page hit counter

Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah

Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah

Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah

Yang namanya nikmat itu, menurut presepsi kita, adalah sesuatu yang lezat, sesuatu yang memiliki rasa, seperti makanan dan minuman.

Lalu mungkinkah rasa nikmat juga terdapat di dalam ibadah yang kita kerjakan.

Saudaraku seiman..

Tentu saja jawabanya sangat mungkin sekali. Karena sejatinya rasa nikmat atau kelezatan itu muaranya adalah di hati dan perasaan kita, dan bukan di indera kita yang lima. Bagi kebanyakan manusia, mungkin duren adalah buah yang lezat dan nikmat dikarenakan aromanya yang harum dan rasanya yang sangat memanjakan lidah. Tapi bayangkan bagi sebagian orang yang benci terhadap si duren ini, jangankan memakannya, menciumnya saja sudah serasa ingin muntah.

Mungkin ada baiknya kita simak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini;

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah,  ia membenci untuk kembali kepada kekafiran  setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 67)

Rasulullah juga bersabda,

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.” (HR. Muslim no. 56)

Pada dua hadits tersebut di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwasanya iman itu rasanya manis dan bisa dirasakan oleh kita. Rasa manis ini tentu saja hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang jujur kecintaannya terhadap Allah dan RasulNya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits. Orang-orang fasiq, ahli maksiat, terlebih orang kafir, tentu saja tidak dapat menikmati lezatnya iman tersebut.

Saudaraku seiman..

Kalau memang iman itu manis, lezat dan bisa dirasakan kenimatanya oleh kita. Maka begitu pula ibadah-ibadah yang kita kerjakan. Karena ibadah, baik ibadah lahiriyah dan batiniah, adalah bagian dari iman.

Sebagai contoh, dalam masalah shalat. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita suri tauladan dalam meraih nikmatnya ibadah shalat.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumallah membawakan suatu hadits di kitab Shahih mereka, dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan banyaknya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam, sampai-sampai telapak kaki beliau bengkak. Maka beliaupun ditanya apa motivasi beliau melakukan itu, padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni oleh Allah, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab;

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا؟

“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Al-Bukhari no. 4836 dan Muslim no. 2819)

Lalu muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasakan nikmatnya shalat malam jika kaki beliau saja bengkak-bengkak. Maka jawabanya seperti yang kami sampaikan di atas. Bahwasanya kenikmatan itu bermuara di hati, sekalipun anggota tubuh yang lain merasakan penderitaan tapi jiwa ini merasakan kenikmatan.

Coba perhatikan orang terlanjur hobi dengan sepak bola. Ketika kakinya bengkak karena beradu dengan kaki musuh, keesokan harinya pun ia masih nekat merumput walaupun jalannya masih terseok-seok. Coba tanyakan kepadanya apa yang ia rasakan dengan keadaannya tersebut, senangkah atau menderita?

Maka wajar saja jika Nabi pernah mengatakan bahwasanya shalat itu adalah penyejuk pandangan beliau dan menggembirakan hati beliau. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan kecintaan bagiku dari dunia pada wanita dan parfum. Dan dijadikan penyejuk dalam pandanganku adalah shalat. (HR. An-Nasai no. 3939 dinilai hasan oleh Al Albany)

Dalam masalah puasa pun begitu juga

Bagaimana caranya kita mendapatkan kenikmatan berpuasa, padahal perut lapar, dan kerongkongan terasa kering. Maka caranya adalah dengan mengingat serta senantiasa mengharap besarnya pahala yang Allah sediakan bagi kita, yaitu berjumpa dengan Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda;

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagian ketika berbuka dan kebahagian ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Saudaraku seiman..

Pernahkah anda melihat seseorang yang melakukan program diet. Dia harus rela tidak makan selama berjam-jam. Untuk apa? Untuk mendapatkan bobot tubuh yang ideal, dan mendapatkan pujian dari orang-orang yang bertemu dan melihat dirinya.

Ketika ia harus menderita dengan program dietnya tersebut, dan mendapatkan hasil yang memuasakan sehingga pujian yang dinantikan pun ia dapatkan, maka segala penderitaan akan berbuah kebahagiaan. Ia pun rela untuk melanjutkan lagi program dietnya yang sekarang ia tidak lagi rasakan penderitaan.

Begitu juga dengan seseorang yang berpuasa dengan meluruskan niat dan mengharapkan balasan hanya dari Allah ‘Azza wa jalla. Niscaya seluruh penderitaan lapar dan dahaga akan berubah menjadi kenikmatan.

Saudaraku seiman..

Kita bisa merasakan kenikmatan makanan dan minuman karena keadaan kita sebelum makan dan minum berbeda dengan keadaan setelah kita makan dan minum. Yang tadinya lapar dan haus, wajah pun pucat, maka setelah makan dan minum, perut menjadi kenyang dan wajah pun menjadi ceria. Ini adalah gambaran seseorang yang bisa menikmati kelezatan makanan.

Begitu pula seseorang yang bisa menikmati lezatnya ibadah.

Keadaan ia sebelum melaksanakan ibadah tersebut berbeda dengan keadaan setelah ia selesai dari melakukan ibadah tersebut. Seseorang yang keadaannya sebelum dan sesudah ia mengerjakan ibadah adalah sama saja, maka ia patut curiga dengan kualitas ibadah yang ia kerjakan. Semisal, sebelum shalat ia adalah anak yang durhaka, setelah durhaka ia masih tetap seorang anak yang durhaka. Lalu apa bedanya?

Padahal Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut : 45)

Oleh karena itu, saudarku seiman…

Marilah kita sama-sama mengoreksi ibadah yang telah kita kerjakan. Sudahkah kita merasakan kenikmatan dalam mengerjakannya, atau malah sebaliknya, penderitaan yang kita alami? Sudah luruskan niat kita? Sudah sesuai tuntunankah ibadah kita?

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan

إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا، فَاتَّهِمُهُ، فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ.

“Jika engkau tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang engkau kerjakan maka engkau harus curiga (pent- dengan amalanmu tersebut), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.

يَعْنِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةِ انْشِرَاحٍ وَقُرَّةِ عَيْنٍ. فَحَيْثُ لَمْ يَجِدْ ذَلِكَ فَعَمَلُهُ مَدْخُولٌ.

Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya. (Madarijus Saalikin, hal. 68 juz 2)

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

 



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS