
Pembaca sekalian yang dirahmati Allah. Di surat Al Mukmin, Allah menceritakan tentang seorang beriman yang masih keluarga Fir’aun. Selain beriman, beliau juga berdakwah kepada Fir’aun dan keluarganya. Di antara dakwahnya adalah menyampaikan hakikat sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Allah berfirman menceritakan perkataan sang mukmin ini:
{ لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِیۤ إِلَیۡهِ لَیۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةࣱ فِی ٱلدُّنۡیَا وَلَا فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِینَ هُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ }
“Sudah pasti bahwa apa yang kalian serukan aku kepadanya tak memiliki suatu seruan yang berguna baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itu akan menjadi penghuni neraka.” [QS Al Mu’min: 43]
ORANG MUSYRIK, TERUS MENGAJAK PADA KESYIRIKAN
Ayat ini dibuka dengan pernyataan sang mukmin
لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِیۤ إِلَیۡهِ
“Sudah pasti bahwa apa yang kalian serukan aku kepadanya” (QS al Mu’min: 43)
Ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir di masa itu juga mengajak (bahkan pada orang beriman), untuk mengikuti agamanya. Seharusnya ini menjadi renungan, agar seorang mukmin semangat mendakwahkan agamanya yang haq, tidak kalah dengan pengikut kebatilan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
فواللهِ لَأن يَهديَ اللهُ بكَ رَجُلًا واحِدًا خَيرٌ لكَ مِن أن يَكونَ لكَ حُمْرُ النَّعَمِ.
“Demi Allah, jika Allah memberikan hidayah melalui dirimu pada seseorang, itu lebih baik bagimu daripada engkau mendapatkan unta merah” (HR Bukhari & Muslim)
Unta merah adalah hewan tunggangan yang sangat mewah & bergengsi ketika itu.
TAK BISA DIHARAPKAN DI DUNIA & AKHIRAT
Dalam ayat ini, Allah ceritakan beberapa hujjah/argumen yang disampaikan oleh sang mukmin tersebut, mengapa ia tak mau menerima ajakan kesyirikan & kekufuran seperti kaumnya. Yang pertama, bahwa sesembahan selain Allah tersebut:
لَیۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةࣱ فِی ٱلدُّنۡیَا وَلَا فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ
“tak memiliki suatu seruan yang berguna baik di dunia maupun di akhirat.” (QS Al Mu’min: 43)
Seakan ia mengatakan, ‘Mengapa aku harus berbuat kesyirikan dengan menyembah selain Allah?! Padahal yang disembah itu tak bisa mengabulkan doa! Tak bisa memberi manfaat & mudharat baik di dunia maupun di akhirat!?’.
Ibnu Katsir rahimahullah membawakan beberapa pendapat para ulama tafsir tentang makna ayat ini. Beliau berkata:
قَالَ مُجَاهِدٌ: الْوَثَنُ لَيْسَ بِشَيْءٍ.
وَقَالَ قَتَادَةُ: يَعْنِي الْوَثَنَ لَا يَنْفَعُ وَلَا يَضُرُّ.
وَقَالَ السُّدِّيُّ: لَا يُجِيبُ دَاعِيَهُ، لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ.
“Mujahid berkata, ‘berhala itu, tak ada apa-apanya’. Qotadah berkata, ‘Maksudnya adalah berhala, tak bisa memberi manfaat dan mudharat’. As Suddi berkata, ‘Berhala itu tak bisa menjawab orang yang berdoa kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat’.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Kemudian Ibnu Katsir membawakan firman Allah ta’ala yang semisal dengan ayat tersebut:
﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ. وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ﴾
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka, dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.” (QS Al Ahqaf: 5-6)
Beliau juga membawakan firman Allah ta’ala:
{ إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا یَسۡمَعُوا۟ دُعَاۤءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟ لَكُمۡۖ وَیَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ یَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا یُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِیرࣲ }
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan mu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Teliti.” (QS Fathir: 14)
Al Baghawi rahimahullah berkata:
وَقِيلَ: لَيْسَتْ لَهُ دَعْوَةٌ إِلَى عِبَادَتِهِ فِي الدُّنْيَا لِأَنَّ الْأَوْثَانَ لَا تَدَّعِي الرُّبُوبِيَّةَ، وَلَا تَدْعُو إِلَى عِبَادَتِهَا، وَفِي الْآخِرَةِ تَتَبَرَّأُ مِنْ عَابِدِيهَا.
“Dan dikatakan juga maknanya adalah: Tidak ada seruan dari sesembahan selain Allah itu untuk menyembah mereka di dunia, karena sesembahan selain Allah itu tidak mengaku sebagai Rabb (Tuhan), dan tidak menyeru manusia untuk menyembah mereka. Sedangkan di akhirat, sesembahan itu akan berlepas diri dari orang-orang yang menyembahnya.” (Tafsir Al Baghawi)
Begitulah sesembahan selain Allah ta’ala, tidak mendatangkan manfaat & tidak bisa menolak mudharat. Bahkan jika yang disembah pun merupakan makhluk yang baik seperti para Nabi & Rasul. Maka, selain kezhaliman & kesesatan terbesar, kesyirikan juga merupakan kebodohan terbesar dan tidak layak untuk disebarkan.
KITA AKAN KEMBALI PADA ALLAH
Sang mukmin ini pun memberikan argumen selanjutnya, mengapa kita wajib bertauhid dan meninggalkan kesyirikan? Karena kita semua akan kembali pada Allah. Di akhirat nanti, hanya Allah semata yang bisa memberikan pertolongan, bukan berhala atau apapun yang disembah selain Allah.
وَأَنَّ مَرَدَّنَاۤ إِلَى ٱللَّهِ
“Dan sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah” (QS Al Mu’min: 43)
Ath Thabari rahimahullah berkata
يَقُولُ: وَأَنَّ مَرْجِعَنَا وَمُنْقَلَبَنَا بَعْدَ مَمَاتِنَا إِلَى اللَّهِ.
“Artinya, sesungguhnya tempat kembali & berpulang kita setelah wafat adalah kepada Allah” (Tafsir Ath Thabari)
Jika kita akan mati dan kembali kepada Allah yang telah menciptakan kita, maka semestinya di dunia kita tunduk kepadaNya. Karena kita bukan hanya akan kembali, namun juga akan dimintai pertanggungjawaban. Allah ta’ala berfirman
{ إِنَّ إِلَیۡنَاۤ إِیَابَهُمۡ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَیۡنَا حِسَابَهُم (26) }
“Sungguh, kepada Kami lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami lah membuat perhitungan atas mereka.” [QS Al-Ghasyiyah: 25-26]
Mengingat kematian & alam akhirat sangat penting bagi seorang insan. Hal tersebut akan menjadi motivasi besar baginya untuk berbuat kebaikan dan juga menahannya dari berbuat keburukan. Dia yakin, semua akan terbalaskan dengan setimpal di akhirat, setelah ia kembali pada Allah.
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhumaa meriwayatkan:
كُنتُ معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، فجاءَهُ رجلٌ منَ الأنصارِ ، فَسلَّمَ على النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ، ثمَّ قالَ : يا رسولَ اللَّهِ أيُّ المؤمنينَ أفضلُ ؟ قالَ : أَحسنُهُم خُلقًا ، قالَ : فأيُّ المؤمنينَ أَكْيَسُ ؟ قالَ : أَكْثرُهُم للمَوتِ ذِكْرًا ، وأحسنُهُم لما بعدَهُ استِعدادًا ، أولئِكَ الأَكْياسُ
Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian datang seorang Anshar. Dia mengucapkan salam pada Rasulullah dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?”
Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.”
Ia bertanya lagi, “Orang mukmin manakah yang paling cerdas?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR Ibnu Majah, dihasankan Al Albani)
ORANG YANG MELAMPAUI BATAS, PENGHUNI NERAKA
Argumen selanjutnya yang disampaikan oleh sang mukmin ini adalah keburukan yang akan menimpa orang-orang yang melampaui batas, dia berkata:
وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِینَ هُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ }
“dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itu akan menjadi penghuni neraka.” [QS Al Mu’min: 43]
Begitulah, sikap melampaui batas adalah sumber segala keburukan. Kesyirikan, kesesatan dalam beragama, kemaksiatan, semuanya disebabkan sikap melampaui batas. Dari sini kita juga memahami pentingnya ilmu, agar seseorang mengetahui mana batasan-batasan yang dibenarkan.
Al Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini:
قَالَ قَتَادَةُ وَابْنُ سِيرِينَ: يَعْنِي الْمُشْرِكِينَ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَالشَّعْبِيُّ: هُمُ السُّفَهَاءُ وَالسَّفَّاكُونَ لِلدِّمَاءِ بغير حقها. وقال عكرمة: الجبارون والمتكبرون. وقيل: هم الذين تَعَدَّوْا حُدُودَ اللَّهِ. وَهَذَا جَامِعٌ لِمَا ذُكِرَ.
“Qatadah dan Ibnu Sirin berkata: Yang dimaksud adalah orang-orang musyrik. Mujahid dan Asy-Sya‘bi berkata: Mereka adalah orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang menumpahkan darah tanpa alasan yang dibenarkan. Ikrimah berkata: Mereka adalah orang-orang yang suka berbuat sewenang-wenang dan menyombongkan diri. Ada pula yang mengatakan: Mereka adalah orang-orang yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Pendapat terakhir ini mencakup seluruh makna yang telah disebutkan sebelumnya.” (Tafsir Al Qurthubi)
Waspadalah dari sikap melampaui batas dalam segala hal, bahkan dalam beragama. Allah ta’ala memperingatkan Ahlul Kitab dalam firmanNya:
{ قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ غَیۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوۤا۟ أَهۡوَاۤءَ قَوۡمࣲ قَدۡ ضَلُّوا۟ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِیرࣰا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَاۤءِ ٱلسَّبِیلِ }
“Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” [QS Al-Māʾidah: 77]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda.
هَلَك المُتَنَطِّعونَ. قالها ثَلاثًا.
“Celakalah orang-orang yang melampaui batas! Beliau berkata 3x” (HR Muslim)
Belajarlah dari apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman yang lurus, pemahaman salafus shalih.
Semoga Allah berikan pada kita ilmu yang bermanfaat, yang dengannya kita mengetahui batasan-batasan Allah. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala keburukan di dunia & akhirat.
Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.