Fawaid Hadist #123 | Keutamaan Kontinuitas Berpikir Tentang Perkara Akhirat
Fawaid Hadist #123 | Keutamaan Kontinuitas Berpikir Tentang Perkara Akhirat
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan serial fawaid hadist, Fawaid Hadist #123 | Keutamaan Kontinuitas Berpikir Tentang Perkara Akhirat. Selamat membaca.
[div class=fawaid-hadis]
وَعَنْ أَبِيْ رِبْعِيٍّ حَنْظَلَةَ بْنِ الرَّبِيْعِ الأُسَيِّدِيِّ الْكَاتِبِ أَحَدِ كُتَّابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَقِيَنَيْ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ ؟ قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُوْلُ ؟ قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ كَأَنَّا رَأْيَ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِيْنَا كَثِيرًا قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: فَوَاللهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلةُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « وَمَا ذَاكَ ؟ » قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ نَكُوْنُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَةِ كَأَنَّا رَأْيَ الْعَيْنِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزوَاجَ وَالْأَوْلَادَ والضَّيْعَاتِ نَسِيْنَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ تَدُوْمُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ عِنْدِيْ وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً » ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
Dari Abu Rib’iy Hanzhalah bin Ar-Rabi’ Al-Usayyidi Al-Khatib, dia salah seorang jurutulis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, “Pada suatu hari Abu Bakar menemuiku dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?”
Aku menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik!”
Abu Bakar berkata, “Maha Suci Allah, apa yang kamu katakan?”
Aku menjawab, “Ketika kita bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan surga dan neraka seolah kita melihatnya di depan mata kepala kita! Tetapi setelah kita keluar dari mejelis baginda, kita bercanda ria dengan istri, anak-anak dan harta benda, kita lupa banyak hal.”
Kemudian Abu Bakar berkata, “Demi Allah aku juga merasa demikian.”
Kemudian aku dan Abu Bakar bergegas menuju ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga kami menghadap baginda sembari berkata, “Hanzhalah telah berbuat munafik wahai Rasulullah!”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa maksudmu wahai Hanzhalah?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan surga dan neraka seolah kami melihatnya di depan mata kami, tetapi setiap kali kami keluar, kami bersenda gurau dengan istri, anak dan harta benda, kami lupa dengan banyak hal.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, seandainya kalian tetap sebagaimana keadaan kalian di hadapanku ini, niscaya para malaikat akan berjabat tangan dengan kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan, tetapi wahai Hanzhalah itu hanya sesaat-sesaat.” Baginda mengulangi hingga tiga kali.” (HR. Muslim, no. 2750).
[/div]Faedah Hadist
Hadist ini memberikan faedah – faedah berharga, di antaranya;
1. Keadilan syariat Islam dan kesempurnaannya. Karena Allah Ta’ala memiliki hak yang harus dipenuhi, begitu juga buat diri sendiri, keluarga, tamu, sehingga manusia menunaikan semua hak yang menjadi kewajibannya, beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tenang. Sebab, jika memberatkan dirinya maka akan merasa keberatan, lemah dan akhirnya meninggalkan banyak hak yang harus ditunaikan.
2. Keutamaan berpikir tentang perkara akhirat, dan mendahulukannya atas kepentingan dunia.
3. Dianjurkan bertanya pada saudara kita sesama muslim mengenai keadaannya.
4. Seorang yang berilmu hendaklah mendorong yang didakwahi untuk selalu memperhatikan hatinya dan bagaimana cara mengaturnya.
5. Terlalu tersibukkan dengan dunia benar-benar akan membuat kita lupa akan negeri akhirat. Namun siapa yang bisa menjaga hatinya dan tidak terlalu tersibukkan dengan kenikmatan dunia, maka dialah yang nanti akan selamat.
6. Keadaan hati manusia bisa berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain.
7. Manusia tidak bisa melihat malaikat dalam wujud aslinya di dunia.
8. Kontinu dalam beramal menjadi sifat para malaikat dan sifat ini adalah sifat yang terpuji.
9. Hendaklah setiap muslim cerdas membagi waktunya.
10. Pada asalnya munafik itu adalah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan kejelekan yang ada di batin. Inilah bentuk kemunafikan yang dikhawatirkan Hanzhalah. Lalu yang disebutkan oleh Hanzhalah tidaklah disebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai munafik. “Tetapi wahai Hanzhalah itu hanya sesaat-sesaat saja, Rasul mengulanginya hingga tiga kali.” Yaitu sesaat untuk Allah Ta’ala, sesaat untuk keluarga dan anak-anak, dan sesaat untuk diri sendiri, sehingga memberi kesempatan istirahat pada dirinya, dan memberikan hak pada pemiliknya.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.
[div class=fawaid-hadis]
Yuk dukung operasional & pengembangan dakwah Bimbingan Islam, bagikan juga faedah hadist ini kepada kerabat dan teman-teman.
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab perantara dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
*unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabiﷺ).
[/div]