ArtikelKeluargaKonsultasi

Istri Tidak Nyaman Tinggal dengan Mertua, Haruskah Tinggal Terpisah? Ini Nasehat Islam

Pertanyaan : Assalamualaikum. Saya ingin bertanya soal rumah tangga saya yg akhir2 ini merasa banyak masalah dengan ipar. Aku rasa aku tidak cocok tinggal ber lama2 di rumah mertua. Tpi qodarullah mertua saya sedang sakit. sedangkan suami harus tinggal disana karena kerjaan dia nelayan, yg dkt dgn rmhnya. Jadi biasanya kalau suami pergi aku kerumah mama yg dikota. Aku tidak tahu harus tinggal dimana biar merasa aman karena kedua tempat ini blm ada yg bisa kusebut rmh yg nyaman. 

Klu ngontrak uang kami mkn shri2 aja hrus mikir. Jadi bingung, harusnya gimana yah kak. Aku juga menikah di usia yg masih 17,dulu blm mikir apa2 tentang nikah krn aku dijodohkan. Skrng rsanya nikah bnr² berat dan pengen nyerah berkali². Wasallamualaikum, syukron🙏🙏

Jawaban : Wa ‘alaikumussalāmu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.

Alhamdu lillāh, wash-shalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi, ammā ba’du.

Baiknya Tinggal di Mana? Nasihat untuk Rumah Tangga yang Sedang Diuji

Semoga Allah mudahkan urusan anti dan memberikan jalan keluar yang terbaik. Dari cerita anti, sebenarnya ada beberapa persoalan yang perlu dipisahkan: hubungan dengan mertua dan ipar, kondisi suami yang pekerjaannya mengharuskan dekat dengan rumah, keterbatasan ekonomi untuk mengontrak, serta kesiapan anti yang menikah di usia sangat muda.

Pertama, jangan merasa bahwa anti (istri) harus memilih antara rumah mertua atau rumah orang tua sendiri tanpa ada jalan tengah. Kalau tinggal bersama mertua membuat anti terus-menerus mendapatkan tekanan, konflik dengan ipar, atau merasa tidak aman secara mental, maka hal tersebut perlu dibicarakan dengan suami secara baik-baik. Rumah tangga membutuhkan tempat tinggal yang memberikan ketenangan. Allah ﷻ berfirman:

‎وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Jadi, ketenangan dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang perlu diusahakan. Namun, kondisi mertua yang sedang sakit juga harus diperhatikan. Jangan sampai karena ingin menghindari masalah dengan ipar, anti kemudian mengabaikan mertua yang memang sedang membutuhkan anaknya. Suami memiliki kewajiban berbakti kepada orang tuanya, dan anti juga hendaknya membantu suami dalam kebaikan selama tidak menimbulkan mudharat bagi anti.

Jangan langsung berpikir untuk menyerah

Anti mengatakan bahwa anti menikah ketika berusia 17 tahun dan saat itu belum benar-benar memahami beratnya kehidupan rumah tangga. Perasaan seperti, “Kenapa dulu saya menikah?”, “Saya ingin menyerah,” atau merasa belum siap menghadapi kehidupan rumah tangga, mungkin muncul ketika seseorang menghadapi tekanan. Tetapi jangan menjadikan perasaan yang sedang berat sebagai dasar untuk mengambil keputusan besar.

Cobalah bertanya:

Apakah masalahnya adalah suami memang tidak bertanggung jawab, atau masalah utamanya adalah lingkungan tempat tinggal dan hubungan dengan keluarga besar? Ini penting.

Kalau suami masih mau bekerja, memberikan nafkah sesuai kemampuannya, menyayangi anti, dan mau memperbaiki rumah tangga, maka jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pernikahan ini harus berakhir hanya karena sekarang sedang terasa berat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

‎لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.

Hadis ini memang berbicara tentang suami terhadap istrinya, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran bahwa ketika kita melihat satu kekurangan, jangan sampai seluruh kebaikan seseorang menjadi hilang dari pandangan kita.

Bagaimana dengan tempat tinggal?

Kalau secara ekonomi belum memungkinkan untuk mengontrak, jangan memaksakan diri sampai kebutuhan pokok tidak terpenuhi.

Bicarakan dengan suami kemungkinan mencari solusi sementara. Misalnya, selama suami bekerja nelayan, anti tinggal sementara di rumah ibu anti jika memang lebih aman dan kondusif. Tetapi hubungan dengan suami tetap dijaga dan jangan sampai tinggal terpisah berubah menjadi kehidupan rumah tangga yang masing-masing berjalan sendiri.

Kalau memungkinkan, buat target bersama:

“Kita tinggal sementara seperti ini sampai kondisi ekonomi memungkinkan untuk memiliki tempat tinggal sendiri.”

Jadi bukan sekadar, “Aku tidak mau tinggal di rumah mertua,” tetapi menjadi sebuah rencana rumah tangga. Dan jika nanti kemampuan ekonomi sudah memungkinkan, memiliki tempat tinggal sendiri bisa menjadi pilihan yang baik apabila tinggal bersama keluarga besar terus-menerus menimbulkan konflik.

Tentang hubungan dengan ipar

Yang penting adalah menjaga adab dan batasan. Tidak perlu membalas perkataan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih menyakitkan. Tidak perlu membuka semua persoalan rumah tangga kepada keluarga besar. Dan jangan menjadikan suami berada pada posisi harus terus-menerus memilih antara istri dan keluarganya. Kalau ada masalah dengan ipar, sebisa mungkin selesaikan dengan cara yang paling tenang. Bila memang tidak bisa, komunikasikan kepada suami tanpa menjelek-jelekkan keluarganya. Katakan kepada suami kurang lebih:

“Saya tidak ingin menjauhkan Abang dari orang tua. Saya juga memahami kondisi orang tua Abang. Tetapi saya merasa ada beberapa keadaan yang membuat saya tidak nyaman. Saya ingin kita mencari jalan agar Abang tetap bisa berbakti kepada orang tua, tetapi saya juga bisa mendapatkan ketenangan sebagai istri.”

Ini jauh lebih baik daripada mengatakan, “Saya tidak mau tinggal bersama keluargamu.”

Dan jangan lupa memperbaiki hubungan dengan Allah

Kalau rumah tangga sedang berat, jangan hanya mencari solusi duniawi. Perbanyak shalat, doa, istighfar, dan meminta pertolongan Allah. Allah ﷻ berfirman:

‎وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” QS. Ath-Thalaq: 2–3.

Jangan lupa juga untuk belajar ilmu rumah tangga. Karena bisa jadi bukan hanya anti (istri) yang belum siap; suami juga mungkin belum memahami bagaimana menjadi suami yang baik. Pernikahan membutuhkan proses belajar dari keduanya. Dan satu hal yang sangat penting: jangan merasa gagal hanya karena sekarang anti merasa berat. Menjalani rumah tangga memang membutuhkan kesabaran. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki satu per satu masalahnya.

Kalau ada kekerasan, ancaman, atau keadaan yang benar-benar membahayakan keselamatan anti, tentu masalahnya berbeda dan jangan dipendam sendiri. Libatkan orang tua atau pihak yang aman dan terpercaya.

Semoga Allah memberikan jalan keluar, memperbaiki hubungan anti dengan suami, menyembuhkan mertua, memperbaiki hubungan dengan keluarga besar, dan memberikan kepada anti tempat tinggal yang nyaman serta rumah tangga yang penuh sakinah.

Jangan buru-buru menyerah. Berusaha dulu memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, sambil terus meminta pertolongan kepada Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dijawab ringkas oleh ustadz : Muhammad Fikri Al-Hilabi, S.Ag., M.Ag.

Back to top button