesama kaum muslim, di sisi lain hati saya gundah, karena ini bukan caranya para ulama salaf,, lantas jika saya diam, apakah saya termasuk orang yang tak perduli dengan agama? dan apakah demo itu solusi? bagaimana solusi atas hal ini ?

بَارَكَ اللّهُ فِيْكُمْ

(Dari Agung di Bekasi Anggota Group WA Bimbingan Islam NO6 G-26)

Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Berhubung even-nya telah berlalu, maka saya akan menjawab secara umum agar bisa menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam kasus-kasus yang serupa.

Demonstrasi, unjuk rasa, atau cara-cara menyampaikan aspirasi dari rakyat kepada penguasa; termasuk juga cara-cara yang digunakan untuk mempengaruhi pihak lain; semuanya adalah CARA/WASILAH untuk mencapai suatu tujuan. Itu semua BUKANLAH TUJUAN UTAMA. Nah, bila sifatnya adalah cara/wasilah, maka harus ditinjau dari dua sisi:

Pertama: Ditinjau dari sisi cara yang dipakai untuk menyampaikan aspirasi tersebut, atau untuk mewujudkan tujuan tersebut; apakah cara tersebut diperintahkan oleh syariat? Ataukah diperbolehkan (tidak diperintahkan maupun dilarang oleh syariat)? Ataukah justru dilarang oleh syariat?
Kalau ia termasuk yang diperintahkan, berarti jelas boleh dilakukan.

Contohnya berjalan kaki ke mesjid untuk shalat berjamaah, atau bekerja untuk mencari rezeki, atau mengunjungi karib kerabat dalam rangka mengajak mereka kepada ajaran Allah… dan seterusnya.

Namun kalau ia termasuk yang dilarang dalam agama, maka ditinjau lebih lanjut apakah larangan yang sifatnya memakruhkan ataukah yang sifatnya mengharamkan? Kalau haram ya berarti haram dipakai untuk tujuan apapun itu. Walaupun tujuannya 100% syar’i.

Seperti orang yang mencuri agar dapat bersedekah, atau mendepositokan uangnya di bank agar mendapat bunga riba untuk membiayai proyek-proyek sosial, atau berbisnis dengan membangun tempat wisata di negeri kaum muslimin yang tempat tersebut akan menjadi ajang perzinaan, perjudian, mabuk-mabukan maka tentu semua cara/wasilah ini hukumnya HARAM TANPA DIRAGUKAN SEDIKITPUN, sebab cara tersebut mengandung hal-hal yang diharamkan dengan sendirinya.
Namun jika larangannya ‘hanya’ bersifat makruh, ya berarti cara tersebut hukumnya makruh.
Adapun cara-cara yang sifatnya mubah, inilah yang diperselisihkan oleh para ulama antara yang membolehkan dengan yang melarang.

Alasan mereka yang melarang ialah karena mereka menganggap bahwa cara untuk mewujudkan tujuan yang syar’i (ibadah) itu sifatnya ta’abbudiyyah (yakni bagian dari ibadah itu sendiri), yang berarti tidak boleh keluar dari ajaran yang terkandung dalam dalil-dalil syar’i atau yang dapat dikiaskan kepada dalil-dalil tersebut.

Namun yang lebih tepat -insya Allah- adalah bahwa yang namanya CARA/WASILAH atau jalan untuk mencapai suatu maksud adalah tidak bisa dibatasi bentuknya. Semua cara tersebut hukumnya sesuai dengan hukum tujuan/maksudnya. Jadi, untuk menilai hukum suatu cara hendaklah dilihat dari sisi: APAKAH DIA DILARANG ATAUKAH TIDAK? Bukan apakah dia diperintahkan ataukah tidak.

Dengan kata lain, dalam pembahasan tentang wasilah/cara, kita hanya perlu memastikan bahwa cara ini tidak dilarang oleh syariat, bukan adakah perintah/anjuran untuk melakukannya dalam syariat. Jika memang tidak ada larangannya, berarti syariat kita membolehkan atau tidak mempermasalahkannya.

Kedua: Ditinjau dari segi maksud/tujuannya. Sebab hukum tujuan/maksud dari suatu perbuatan akan menentukan hukum cara/wasilah yang digunakannya, sesuai dengan perincian yang tadi telah dijelaskan. Makanya para fuqaha’ sering mengatakan bahwa cara itu dihukumi sesuai dengan maksudnya. Kalau maksudnya bersifat syar’i dan memang diperintahkan dengan sendirinya, maka semua cara yang tidak dilarang untuk mewujudkan tujuan tersebut juga menjadi syar’i.

Membela kesucian Al Qur’an, kehormatan Islam, dan para ulama adalah tujuan yang syar’i/diperintahkan oleh syariat. Dalil untuk masalah ini cukup banyak, salah satunya perintah Allah kepada orang-orang beriman agar menjadi Anshaarullaah (penolong-penolong agama Allah) (QS As Shaff: 14).

Jadi, setiap cara baik klasik maupun modern yang tidak dilarang, yang diduga kuat dapat mewujudkan tujuan yang syar’i tersebut -yakni menolong dan membela agama Allah- maka ia boleh digunakan, bahkan diperintahkan sesuai dengan besar kecilnya pengaruh cara tersebut dalam mewujudkan maksud yang syar’i tadi.

Sebagaimana diketahui, setiap bangsa/masyarakat punya cara sendiri-sendiri dalam mengungkapkan aspirasinya. Dan syariat tidak melarang penggunaan suatu cara atau mengharuskan penggunaan cara tertentu saja dalam hal ini. Bila ada yang berpendapat bahwa syariat islam melarang suatu cara tertentu, atau memaksa  pemeluknya untuk hanya menggunakan cara tertentu; maka dia tidak memiliki dalil syar’i maupun logika dalam hal ini.

Bolehnya menggunakan cara yang tidak terlarang untuk mewujudkan tujuan syar’i tersebut adalah sejalan dengan maksud utama dan kaidah utama dalam syariat, bahkan didukung oleh peristiwa-peristiwa sejarah yang dialami kaum muslimin sejak abad pertama hijriyah.

Jika demikian faktanya, maka menurut hemat saya, demonstrasi boleh saja dilakukan dalam rangka membela agama Allah di negeri ini, namun dengan syarat-syarat berikut:

1- Khusus diikuti oleh laki-laki dewasa. Adapun wanita tidak boleh ikut demo. Karena wanita diperintahkan untuk berada di rumah dan bukan keluyuran kesana kemari, apalagi dengan campur baur di jalanan dengan lelaki yang bukan mahram (lihat Al Ahzab: 33).

2- Demo tersebut tidak boleh menimbulkan madharat yang lebih besar daripada manfaat yang diharapkan. Contohnya, mendemo penghina islam dengan tuntutan agar dipenjara, akan tetapi cara demonya dengan merusak fasilitas umum dan melawan aparat keamanan sehingga terjadi pertumpahan darah… ini jelas madharat yang jauh lebih besar daripada dipenjaranya si penghina Al Qur’an. Karena dalam hadits yang shahih disebutkan:

«قَتْلُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا»

Terbunuhnya seorang mukmin lebih berat di sisi Allah daripada musnahnya dunia. HR. Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih namun mauquf, akan tetapi ia dihukumi sebagai hadits marfu’.

3- Keikutsertaan seseorang dalam demo tidak boleh berkonsekuensi ditinggalkannya tugas dan kewajiban dirinya. Sebab kalaupun demo menjadi cara yang syar’i, maka paling banter ia bersifat fardhu kifayah yang bila telah dilakukan oleh sebagian kaum muslimin maka yang lainnya tidak wajib ikut serta, sedangkan kewajiban pribadi seseorang yang sifatnya fardhu ‘ain tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun. Misalnya, seseorang yang sedang merawat keluarganya yang sakit, atau yang terikat pada suatu kewajiban tertentu, maka ia tidak boleh meninggalkan kewajiban pribadi tersebut hanya untuk sesuatu yang paling banter menjadi fardhu kifayah.

4- Harus ada antisipasi yang maksimal terhadap terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan akibat ulah provokator dan pihak-pihak yang memancing di air keruh. Sebab makin besar peserta demo maka makin besar pula peluang terjadinya chaos di lapangan, yang berakibat pada kerugian harta benda kaum muslimin sendiri. Demikian pula setiap peserta demo harus menjaga sikap dan akhlaknya, karena mereka berdemo mengatasnamakan islam dan kaum muslimin, sehingga tidak boleh demo tersebut justru mencemari nama baik Islam dan kaum muslimin. Apalagi demo-demo besar yang diliput oleh media massa yang rata-rata dikuasai oleh non muslim dan senantiasa mencari celah untuk mencitrakan islam dan kaum muslimin secara negatif.

Terkait diamnya seseorang dalam hal ini apakah berarti tidak peduli terhadap agama? Kalau dia diam tidak bereaksi sama sekali, walau dalam hatipun tak ada pengingkaran; maka ini menunjukkan tidak adanya keimanan pada diri orang tersebut. Karena Nabi mengatakan bahwa orang yang paling lemah imannya ialah yang masih mengingkari kemungkaran dalam hatinya (HR. Muslim no 49). Nah, mengingkari dalam hati caranya ialah dengan membenci, walaupun tidak menampakkan kebencian tsb, karena amalan hati sifatnya tersembunyi dan tidak harus nampak. mafhumnya, kalau yang terlemah pun tidak ada, maka iman tidak ada lagi.

Adapun solusinya bagaimana? Masih banyak ya akhi… karena menolong agama Allah itu caranya macam-macam. Yang paling utama ialah dengan memperjuangkan tauhid, mulai dari mempelajarinya, mengamalkannya, mengajarkannya, sampai berjihad dalam mempertahankannya. Semua bentuk ketaatan yang kita lakukan adalah bagian dari membela agama Allah, demikian pula setiap maksiat yang kita tinggalkan berpengaruh terhadap kemenangan kaum muslimin dan turunnya pertolongan Allah. Bukankah para sahabat yang notabene generasi terbaik saja sempat terpukul dalam perang Uhud dan perang Hunain karena dosa sebagian dari mereka?? Bacalah surah Ali Imran ayat 165 dan At Taubah ayat 25. Oleh karenanya, jangan berpikiran sempit dalam menyikapi problematika umat dan mencarikan solusinya. solusi terbesar bagi problematikan umat ini ialah kembali kepada dienullah. Dan masalah paling penting dalam dienullah adalah tauhid. Tauhid beres, semuanya beres. wabillaahit taufiik.

Wallahu a’lam.

Referensi :

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=5843

Konsultasi Bimbingan Islam

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

Baca Juga :  Titip Doa Ketika Malam Jum'at

Related Articles

Back to top button