
ALLAH MAHA PERKASA MAHA BIJAKSANA
Ketika mengabarkan tentang turunnya Al Qur’an dari sisi Allah, Dia menyebut 2 namaNya yang mulia. Allah berfirman
مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡحَكِیمِ
“Allah Yang Maha Mulia, Maha Bijaksana” (QS az Zumar: 1)
Sebuah kaidah ketika kita merenungkan nama-nama Allah dalam Al Qur’an bahwa setiap nama yang disebut dalam Al Qur’an dan dibawakan dalam konteks tertentu, maka nama-nama tersebut mengandung keterkaitan dan hikmah yang besar dengan konteks yang disebutkan. Termasuk penyebutan kedua nama ini dalam konteks diturunkannya Al Qur’an.
Allah sebutkan nama Al Aziz, Maha Perkasa, tak ada yang bisa mengalahkannya. Seakan memberitahu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Allah lah yang akan menjadikan Al Qur’an ini tersebar, tak ada yang bisa menghalangi kehendakNya untuk menurunkan Al Qur’an pada manusia walaupun orang-orang musyrik membenci dan menghalanginya.
Allah sebutkan juga namaNya, Al Hakim, Yang Maha Bijaksana. Seakan Dia ingin menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa isi kitab ini berupa akidah, perintah maupun larangan, semuanya diturunkan oleh Allah dengan ilmu & kebijaksanaanNya. Isi Al Qur’an, jika diamalkan, akan membawa maslahat besar bagi kehidupan manusia, baik untuk pribadi maupun masyarakat.
Dengan kedua kondisi ini, maka jangan sekali-kali engkau ragu wahai Muhammad, untuk mengamalkan dan mendakwahkan Al Qur’an. Allah Maha Perkasa yang akan menolongmu. Kebaikan besar akan engkau dapatkan karena ia adalah firman Allah Yang Maha Bijaksana.
Ath Thabari rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
يقول تعالى ذكره: ﴿تَنزيلُ الْكِتَابِ﴾ الذي نزلناه عليك يا محمد ﴿مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ﴾ في انتقامه من أعدائه ﴿الحَكِيمِ﴾ في تدبيره خلقه، لا من غيره، فلا تكوننّ في شكّ من ذلك،
“Allah Ta‘ala berfirman: “(Inilah) diturunkannya Kitab (Al-Qur’an)”, yaitu kitab yang Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad.
“Dari Allah Yang Maha Perkasa” dalam membalas musuh-musuh-Nya. “Lagi Maha Bijaksana” dalam mengatur seluruh makhluk-Nya.
Al Qur’an bukan dari selain-Nya. Maka janganlah sekali-kali engkau berada dalam keraguan terhadap Al Qur’an itu.” (Tafsir ath Thabari)
AL QURAN TURUN DENGAN KEBENARAN
Kemudian Allah ta’ala berfirman
{ إِنَّاۤ أَنزَلۡنَاۤ إِلَیۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad) dengan kebenaran..” [QS Az-Zumar: 2]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
، فَهُوَ الْحَقُّ الذِي لَا مِرْيَةَ فِيهِ وَلَا شَكَّ،
“Maka Al Qur’an ini isinya kebenaran, tak ada kebimbangan dan keraguan sedikitpun juga” (Tafsir Ibnu Katsir)
Kemudian beliau membawakan ayat lain dalam Al Qur’an yang sama-sama menjelaskan kebenaran Al Qur’an. Allah berfirman:
وَإِنَّهُۥ لَكِتَـٰبٌ عَزِیزࣱ (41) لَّا یَأۡتِیهِ ٱلۡبَـٰطِلُ مِنۢ بَیۡنِ یَدَیۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِیلࣱ مِّنۡ حَكِیمٍ حَمِیدࣲ (42) }
“dan sesungguhnya (Alquran) itu adalah Kitab yang mulia, yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.” [QS Fuṣṣilat: 41-42]
Maka tak ada yang diragukan dalam Al Qur’an. Perintah & larangan yang terdapat di dalamnya adalah kebenaran dari Allah dan mengandung kemaslahatan yang besar. Cerita di dalamnya baik cerita di masa lalu maupun di masa depan adalah benar, akidah yang wajib kita yakini. Demikian pula pelajaran-pelajaran hidup di dalamnya adalah benar dan penuh dengan hikmah yang sangat besar jika kita jadikan prinsip hidup kita. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al Qur’an pada kita.
JALANKAN KEBENARAN DENGAN BERIBADAH
Setelah menjelaskan kebenaran Al Qur’an, Allah berfirman
فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ }
“Maka beribadahlah pada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [QS Az-Zumar: 2]
Maka kita beribadah kepada Allah dengan landasan kebenaran yang Allah jelaskan dalam Al Qur’an. Beribadahlah kepada Allah dengan mengimani Al Qur’an dan berita-berita yang terdapat di dalamnya. Beribadahlah kepada Allah dengan menjalankan perintah dan larangan Al Qur’an. Beribadahlah kepada Allah dengan menjadikan Al Qur’an prinsip & panduan dalam kehidupan.
Bukan hanya beribadah saja, Allah menegaskan pula bahwa ibadah itu mestilah murni untuk Allah, bukan untuk selain-Nya sedikitpun juga.
مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ
“dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [QS Az-Zumar: 2]
Yaitu dengan tauhid dan tidak melakukan kesyirikan. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan keselamatan di dunia & akhirat. Allah berfirman di ayat lain:
{ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ }
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” [QS Al-Anʿām: 82]
Al Qurthubi rahimahullah membawakan satu riwayat dalam tafsirnya:
وَفِي حَدِيثِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَتَصَدَّقُ بِالشَّيْءِ. وَأَصْنَعُ الشَّيْءَ أُرِيدُ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ وَثَنَاءَ النَّاسِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ “وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ شَيْئًا شُورِكَ فِيهِ” ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ “أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخالِصُ”
Dari Abu Hurairah, dalam sebuah hadis hasan, disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bersedekah dengan suatu pemberian dan melakukan suatu amal. Aku menginginkan dengannya wajah Allah, tetapi juga menginginkan pujian manusia.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, Allah tidak menerima suatu amal yang dipersekutukan (niatnya) dengan selain-Nya.”
Kemudian beliau ﷺ membaca firman Allah:
﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ﴾
“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama (ibadah) yang murni (ikhlas).” (QS. Az-Zumar: 3)
BERIBADAHLAH HANYA KEPADA ALLAH
Ketika memerintahkan untuk menjalankan ibadah & ketaatan, Allah perintahkan untuk memurnikannya hanya pada Allah. Jangan sampai beribadah kepada selain Allah.
فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصࣰا لَّهُ ٱلدِّینَ }
“Maka beribadahlah pada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [QS Az-Zumar: 2]
Inilah tujuan diciptakannya manusia, untuk beribadah hanya pada Allah semata.
Ibnu Asyur rahimahullah berkata dalam tafsirnya:
والإخْلاصُ: الإمْحاضُ وعَدَمُ الشَّوْبِ بِمُغايِرٍ، وهو يَشْمَلُ الإفْرادَ. وسُمِّيَتِ السُّورَةُ الَّتِي فِيها تَوْحِيدُ اللَّهِ سُورَةَ الإخْلاصِ، أيْ: إفْرادِ اللَّهِ بِالإلَهِيَّةِ. وأُوثِرَ الإخْلاصُ هُنا لِإفادَةِ التَّوْحِيدِ وأخَصِّ مِنهُ وهو أنْ تَكُونَ عِبادَةُ النَّبِيءِ ﷺ رَبَّهُ غَيْرَ مَشُوبَةٍ بِحَظٍّ دُنْيَوِيٍّ كَما قالَ تَعالى ﴿قُلْ ما أسْألُكم عَلَيْهِ مِن أجْرٍ﴾ [الفرقان: ٥٧] .
والدِّينُ: المُعامَلَةُ. والمُرادُ بِهِ هُنا مُعامَلَةُ المَخْلُوقِ رَبَّهُ وهي عِبادَتُهُ. فالمَعْنى: مُخْلِصًا لَهُ العِبادَةَ غَيْرَ خالِطٍ بِعِبادَتِهِ عِبادَةَ غَيْرِهِ.
“Ikhlas adalah memurnikan sesuatu dan tidak mencampurkannya dengan sesuatu yang berbeda. Makna ini mencakup mengesakan. Oleh karena itu, surah yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang tauhid kepada Allah disebut Surah Al-Ikhlas, yakni mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya.
Kata ikhlas digunakan di sini untuk menunjukkan makna tauhid, dan makna yang lebih khusus darinya, yaitu bahwa ibadah Nabi ﷺ kepada Rabb-nya tidak tercampuri oleh kepentingan duniawi, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ﴾
“Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan apapun kepada kalian atasnya.” (QS. Al-Furqan: 57)
Adapun ad-Diin berarti muamalah (hubungan/interaksi). Yang dimaksud di sini adalah hubungan seorang makhluk dengan Rabb-nya, yaitu ibadahnya kepada-Nya.
Maka makna ayat tersebut: “Dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, tanpa mencampurkan ibadahnya dengan ibadah kepada selain-Nya.” (Tafsir Ibnu Asyur)
Semoga berikan rahmat pada kita melalui Al Qur’an, dan Dia jadikan Qur’an sebagai pemandu, cahaya, petunjuk dan rahmat-Nya bagi kita.
Wallahu a’lam. Walhamdulillah.
Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.