Mutiara Kitab Qawaidul Arba’

Mutiara Kitab Qawaidul Arba’

Mutiara Kitab Qawaidul Arba’
4 Fakta Yang Harus Anda Tahu

Banyak fakta masa lalu maupun masa kini yang akhirnya terkubur karena derasnya informasi yang memenuhi jagad media. Seseorang dituntut memiliki filter validitas dan urgensitas terhadap setiap informasi yang masuk. Dengan demikian, seorang akan memiliki point of view yang tepat terhadap masalah yang dihadapi. Demi urusan duniawi yang periodenya hanya puluhan tahun, profesionalitas begitu dijunjung tinggi, maka lebih layak lagi untuk masalah akhirat yang periodenya tak berujung. Ada empat fakta masa lalu yang harus anda tahu, sehingga anda akan memiliki cara pandang yang tepat terhadap cara hidup dan beragama anda.

Pertama, orang-orang kafir yang diperangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeyakinan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur Alam Semesta, akan tetapi keyakinan mereka tersebut tidak cukup merubah status mereka menjadi muslim. Allah mengabadikan keyakinan mereka dalam ayat-Nya,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus 10: 31)

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang-orang kafir yang menjadi objek dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengakui bahwa yang menciptakan alam semesta, menghidupkan, dan mematikan adalah Allah. Sebatas meyakini ini saja tanpa menunaikan konsekuensinya dengan hanya beribadah kepada Allah, tidaklah memasukkan seseorang kepada Islam.

Kedua, orang-orang kafir yang diperangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeyakinan bahwa mereka beribadah kepada selain Allah hanya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekedar sebagai perantara saja. Allah menyingkap isi hati mereka,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supa mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar 39: 3)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan. Mereka berkata. “Mereka (sesembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus 10: 18)

Orang-orang kafir yang diperangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meyakini sesembahan selain Allah sebagai tujuan akhir ibadah. Mereka mengangapnya sebagai perantara saja agar keinginan mereka lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Mereka berasumsi sebagaimana hendak bertemu raja, maka perlu melalui perantaranya baik ajudan atau pejabat lain yang dekat. Asumsi ini jelas tidak bisa diterima, sehingga mereka tetap diperangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dituntut untuk beribadah langsung hanya kepada Allah atau dengan perantara yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di tengah kaum yang beraneka macam bentuk peribadatannya. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, nabi-nabi, orang shalih, bahkan ada yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Mereka semua diperangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak membedakan mereka meskipun sesembahan mereka berbeda-beda.

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikan dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? (QS. Ali Imran 3: 80)

Ayat di atas menegaskan bahwa menjadikan para nabi dan malaikat sebagai sesembahan selain Allah adalah suatu bentuk kemusyrikan yang menyebabkan kekafiran. Lebih parah lagi kesyirikan zaman sekarang manakala yang dijadikan sesembahan dan diagungkan adalah kuburan orang-orang yang dulunya pelaku maksiat, orang fasik bahkan orang yang tidak jelas status agama dan kesalehannya semasa hidupnya.

Terakhir, kemusyrikan jaman sekarang lebih parah daripada kemusyrikan jaman dulu. Orang dulu menyekutukan Allah ketika dalam keadaan senang saja. Sedangkan orang sekarang susah senang berbuat syirik. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Allah menyingkap kondisi kesyirikan orang dulu,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan tulus, namun manakala Allah menyelamatkan mereka sampai darat, tiba-tiba mereka berbuat syirik.” (Al-Ankabut: 65)

Fenomena yang terjadi sekarang adalah seseorang, ketika susah dan terhimpit ekonominya, tidak mendekatkan diri kepada Allah dan memohon untuk dimudahkan urusannya. Yang terjadi justru mereka mendatangi tempat-tempat keramat, baik makam, petilasan, pohon besar maupun dukun untuk menyelesaikan masalah perekonomian rumah tangganya.

Tak ketinggalan pula, untuk urusan jabatan di percaturan politik pun tidak segan seseorang melakukan ritual-ritual demi meraih kursi yang diidamkan. Manakala kesuksesan diraih, kursipun terduduki, maka tidak heran kesyirikan justru lebih menjadi-jadi. Keyakinan kepada sesembahan selain Allah tersebut seolah terpupuk oleh fatamorgana yang menipu. Fakta ini menunjukkan begitu parahnya kondisi kesyirikan saat ini meskipun di tengah kemajuan era digital.

Penutup

Al Quran menyuguhkan berbagai fakta otentik masa lalu yang mungkin tertutup oleh derasnya informasi media. Beberapa fakta tersebut adalah sekedar mengakui bahwa Allah adalah pencipta tidaklah memasukkan seseorang ke dalam Islam. Fakta lain, orang-orang musyrik yang diperangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berargumen bahwa sesembahan selain Allah hanya dijadikan perantara saja.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi orang-orang yang beribadah kepada selain Allah meskipun sesembahan mereka adalah makhluk terbaik seperti para nabi ataupun malaikat. Terakhir, kesyirikan orang sekarang lebih parah karena perbuatannya dilakukan ketika sedang susah maupun lapang.

Referensi: Syarah Al-Qawaid Al-Arba’ karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak

Ditulis Oleh:
Ustadz Eko Haryono, ST., M.Eng.
Pembina Yayasan Ibnu Umar Boyolali
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS