Da’i Yang Tidak Mengikuti Perkembangan Berita

Da’i Yang Tidak Mengikuti Perkembangan Berita

Kondisi Ahli Ilmu dan Pemilik Keutamaan

Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ta’ala berkata :
“Diantara ucapan yang banyak tersebar ialah tuduhan yang dilontarkan terhadap sebagian ahli ilmu dan pemilik keutamaan dengan tuduhan jahil terhadap keadaan orang-orang munafiqin dan liberal. Ini bukan aib sama sekali, karena ada di dalam tubuh umat ini keberadaan orang munafiq atau zindiq yang tidak diketahui keadaannya oleh para ulama. Dan ketidak-tahuan para ulama ini bukan merupakan aib sama sekali bagi mereka.”

Al-Imam Adz-Dzahabi menyatakan :
“Ada sekelompok orang di masa Nabi shalallahu alaihi wa sallam mereka menisbatkan diri kepada sahabat dan kepada Islam, sedangkan secara batin mereka adalah gembong-gembong munafiqin. Keberadaan mereka ini terkadang tidak diketahui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau juga tidak mengetahui keadaan mereka. Allah ta’ala berfirman :

وَمِمَّن حَولَكُم مِنَ الأَعرابِ مُنافِقونَ ۖ وَمِن أَهلِ المَدينَةِ ۖ مَرَدوا عَلَى النِّفاقِ لا تَعلَمُهُم ۖ نَحنُ نَعلَمُهُم ۚ سَنُعَذِّبُهُم مَرَّتَينِ ثُمَّ يُرَدّونَ إِلىٰ عَذابٍ عَظيمٍ

“Dan diantara penduduk Madinah mereka keterlaluan kemunafikannya, kamu (Muhammad) tidak mengetahuinya, tapi Kami mengetahuinya dan Kami akan mengazab mereka dua kali.” (QS. At-Taubah : 101).

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penghulu seluruh manusia saja tidak mengetahui keadaan orang-orang munafik. Padahal beliau hidup bersama mereka di madinah bertahun-tahun lamanya. Maka wajar jika keberadaan kelompok munafik ini juga kadang tidak diketahui oleh para ulama umat ini.
(Wujub Tho’atis Sulthon Fi Tho’atir Rohman : 44-45 oleh Syaikh Muhammad Al-‘Uraini).

Peringatan Kepada Para Da’i

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi menuliskan peringatan untuk para dai yang senantiasa menyibukkan dirinya dengan berita-berita di media massa :

Peringatan keras terhadap hobi suka menyebar-nyebarkan berita. Karena berita itu membawa keamanan dan rasa takut, sedangkan jiwa itu lemah.

Belum lagi jiwa itu memiliki syahwat/nafsu untuk selalu ingin mengetahui berita-berita terutama berita yang berkaitan dengan masalah kursi/kekuasaan. Sesungguhnya hati itu cenderung lebih condong kepadanya, serta cenderung berpaling dari wahyu.

Sa’ad berkata : Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya -shalallahu alaihi wa sallam-.

Lantas beliau membacakan Al-Quran itu kepada para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- dalam waktu yang lama, merekapun kemudian berkata :

“Wahai Rasulullah seandainya engkau mengabarkan kepada kami kisah-kisah.”.

(Pandangan Tajam Terhadap Politik : 223 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jaza’iri).

Suatu ketika dikatakan kepada Ali bin Hajj seorang dai yang gemar menekuni berita-berita dan gemar mencaci kebijakan penguasa :

“Kami telah bosan dengan pelajaran politik, ayolah ajari kami agama kami, kami menginginkan engkau memulai dengan bab thaharah/bersuci dan juga bab Al-Miyah/air, dan jangan berbicara tentang politik meski cuma sekali.”

Ali bin Hajj lantas berkata : “Aku bisa saja melakukannya, akan tetapi jika aku teringat bahwa pemerintah memutus saluran air dari manusia (korupsi dana air) pada waktu yg aku tidak bisa tinggal diam atasnya.”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menyatakan : “Aku menyebutkan kisah ini agar kalian tahu hasil akhir dari penghargaan para dai politik terhadap ilmu syar’i. Aku tidak tahu apakah dia menyadari atau tidak tahu akan sebuah kenyataan, bahwa ketika penguasa memotong saluran air yang merupakan kehidupan badan, sedang ia memotong pelajaran agama dari manusia yang merupakan kehidupan hati, mana dari keduanya yang lebih kriminal dalam hal ini?.” (Pandangan Tajam Terhadap Politik : 168, oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jaza’iri).

Sungguh mulia kedudukan ilmu agama, ia tak bisa sedikitpun ia dibandingkan dengan ilmu koran, atau media massa yang kebanyakannya berisi berita simpang siur yang tidak jelas kebenarannya. Hingga para ulama kita sangat bersemangat mendapatkan ilmu agama ini meski harus mengorbankan harta, waktu, tenaga, fikiran dan semua yang mereka miliki. Berikut kami sampaikan salah satu kisah nyata perjuangan ulama kita di dalam menuntut ilmu agama. Syaikh Muhammad Bahjat Baithar –rahimahullah– ulama sunnah di negri Syam yang merupakan salah satu guru dari Syaikh Al-Albani –rahimahullah-bertutur mengenang satu kejadian kala beliau menuntut ilmu :

كنا نقرأ على سيد الخضر الحسين التونسي المستصفى و صحيح مسلم وكان منزله جانب الجامع في باب السريجة فإذا فرغ من صلاة الفجر ورأى بعض الطلاب جلس للدرس وإن لم ير أحدا دخل منزله ولم يخرج فوافق أن حضرت أنا والشيخ حميد التقي ومصطفى الحلاق فوجدناه قد ذهب لداره فطرقنا عليه الباب فأطل من غرفة فوق الباب فلما رآنا قال انتظروا ثم دخل فظننا أنه نزل يفتح الباب فلم نشعر إلا وسطل الماء البارد علينا ينصب علينا وقال هذا جزاء من يتأخر عن الدرس

“Dahulu kami membaca di hadapan Sayyid Al-Khadhr Al-Husain At-Tunisi kitab Al Mustashfa dan Shahih Muslim. Rumah beliau kala itu ada di samping masjid dekat pintu Sirijah. Jika setelah shalat subuh beliau melihat keberadaan beberapa murid, beliau duduk untuk mengajar. Jika tidak melihat adanya murid beliau masuk ke rumah dan tidak keluar.

Akupun bersepakat untuk menghadiri pelajaran bersama Syaikh Hamid At-Taqi dan Syaikh Mushthafa Al-Hallaq. Kami mendapati beliau telah pergi ke dalam rumah, sehingga kami mengetuk pintu rumah beliau. Beliaupun melongok dari kamar yang ada di atas pintu tempat kami berdiri, ketika melihat kami beliau berkata, “Tunggulah sebentar !….”, lalu beliau kembali masuk.

Kami mengira beliau akan turun membukakan pintu untuk kami. Kami tidak merasakan apa-apa kecuali air dingin yang diguyurkan kepada kami. Beliau berkata, “Inilah balasan bagi orang yang terlambat menghadiri pelajaran.”.

(Sumber Rijalun Faqadnahum : 2/709 oleh Syaikh Muslim Al-Ghunaimi).
Begitulah pengorbanan para ulama demi mendapatkan kemuliaan dunia akhirat dengan cara menuntut ilmu agama. Dan bait syar’i di bawah ini yang seharusnya menjadi cita-cita kita sebagai kaum muslimin terlebih lagi para dai yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat :

.:: Cita-citaku di dunia adalah menyebarkan ilmu … Serta menularkannya ke setiap penjuru negeri.
.:: Serta berdakwah mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah … Yang mulai dilupakan oleh manusia di zaman ini.
.:: Mereka menggantinya dengan koran … terkadang dengan TV yang merupakan sumber keburukan dan kemungkaran.
.:: Dan radio mereka juga tak kalah keburukannya … Berapa banyak waktu disiakan-siakan dengan kebangkrutan sebagai hasilnya.
(Pandangan Tajam Terhadap Politik : 226-227 Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jaza’iri).

Wallahu ta’ala a’lam

Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com

CATEGORIES
Share This

COMMENTS