ArtikelFiqihIbadah

Cara Mengobati Penyakit Was-Was Dalam Ibadah

Cara Mengobati Penyakit Was-Was Dalam Ibadah

Pertanyaan: Ustadz, izin bertanya. Akhir-akhir ini saya sering mengalami penyakit was-was dalam ibadah sholat saya. Saya sering kali ragu, apakah sudah membaca Al Fatihah, sudah berapa rakaat, apakah ada rukun sholat yang tertinggal, dsb. Bahkan sering sekali saya mengalami ini. Bagaimana caranya untuk mengatasinya ya Ustadz? Mohon bimbingannya..

Jawaban: Bismillah… Semoga Allah memberikan taufik kepada penanya dan kita semua untuk bisa beribadah dengan tenang dan benar. Apa yang Anda alami dikenal dalam istilah syar’i sebagai was was (bisikan setan). Ini adalah penyakit hati yang bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang sedang berusaha khusyuk dalam ibadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَالْوَسوَاسُ يَعرِضُ لكُلِّ مَنْ تَوَجهَ إلَى اللهِ – تعالى – بِذِكرٍ، أَوْ غَيْرِهِ، لَا بُدَّ لَهُ مِنْ ذَلِكَ، فَيَنبغِي لِلْعَبدِ أَنْ يَثبُتَ، وَيَصبِرَ، وَيُلازِمَ مَا هو فِيهِ مِن الذِّكرِ وَالصلَاةِ، وَلَا يَضجَر، فَإِنَّه بِمُلَازمةِ ذلك، يَنْصَرِفُ عَنْهُ كَيْدُ الشيطَانِ؛ ﴿ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا ﴾ [النساء: 76]، وَكُلَّمَا أَرَادَ الْعَبْدُ تَوَجُّهًا إلَى اللهِ – تعالى – بِقَلْبِهِ جَاءَ مِنْ الْوَسْوَاسِ أُمُورٌ أُخْرَى، فَإِنَّ الشيطَانَ بِمَنزِلَةِ قَاطِعِ الطرِيقِ، كُلَّمَا أَرادَ الْعبدُ أن يَسِير إلَى اللهِ – تعالى – أَرَادَ قَطعَ الطرِيقِ عَلَيْهِ؛ وَلِهَذَا قِيلَ لِبَعْضِ السَّلَفِ: إنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصارَى يَقُولُونَ: لَا نُوَسْوَسُ، فَقَالَ: صَدَقُوا، وَمَا يَصنَعُ الشيطَانُ بِالْبَيْتِ الْخَرَابِ”. اهـ.

Was Was (bisikan setan) pasti akan muncul pada siapapun yang sedang berusaha mendekat kepada Allah Ta‘ala, baik melalui zikir maupun ibadah lainnya. Ini sesuatu yang tak bisa dihindari. Maka seorang hamba seharusnya tetap teguh, bersabar, dan terus konsisten dengan zikir dan shalatnya. Jangan merasa jenuh, karena dengan terus-menerus melakukannya, tipu daya setan akan hilang. Sebagaimana firman Allah: ‘Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah’ (QS. An-Nisa: 76).

Setiap kali seorang hamba ingin menghadapkan hatinya kepada Allah, maka muncul berbagai bisikan baru dari setan. Setan itu seperti perampok di jalan — setiap kali engkau ingin berjalan menuju Allah, dia berusaha memotong jalanmu.

Karena itulah, ketika ditanyakan kepada sebagian ulama salaf: ‘Mengapa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan mereka tidak mengalami waswas?’ Maka mereka menjawab: ‘Itu benar. Apa gunanya setan mengganggu rumah yang sudah hancur?’.”

  1. Was-Was Adalah Godaan Setan

Was-was merupakan salah satu senjata setan untuk membuat seorang hamba gelisah, ragu, dan pada akhirnya lelah dalam beribadah. Inilah penyakit wawas yang Allah ajarkan kepada kita untuk berlindung kepadaNya:

> قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَـٰهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5)

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS. An-Naas: 1–5)

Dalam hadis yang shahih, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا نُودي للصَّلاةِ أدبر الشَّيطانُ له ضُراطٌ حتَّى لا يسمَعَ النِّداءَ فإذا قُضِي النِّداءُ أقبل ، حتَّى إذا ثُوِّب بالصَّلاةِ أدبر ، حتَّى إذا قُضِي التثويبُ أقبل حتَّى يخطُرَ بين المرءِ ونفسِه ، يقولُ : اذكُرْ كذا واذكُرْ كذا لما لم يكُنْ يذكُرُه حتَّى يظلَّ الرَّجلُ إن يدري كم صلَّى

“Apabila azan untuk shalat dikumandangkan, maka setan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar azan. Setelah azan selesai, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan, ia kembali lari. Setelah iqamah selesai, ia datang lagi hingga ia membisiki seseorang antara dirinya dan hatinya, seraya berkata: ‘Ingat ini dan ingat itu’, yaitu hal-hal yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai-sampai orang itu tidak tahu lagi berapa rakaat yang telah ia shalatkan.” (HR. al-Bukhārī no. 608, Muslim no. 389)

  1. Ta’awudz dan Mengabaikan Was-Was

Langkah pertama: ketika seseorang merasa terganggu oleh was-was adalah berlindung kepada Allah dengan membaca ta’awudz:

 أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Arti: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ حالَ الشيطانُ بيني وبين صلاتي وبين قراءتي قال: ذاك شيطانٌ يقالُ له خِنْزَبٌ فإذا أنت حَسَستَه فتعوذ باللهِ منه واتفلْ عن يسارِك ثلاثًا قال: ففعلتُ ذاك، فأذهبه اللهُ عزَّ وجلَّ عني

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku dalam shalat dan bacaanku, sehingga aku kesulitan. Maka Rasulullah bersabda: ‘Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka mintalah perlindungan kepada Allah dan meludahlah ke arah kiri sebanyak tiga kali.’ Maka aku pun melakukannya, dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203)

Langkah kedua: mengabaikan bisikan tersebut dan tidak menuruti keraguan itu.

Abaikan, jangan Anda dengar, mendengar waswas apalagi menuruti adalah menghormati syetan. Jangan biarkan setan percaya diri menggoda anda, abaikan bisikannya, respon dengan ta’awudz, agar mereka minder dan menjauh. Mendengarkan nasehat orang gila lebih terhormat daripada Mendengar nasehat setan. Apalagi kita bahkan tak akan pernah mau mendengarkan nasehat orang gila. Setan lebih gila dari orang gila.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

إذا عَرَضَ له الوِسواسُ، فيلْجأْ إلى الله – تعالى – في دفعِ شرِّه، وليُعرِضْ عن الفكر في ذلك، ولْيَعلمْ أن هذا الخاطر من وسوسةِ الشيطان، وهو إنما يسعى بالفساد، والإغراء؛ فلْيُعرِضْ عن الإصغاء إلى وسوسته، ولْيُبادرْ إلى قطعِها بالاشتغال بغيرها”

“Jika seseorang mendapatkan waswas (bisikan/gangguan pikiran) dalam shalat, hendaklah ia berlindung kepada Allah Ta‘ala untuk menolak keburukannya, dan berpaling dari memikirkannya. Hendaknya ia menyadari bahwa pikiran tersebut berasal dari bisikan setan, dan setan itu tidak menginginkan kecuali kerusakan dan godaan. Maka janganlah mendengarkan bisikannya, dan segeralah memotongnya dengan menyibukkan diri pada hal lain.” (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim).

Dalam Fatawa Islam no.  248161 (2014/1435)  juga terdapat keterangan,

وما تحققت أنه وسوسة فأعرض عنه ولا تلتفت إليه، فإن علاج الوساوس يكون بالإعراض عنها وألا يعيرها الشخص اهتماما، وإياك أن تستجيب له فيما يزينه لك من ترك الصلاة أو غير ذلك من المعاصي، بل داوم على طاعة الله، وابتعد عن معصيته سبحانه

Jika kamu sudah yakin bahwa itu adalah” was-was (bisikan setan), maka abaikan saja dan jangan menoleh kepadanya. Cara mengatasi was-was adalah dengan tidak menanggapinya dan tidak memberinya perhatian. Jangan sekali-kali mengikuti bisikan yang membujukmu untuk meninggalkan shalat atau melakukan maksiat lainnya. Sebaliknya, teruslah dalam ketaatan kepada Allah dan jauhilah segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya”.

  1. Yakin Tidak Hilang Karena Ragu

Salah satu kaidah fikih penting yang sangat membantu dalam menghadapi was-was adalah:

 اليَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ

“Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”

Contohnya: jika seseorang ragu apakah ia sudah membaca Al-Fatihah atau belum, padahal merasa “kemungkinan besar sudah”, maka tetap lanjutkan shalat. Keraguan tidak bisa membatalkan sesuatu yang telah diyakini.

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى، ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, tidak tahu apakah ia shalat tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia buang keraguannya, dan tetapkan pada yang dia yakini, lalu sujud dua kali sebelum salam (sujud sahwi).” (HR. Muslim no. 571)

  1. Perkuat Ilmu Fikih dan Aqidah

Was-was mudah menyerang orang yang kurang ilmu, terutama dalam hal fikih ibadah. Karena itu, belajar fikih shalat dan thaharah secara benar adalah senjata terbaik untuk melawan was-was. Seperti yang dikatakan Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin:

الوسوسة محض الجهل.

 “Was-was itu murni berasal dari kebodohan.”

Penutup dan Saran Praktis:

  1. Saat was-was baca, ta’awudz dan ludah kecil ke kiri 3x.
  2. Abaikan dan jangan ikuti keraguan.
  3. Pegang prinsip “yakin tidak hilang karena ragu.”
  4. Perkuat pemahaman fikih, karena ilmu adalah benteng dari was-was.
  5. Perbanyak doa agar dilindungi dari syetan.

Semoga Allah menjaga kita semua dari gangguan was-was dan menjadikan ibadah kita khusyuk dan benar.

Wallāhu a‘lam.

Back to top button