Fawaid Hadist #184 | “Tingkatan Mengubah Kemungkaran Menurut Kemampuan”

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. [مسلم (٤٩) (٧٨)]
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim]
Pelajaran Penting dari hadits ini
1. Mengingkari kemungkaran punya tingkatan
Yang paling tinggi adalah dengan tangan, lalu dengan lisan, dan paling rendah adalah dengan hati. Dan ingkar dengan hati ini tidak boleh gugur dalam keadaan apa pun.
2. Pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kedudukannya yang agung
Ini termasuk salah satu ciri khas keimanan seorang muslim.
3. Kemudahan Islam dan hilangnya kesulitan dalam syariat
Semua beban hukum dalam Islam disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan seseorang.
4. Iman itu bertingkat-tingkat dalam hati dan amalan
Bisa bertambah dan berkurang sesuai kondisi.
5. Iman adalah ucapan dan perbuatan
Karena Nabi ﷺ menjadikan tingkatan iman ini dengan tangan, lisan, dan hati. Jadi iman mencakup semua amalan, bukan hanya keyakinan di hati saja.
[Referensi utama : Kitab Riyadhus Shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid hal. 166]
👤 Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho