KonsultasiMuamalah

Bolehkah Menerima Bonus Proyek dari Atasan

Bolehkah Menerima Bonus Proyek dari Atasan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bolehkah Menerima Bonus Proyek dari Atasan. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillaah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz.

Afwan Ustadz hendak bertanya, bagaimana hukumnya seorang karyawan yang menerima bonus dari kantor, bonus tersebut biasanya diberikan setelah menyelesaikan sebuah proyek, nilai bonus tidak menentu tergantung pimpinan? Apakah bonus tersebut halal bagi si karyawan? Apakah boleh jika si karyawan mengharapkan bonus tersebut di setiap akhir proyek? Jazakumullaahu khoiroo Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Boleh dan halal untuk mendapatkan hadiah dari atasan/pimpinan kita, sebagaimana kita mendapatkan gaji dari mereka. Selama tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku di tempat atau lembaga tersebut. Begitu pula berharap mendapatkan fee/bonus tersebut diperbolehkan, selama pemberian tersebut dari pimpinan, sesuai aturan dan tidak ada madharat/fitnah/kerusakan dengan pemberian tersebut , karena asal dari perbuatan itu adalah boleh.

Berbeda, bila hadiah tersebut dari klien atau konsumen yang di khawatirkan hadiah tersebut sebagai pelican/risywah dengan pekerjaannya, maka hal ini dilarang, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan, “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda,

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan, “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi melainkan ia akan datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan, ” Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau mengulang-ulanginya tiga kali).[ HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan,

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan) yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini tidak boleh diambil sedikit pun oleh pekerja tadi walaupun dia menganggapnya baik.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibni Utsaimin, Asy Syamilah, 18/232).

Semoga Allah memberikan kepada kita semua rezeki yang halal dan penuh keberkahan.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
USTADZ MU’TASIM, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 22 Shafar 1443 H/ 30 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Hukum Menabung Saham dalam Islam

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button