FiqihKeluargaNikahWanita

Melayani Suami atau Sholat Dulu?

Melayani Suami atau Sholat Dulu?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang apakah lebih utama melayani suami atau shalat dulu. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Afwan ustadz, ijin bertanya.

Jika mau masuk waktu shalat dhuhur, kemudian suami memanggil kita untuk melayaninya, sikap kita harus bagaimana? Mengutamakan menunggu shalat dhuhur atau memenuhi panggilan suami untuk melayani beliau? Dan perintah untuk melayani suami juga termasuk utama?

Jazaakallahu khairan.

(Ditanyakan oleh Fulanah – Sahabat BiAS melalui grup WhatsApp)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.

Shalat di awal waktu memang sebuah keutamaan yang jangan sampai luput dari seorang mukmin, dan saya pribadi belum mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Baca Juga :  Hukum Celak Bagi Laki-laki

Namun, kita juga harus memahami fikih ketika bertentangan sesuatu yang sunnah dan sesuatu yang wajib. Jika hal tersebut terjadi yang wajib lebih didahulukan.

Shalat di awal waktu dianjurkan, namun seseorang tidak berdosa ketika mengakhirkannya selama tidak sampai mepet di akhir waktu apalagi keluar waktu. Adapun memenuhi “panggilan” suami ketika dirinya butuh, merupakan sebuah kewajiban, sehingga melayani suami didahulukan daripada shalat di awal waktu.

Mungkin, persoalannya lebih kepada suami, karena akan meninggalkan shalat berjamaah di masjid, yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa hukumnya wajib. Namun, jika memang dibutuhkan, tidak mengapa bagi suami mendatangi istrinya kala itu. Ini sebagaimana Rasulullah melarang untuk mengerjakan shalat ketika makanan sudah dihidangkan dan perutnya dalam keadaan lapar, karena hal tersebut akan mengganggu kekhusyu’an shalat, beliau bersabda:

لا صَلاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعامِ، ولا هُوَ يُدافِعُهُ الأخْبَثانِ

“Tidak ada shalat saat makanan telah dihidangkan dan dalam keadaan menahan buang air”. (HR. Muslim no. 560)

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Senin, 21 Jumadil Akhir 1443 H/ 24 Desember 2022 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Hukum Jumlah Shaf Ganjil Pada Shalat Jenazah

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button