Kala Hujan Datang Menyapa Musim Hujan Tahun Ini

Kala Hujan Datang Menyapa Musim Hujan Tahun Ini

Kala Hujan Datang Menyapa Musim Hujan Tahun Ini

Sahabat muslim yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baru beberapa hari ini musim hujan kembali mendatangi dan menghampiri kita. Masing-masing kita menyimpan segudang kenangan indah bersama musim hujan tahun lalu. Ada yang kehujanan dimalam hari sepulang mengaji, ada yang basah kuyup sepulang sekolah, ada yang berteduh di bawah pohon atau berpayung daun pisang tatkala pulang dari sawah, adapula anak-anak kecil yang bermain bola di kubangan lumpur seiring hujan turun dengan lebatnya. Kita berharap kenangan manis musim hujan tahun lalu terulang kembali tahun ini.

Ketika hujan datang mengguyur, bumipun kan menjadi hijau karenanya, udara sejuk menyegarkan menyeruak ke berbagai penjuru arah, menjadikan dunia terasa begitu subur, indah dan berseri. Dialah Allah Zat yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dari hujan itu buah-buahan  sebagai rezeki untukmu. Maka dari itu janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Alloh padahal kamu mengetahui. (QS.Al-Baqarah : 22).

 

Do’a ketika turun hujan

Apabila Allah memberi nikmat berupa hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a, “Allahumma shayyiban naafi’aa (Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)”.

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radiyallahu ’anha, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban naafi’an (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)”.

(HR. Bukhori : 1032 maktabah syamilah).

 

Waktu yang mustajab

Dinul islam sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan harap pada waktu-waktu yang mustajab, diantara waktu yang mustajab adalah ketika turun hujan, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah waktu-waktu diijabahinya doa’a yaitu ketika dua pasukan telah berhadap-hadapan, ketika solat ditegakkan dan ketika turun hujan”.

(HR. Imam Syafi’i dalam Al-Umm :  1/223-224 dan dishahihkan oleh Al Imam Al-Albani, lihat Silsilah Ahadis Ash Shahihah : 3/453 hadis no : 1469 maktabatul ma’arif).

 

Mengambil berkah air hujan

Hendaknya sesekali kita mengambil air hujan dan melumurkannya pada badan kita atau pakaian kita atau barang-barang kita dan sesekali berhujan-hujanan dalam rangka untuk mengambil berkah. Sebagai mana hal ini pernah dicontohkan oleh Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkata Anas bin Malik, “Kami bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kehujanan, lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap pakaiannya sampai beliau terkena air hujan. Kami bertanya, wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan ini? Beliau menjawab karena air hujan ini masih segar dari Allah”.

(HR. Muslim : 2120 maktabah syamilah).

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam kitab Al Adabul Mufrad, bahwasannya Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma apabila turun hujan dari langit, ia berkata, “Wahai pelayan, keluarkanlah pelanaku dan pakaianku (agar terkena air hujan-pent)”.

(Dishahihkan oleh Al Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad hal : 476 hadis no : 932 maktabah ad dalil, lihat pula Fadlullahish Shamad Fi Taudlihil Adabil Mufrod, bab mengambil berkah dari air hujan : 3/445 oleh Syaikh Fadlulloh Al Jailany, maktabah daarul ma’ali ).

Yang demikian karena air hujan adalah air yang berbarokah sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah”. (QS. Qof : 9).

 

Adzan ketika turun hujan

Diperbolehkan bagi muadzin pada malam yang mana hujan turun dengan lebat, apabila selesai adzan untuk mengatakan, “Shollu fi rihaalikum/Solatlah dirumah kalian…!!”. Ini berdasarkan hadis dari Nafi’ yang berkata, “Ibnu Umar adzan pada suatu malam yang sangat dingin di dhojnan (nama bukit di dekat mekah). Lalu ia berkata –Shollu fi rihaalikum– .

Kemudian ia mengabarkan pada kami bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan muadzin untuk adzan dan mengatakan setelahnya -ketahuilah, solatlah kalian di rumah kalian- pada malam yang sangat dingin dan turun hujan ketika safar”.

(HR Bukhari : 632 maktabah syamilah ).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani berkata, “Perkataan itu disebut setelah selesai adzan”. (Lihat Fathul Bari : 2/113 maktabah syamilah).

Boleh juga untuk mengucapkan “Shollu fi rihaalikum” sebagai ganti “hayya ‘alash sholah”, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, dia berkata pada muadzinnya, “Apabila engkau telah selesai mengucapkan Asyhadu anna muhammadan rosululloh jangan kamu katakan “hayya ‘alash sholah..!” Tapi katakanlah “Shollu fibuyutikum/solatlah dirumah kalian”.

Maka sebagian manusia mengingingkarinya, Ibnu Abbas pun berkata, “Telah melakukannya orang yang lebih utama dariku ( yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR Bukhori : 901 maktabah syamilah).

 

Boleh pula mengatakan “shollu fi rihaalikum/buyutikum” setelah perkataan “hayya ‘alash sholah” dan hayya ‘alal falaah”. Jadi ada tiga model.

Berkata Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halaby Al-Atsari, “Muadzin ketika hujan boleh mengganti perkataan hayya ‘alash sholah diganti dengan shollu fi rihaalikum/buyutikum, adapula riwayat-riwayat yang lain yang shahih yang menerangkan bolehnya mengucapkan perkataan tadi (shollu fi rihaalikum/buyutikum) setelah hayya ‘alash sholah dan hayya ‘alal falah, demikian pula boleh mengucapkannya setelah selesai adzan. Semuanya dibolehkan karena permasalahannya luas insya’Alloh”.

(Lihat Ahkamusy Syita’  Fi Sunnatil Muthahharah : 43 oleh Syaikh Ali Hasan Abdul hamid Al-Halaby Al-Atsari, maktabah Daar Tuhaf An-Nafaa’is).

 

Menjama’ shalat kala hujan menyapa

Berkata Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, “Dibolehkan menjama’ shalat dikarenakan adanya lumpur yang sangat becek, angin yang sangat dingin di malam yang gelap gulita atau sebab yang lainnya, meskipun tidak turun hujan menurut pendapat yang paling rajih.

Dan menjama’ lebih utama dari pada shalat di rumah, bahkan meninggalkan menjama’ shalat di masjid lalu shalat di rumah adalah bid’ah yang menyelisihi sunnah. Karena yang sesuai sunnah adalah shalat lima waktu itu dikerjakan berjama’ah di masjid dan ini lebih utama dari shalat di rumah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Dan menjama’ shalat di masjid lebih utama dari pada shalat di rumah sendirian berdasarkan kesepakatan para imam yang membolehkan menjama’ seperti Malik, Syafi’i dan Ahmad”.

(Lihat Majmu’ fatawa :  24/29 oleh Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, maktabah daarul wafa’).

Berkata Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, “Dibolehkan menjama’ shalat maghrib dengan solat isya’ -secara khusus- karena turun hujan yang membuat basah pakaian serta menimbulkan kesulitan, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjama’ antara maghrib dan isya’ di suatu malam yang hujan turun dengan lebat. Hal ini juga dilakukan Abu bakar dan Umar”.

(Lihat Mulakhos fiqh : 1/239 oleh Syaikh Solih Al Fauzan, maktabah Ibnu Hazm).

Dari perkataan Syaikhul islam difahami bahwa hanya boleh menjama’ shalat dimasjid, adapun di rumah maka tidak diperbolehkan. Dan dari penjelasan Syaikh Shalih Al-Fauzan bisa kita tarik kesimpulan bahwa bolehnya menjama’ solat karena hujan itu hanya khusus shalat maghrib dan isya’ saja. Akan tetapi disana ada banyak ulama’ yang berpendapat bolehnya menjama’ shalat dzuhur dan ashar karena hujan.

(Lihat Ahkamusy Syita’ Fi Sunnatil Muthahharah : 50-52).

Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Al Qodhi, Imam Abul khathab, Imam Ibnu Hubairah, Imam Ibnu Turkumany, Imam Mardaway dan juga Imam Tajuddin As-Subki demikian pula Imam Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam syarhul mumti’ berdasarkan hadis berikut.

 

Dari Ibnu abbas bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam solat di madinah tujuh dan delapan rakaat dzuhur dan ashar, maghrib dan isya’. Maka Ayyub berkata, “Aku menyangka beliau melakukannya di malam yang turun hujan sangat lebat..?”. Ibnu abbas berkata, “Barangkali demikian”.

(HR Bukhori : 543, Muslim : 1669 maktabah syamilah).

Dan inilah pendapat yang rajih wallahu ta’ala a’lam bish showab, semoga bermanfaat.

 

Oleh
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com

CATEGORIES
Share This

COMMENTS