
Ada satu bacaan doa yang banyak dihafal umat Islam, yang muda, yang tua, bahkan anak-anak kecil sekalipun. Doanya mudah dan betul-betul meminta kepada Allah untuk diberikan kebaikan yang luas di dunia & akhirat. Karenanya doa ini dikenal dengan istilah “Doa Sapu Jagad”. Doa tersebut adalah
رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka”.
Anda Pasti Menghafalnya Bukan?
Doa ini adalah doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
عنْ عبْدِ العزِيزِ بْنِ صُهَيبٍ قال: سَأَلَ قَتَادَةُ أَنَسًا: أَيُّ دَعْوَةٍ كانَ يَدْعُو بهَا النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ أَكْثَرَ؟ قالَ: كانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بهَا يقولُ: اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً، وفي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. قالَ: وَكانَ أَنَسٌ إذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بدَعْوَةٍ دَعَا بهَا، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بدُعَاءٍ دَعَا بهَا فِيهِ.
Dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, ia berkata: Qatadah pernah bertanya kepada Anas radhiyallahu anhu, “Doa apakah yang paling sering dibaca oleh Nabi ﷺ?”
Anas menjawab, “Doa yang paling sering beliau panjatkan adalah:
‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.’
Qotadah berkata lagi:
“Apabila Anas hendak berdoa dengan suatu doa, maka ia berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak memanjatkan doa-doa yang lain, maka ia memasukkan doa ini di dalamnya.” (HR Muslim)
Allah Yang Ajarkan
Doa tersebut ternyata bukanlah doa sembarangan. Doa tersebut diajarkan langsung oleh Allah dalam Al Qur’an.
Allah ta’ala berfirman.
{فَإِذَا قَضَیۡتُم مَّنَـٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَاۤءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرࣰاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یَقُولُ رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا وَمَا لَهُۥ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنۡ خَلَـٰقࣲ (200) وَمِنۡهُم مَّن یَقُولُ رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ2 (201) أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ نَصِیبࣱ مِّمَّا كَسَبُوا۟ۚ وَٱللَّهُ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ (202) }
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berdzikirlah mengingat Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berdzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada orang berdoa, Ya Tuhan Kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apapun”. (QS. Al-Baqarah: 200)
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka”. (QS. Al-Baqarah: 201)
“Mereka itulah orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya.”. (QS. Al-Baqarah: 202)
Ada pelajaran penting dari doa tersebut dan bagaimana Allah mengajarkannya kepada orang-orang yang telah selesai menunaikan ibadah haji. Apakah bisa juga dibaca di luar ibadah haji? Apa makna doa tersebut? Insya Allah akan kita bahas pada artikel ini.
Banyak Berdzikir Setelah Berhaji
Allah berfirman
{ فَإِذَا قَضَیۡتُم مَّنَـٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berdzikirlah mengingat Allah” (QS Al Baqarah: 200)
Allah mensyariatkan berdzikir setelah melakukan ibadah haji agar manusia senantiasa mengingat Allah dan tidak ujub dengan ibadah yang dilakukannya. Hal yang seperti ini bukan hanya pada ibadah haji saja, kita bisa dapati juga pada ibadah yang lain: dzikir setelah sholat, bertakbir setelah puasa Ramadhan dan lain sebagainya.
Berzikir Dengan Betul-Betul, Mengagungkan Allah
كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَاۤءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرࣰاۗ
“sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berdzikirlah lebih dari itu.” (QS. Al Baqarah: 200)
Allah memerintahkan agar orang-orang tersebut berzikir dengan sungguh-sungguh mengingat Allah, tidak main-main. Allah ungkapkan dengan “sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu”. At Thabari rahimahullah menyampaikan ada 3 pendapat ulama tentang maksud berzikir sebagaimana kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian.
Pertama, berdzikirlah kalian seperti dahulu orang-orang jahiliyah setelah haji menyebut-nyebut kemuliaan nenek moyangnya di hadapan orang-orang. Ath Thabari rahimahullah berkata:
فقال بعضهم: كان القوم في جاهليتهم بعد فراغهم من حجهم مناسكهم يجتمعون فيتفاخرون بمآثر آبائهم، فأمرهم الله في الإسلام أن يكون ذكرُهم بالثناء والشكر والتعظيم لربهم دون غيره، وأن يُلزموا أنفسهم من الإكثار من ذكره، نظيرَ ما كانوا ألزموا أنفسهم في جاهليتهم من ذكر آبائهم.
“Sebagian ulama berkata: dahulu orang-orang Arab pada masa jahiliah, setelah selesai dari haji dan manasik, mereka biasa berkumpul lalu saling berbangga dengan keutamaan dan jasa para leluhur mereka. Maka Allah memerintahkan mereka di dalam Islam agar penyebutan mereka beralih menjadi pujian, syukur, dan pengagungan kepada Rabb mereka semata, bukan kepada selain-Nya; dan agar mereka meluangkan diri untuk memperbanyak zikir kepada-Nya, sebagaimana dahulu mereka mewajibkan diri mereka untuk menyebut-nyebut (kebanggaan) para leluhur di masa jahiliah.”
Kedua, berdzikirlah kepada Allah seperti anak kecil menyebut-nyebut orangtuanya. Ath Thabari rahimahullah berkata:
وقال آخرون: بل معنى ذلك: فاذكروا الله كذكر الأبناءِ والصِّبيانِ الآباءَ.
“Pendapat lain mengatakan: Maksud ayat itu adalah: berdzikirlah kepada Allah sebagaimana anak-anak dan anak kecil menyebut orang tua mereka.”
Ketiga, berdzikirlah mengingat Allah seperti kalian dulu berdoa untuk orang tua kalian. At Thabari rahimahullah berkata,
وقال آخرون: بل قيل لهم:” اذكروا الله كذكركم آباءكم”، لأنهم كانوا إذا قضوا مناسكهم فدعوا ربَّهم، لم يذكروا غير آبائهم، فأمروا من ذكر الله بنظير ذكر آباءهم.
“Pendapat lain lagi mengatakan: Mereka diperintahkan: ‘Berdzikirlah kepada Allah sebagaimana kalian menyebut orang tua kalian’, karena dahulu setelah mereka selesai menunaikan manasik dan berdoa kepada Allah, mereka senantiasa menyebut ayah-ayah mereka. Maka mereka diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah dengan kadar dan kesungguhan yang sebanding dengan zikir mereka terhadap ayah-ayah mereka.” (Tafsir ath Thabari)
Ath Thabari rahimahullah membawakan beberapa riwayat pada masing-masing pendapat tersebut.
“Tidak ada dzikir khusus yang dibaca, seseorang boleh memperbanyak istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir atau bacaan dzikir lainnya”.
Memuji Allah Sebelum Berdoa
Rangkaian QS Al Baqarah 200-202 memerintahkan kita berdzikir memuji Allah sebelum kita memanjatkan doa kepadaNya. Begitulah adab berdoa kepada Allah.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid radhiallahu anhu, beliau berkata
سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ. رواه أبو داود (1481)، والترمذي (3477) وقال: حسن صحيح
Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya, namun ia tidak memuji Allah Ta‘ala dan tidak bershalawat kepada Nabi ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya lalu bersabda kepadanya—atau kepada selainnya:
“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjungNya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, setelah itu barulah ia berdoa dengan apa saja yang ia kehendaki.” (HR Abu Dawud 1481 & at-Tirmidzi no. 3477; at-Tirmidzi berkata: hasan shahih).
Hendaklah seorang muslim menjaga adab ini sehingga doanya semakin berkualitas dan semakin mudah diijabah oleh Allah.
Bersambung ke bagian #2
Ditulis oleh ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.