Kekhususan Wanita Memberikan Kajian Khusus Akhwat

Kekhususan Wanita Memberikan Kajian Khusus Akhwat

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ustadz,
Adakah hadits yang menjelaskan bahwa seorang ustadzah hanya boleh mengisi kajian khusus akhwat saja, sedangkan ustadz boleh mengisi kajian akhwat dan ikhwan?

Bagaimanakah tata cara membuat kajian yang sesuai syar’i dengan jama’ahnya berbeda gender?

Jazaakallahu khoiron ustadz atas penjelasannya. Barakallahu fiik.

(Fulanah, admin BiAS T05)

Jawaban

وعليكم السلام و رحمة الله وبر كاته

Alhamdulillāh
washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Yang ada para istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pelajaran kepada para sahabat wanita atau Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan nasehat kepada para sahabat wanita.

عن أبي سعيد الخدري قال : جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلّم فقالت : يا رسول الله ! ذهب الرجال بحديثك، فاجعل لنا من نفسك يوماً نأتيك فيه تعلّمنا ممّا علّمك الله، فقال : ” اجتمعن في يوم كذا وكذا في مكان كذا “، فاجتمعن، فأتاهنّ فعلّمهنّ ممّا علّمه الله .

“Dari Abu Said Al-Khudzri berkata ; Datang seorang wanita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata ;

‘Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para lelaki telah pergi dengan membawa haditsmu. Berikan waktu sehari untuk kami, kami akan datang kepada Eangkau agar kami belajar apa yang telah Allah ajarkan kepada Engkau.’

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; ‘Berkumpullah kalian di lokasi anu pada hari anu’. Mereka lantas berkumpul dan beliau mendatangi mereka mengajari mereka apa yang telah Allah ajarkan kepada beliau.”

Imam Al-Albani kemudian berkomentar setelah menyebutkan hadits ini :

وأما ما شاع هنا في دمشق في الآونة الأخيرة، من ارتياد النساء للمساجد في أوقات معيّنة ليسمعن درساً من إحداهنّ، ممّن يتسمّون بـ ( الداعيات ) زَعَمن، فذلك من الأمور المحدثة التي لم تكن في عهد النبي ولا في عهد السلف الصالح، وإنما المعهود أن يتولّى تعليمهنّ العلماء الصالحون في مكانٍ خاصٍ كما في هذا الحديث، أو في درس الرجال حجزة عنهم في المسجد إذا أمكن، وإلاّ غلبهنّ الرجال، ولم يتمكنّ من العلم والسؤال عنه .
فإن وُجِدَ في النساء اليوم من أوتيت شيئاً من العلم والفقه السليم المستقى من الكتاب والسنة، فلا بأس من أن تعقد لهنّ مجلساً خاصًّا في بيتها أو بيت إحداهنّ، ذلك خير لهنّ، كيف لا، والنبي قال في صلاة الجماعة في المسجد :  وبيوتهنّ خير لهنّ

“Adapun yang tersebar di Damaskus pada akhir-akhir ini berupa datangnya kaum wanita ke masjid untuk mendengar pengajian salah satu dari mereka yang disebut “Para Dai Wanita”, itu merupakan perkara yang baru yang tidak pernah ada di zaman nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan zaman salafus shalih.

Idealnya yang memberikan pengajian adalah para ulama yang shalih di lokasi khusus sebagaimana tersebut dalam hadits ini, atau di pengajian kaum lelaki yang disekat dari wanita di masjid jika memungkinkan. Jika tidak maka kaum lelaki lebih mendominasi sehingga sulit untuk mengambil ilmu dan bertanya pada ulama tersebut.”

Jika didapati di zaman ini seorang wanita yang memiliki pemahaman yang selamat yang terambil dari kitab dan sunnah, maka tidak masalah diselenggarakan bagi para wanita majlis khusus di rumah salah satu dari mereka. Itu lebih baik bagi mereka bagaimana tidak sedang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat jamaah bagi wanita ; “Rumah mereka lebih baik bagi mereka.”

(Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 6/401 Oleh Imam Al-Albani).

Kesimpulannya wanita boleh mendengarkan pengajian dari lelaki alim di lokasi khusus atau pengajian untuk kaum lelaki di mesjid selama disediakan lokasi khusus untuk wanita.
Adapun jika para wanita memberikan pelajaran bagi jamaah lelaki maka ini tidak pernah dilakukan di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam demikian pula zaman salafus shalih. Dan para wanita tidak diperkenankan berbicara dengan lawan jenis melainkan sesuai kebutuhan saja dengan durasi yang sedikit bukan berlama-lama berbicara. Hal ini tidak bisa dihindari jika ia menyampaikan pengajian terhadap jamaah lelaki.

Belum lagi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa suara wanita itu aurat, meski pendapat yang rajih suara wanita bukan aurat melainkan jika dibuat-buat indah sehingga menimbulkan syahwat di hati lelaki yang berpenyakit hati. Wallahu a’lam

Tentang kajian yang dihadiri oleh jama’ah lelaki dan wanita sekaligus, maka harus disediakan lokasi khusus untuk para wanita agar tidak terlihat oleh kaum lelaki. Bisa dengan menyediakan ruangan khusus ataupun memasang hijab yang memisahkan antara lelaki dan wanita dengan hijab yang tinggi tebal dan rapat.

Allah ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.  (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”

(QS Al-Ahzab : 53).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Kamis, 14 Rabi’ul Akhir 1438 H / 12 Januari 2017 M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS