AishahhotMuamalah

Memanfaatkan Sawah Jaminan Hutang, Riba!

Memanfaatkan Sawah Jaminan Hutang, Riba!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Memanfaatkan Sawah Jaminan Hutang, Riba!  Selamat membaca.


Pertanyaan:

A meminjam uang kepada B sebesar 25 juta. Sedang si A menjaminkan sawah miliknya. Dan tanah itu dikelola oleh si B dan hasilnya nanti dibagi dengan si A. Bolehkah y demikian itu?

(Ditanyakan Oleh Santri AISHAH)


Jawaban:

Akad pinjaman atau utang piutang adalah akad murni berbuat baik kepada orang lain tanpa ada berharap keuntungan duniawi dari orang yang meminjam (debitur), jika ada keuntungan maka akad berubah menjadi akad riba.

Jika si A menjadikan sebuah sawah sebagai jaminan hutangnya, maka si B tidak boleh mengambil keuntungan sedikit pun dari sawah tersebut, walaupun dia mengelolanya, ini riba.

Kecuali, si B menyewa sawah tersebut (membuat akad ijarah/sewa menyewa) dengan harga sewa yang tidak di bawah standar daerah tersebut, maka dia boleh mengambil keuntungan dari sawah tersebut.

Syaikh bin Baz berkata:

أنه لا بأس أن يرهنها في دينه، لكن لا يكون له شيء من غلتها، بل غلتها تكون لصاحبها، أو تباع ويوفى بها الدين، ولا بأس أن يأخذها بالإيجار، والإيجار يسقط من الدين، إذا كانت الأجرة أجرة المثل كما تؤجر على غيره ما يحابيه

“Tidak mengapa menjadikan sebidang tanah sebagai jaminan utang, namun tidak boleh bagi kreditur (orang yang meminjamkan uang) mengambil keuntungan dari tanah tersebut, keuntungan dari tanah tersebut tetaplah milik pemilik tanah. Atau boleh juga tanah tersebut dijual untuk melunasi utang (namun sisa uang penjualan tetaplah milik pemilik tanah). Tidak mengapa juga si peminjam menyewakan tanahnya kepada kreditur, dan harga sewa untuk melunasi hutangnya, dengan syarat harga sewa sesuai dengan harga pasar, tanpa ada rasa segan”. (https://binbaz.org.sa/fatwas/9714حكمرهنالارضوالاستفادةمنهابزراعتها).

Boleh kalau akadnya adalah akad muzara’ah, yaitu si pemilik tanah menyerahkan ke si B untuk dikelola, dan keuntungannya sesuai kesepakatan. Namun tetap dengan syarat persentase bagi hasilnya sesuai dengan daerah tersebut tanpa dipengaruhi rasa segan karena si B meminjamkan uang.

Kesimpulannya si A boleh menyewakan juga boleh melakukan akad muzara’ah, sehingga tanah tersebut statusnya bukan lagi rahn/jaminan.

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jumat,  16 Shafar 1443 H / 24 September 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Bolehkah Menyuplai Air Mineral atau Snack ke Bar dan Diskotik?

USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button