Bolehkah Mencintai Ulama dan Habaib Dengan Memajang Foto Mereka bimbingan islam
Bolehkah Mencintai Ulama dan Habaib Dengan Memajang Foto Mereka bimbingan islam

Bolehkah Mencintai Ulama dan Habaib Dengan Memajang Foto Mereka?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah mencintai ulama dan habaib dengan memajang foto mereka?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Saya mau tanya Ustadz, jika kita menggunakan foto ulama atau foto habaib dijadikan profil wa atau profil sosmed apakah boleh?
Kalau dijadikan wallpaper hp atau wallpaper komputer/laptop apakah boleh atau tidak?
mohon penjelasannya Ustadz, Syukron Ustadz.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Orang yahudi dan nasrani memvisualisasi (menggambarkan) para tokoh sebagai bentuk pernghormatan kepada tokoh mereka. Tujuan ini tak bisa lepas dari mengenang kesalehan dan jasa yang ditorehkan, baik itu dengan gambar nabi, ulama, orang shaleh, atau pun tokoh yang menjadi panutan mereka. Sampai bayi Nabi Isa bersama ibunda Maryam, mereka buat patungnya, mereka lukis gambarnya dan dibuat di ornamen-ornamen hiasan di dinding suatu bangunan, bahkan sampai dibuat kaca dan gantungan kunci sekalipun, anda akan menjumpainya.

Oleh karena itu, ketika beberapa istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Maimunah dan Ummu Salamah yang pernah berhijrah ke Habasyah (Ethyopia) ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih di Mekah.

Sepulangnya mereka dari Habasyah, dan mereka telah menjadi istri dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka pun bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai gereja yang mereka lihat di Habasyah. Di sana ada gereja Mariyah. Ummu Salamah bercerita, di dalam gereja itu ada banyak gambar-gambar tokoh nasrani.

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menimpali dengan sabdanya,

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka adalah sekelompok masyarakat yang apabila ada orang soleh di antara mereka yang meninggal, maka mereka akan membangun masjid di dekat kuburannya dan menggambar wajah orang soleh itu. Merekalah makhluk paling jelek di hadapan Allah.”
(HR. Bukhari, no. 434, Ahmad, no. 24984 dan lainnya).

Hadis di atas memberi pelajaran yang sangat berharga kepada kita, bahwa cara penghormatan tokoh agama, orang soleh seperti yang dilakukan oleh orang nasrani, dengan memajang gambar dan foto tokohnya, adalah tindakan tercela. Karena ini sebab terbesar orang melakukan kultus.

Zaman pun berubah, di era digital ini, kata orang industri zaman 4.0, data yang ada adalah kebanyakan kasus foto ulama, kiay, ustadz yang dikagumi banyak berseliweran dan dipajang di media sosial sebagai profil WA (WhatsApp), di wallpaper komputer/laptop atau pun platform media sosmed lainnya oleh para ‘fans’ dan pendukungnya, semua hal ini adalah menyelisihi adab Islam, dan sebaliknya sangat dekat dengan ajaran dan tasyabbuh dengan orang-orang nasrani, oleh karenanya memajang foto ulama, atau tokoh habaib atau pun foto lainnya di media sosial adalah terlarang menurut pendapat terkuat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Logika Sehat

Setiap muslim yang lurus fitrahnya meyakini bahwa manusia yang paling dicintai sahabat adalah Nabi Allah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat ada yang dulunya pandai menggambar. Namun tidak kita jumpai satupun diantara mereka yang membuat reka wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk dipajang di masjid nabawi atau di rumah mereka masing-masing. Tidak sekalipun anjuran dan keutamaannya datang dari riwayat palsu, apatah lagi riwayat yang shahih.

Walaupun kita sangat yakin, mereka tidak mungkin sampai menyembah gambar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tauhid Dan Iman mereka jauh lebih kuat dibandingkan tauhid kita.

Cara menghormati ulama atau tokoh adalah dengan mendoakan mereka dan melestarikan ajaran dan nasehat bimbingan yang mereka bawa. Bukan dengan menggambar mereka, memajang foto mereka sebagai profil di medsos atau wallpaper di komputer, apatah lagi perbuatan tersebut tidak mendapatkan izin mereka. Apakah mereka mau??? Ulama yang lurus akan menjawab, ‘tentu tidak’.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Senin, 26 Muharram 1442 H / 15 September 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini