
Bid’ah: Bahaya yang Lebih Menakutkan Daripada Maksiat
Alhamdulillah, washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash-hābihi ajma’in.
Bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan di dalam agama yang bukan bagian darinya.
Maka segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba yang ia niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla dari apa-apa yang tidak mempunyai asal dalam syariat maka hal tersebut dikategorikan sebagai bid’ah dan tidak mendapatkan penerimaan.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan amalan yang bukan bagian dari perkara kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim: 1718)
Dan semua bid’ah itu sesat tanpa terkecuali, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau lantunkan di setiap khutbahnya:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْر الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim: 867)
Bid’ah sebagai Pengantar kepada Syirik
Ketahuilah, bid’ah bisa menjadi jalan menuju syirik. Ia adalah asas dan pemicu utamanya. Banyak orang terus-menerus larut dalam perbuatan bid’ah hingga tidak sadar telah jatuh ke dalam kesyirikan.
Contoh paling jelas adalah kesyirikan pertama di muka bumi, yaitu syirik kaum Nabi Nuh ‘alaihissalām, yang disebabkan oleh bid’ah berupa sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih.
Ketahuilah bid’ah itu bisa menjadi syirik bermakna bahwa ia adalah pengantar menuju kepadanya, bahkan ia adalah asas dan pemicu utamanya, masih saja seseorang itu larut di dalam perbuatan bid’ah hingga ia tidak sadar telah jatuh kepada kesyirikan.
Lihatlah kesyirikan pertama yang terjadi di umat manusia yaitu syirik kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam yang tidak lain disebabkan oleh bid’ah ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih.
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pada firman Allah ‘azza wajalla:
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Mereka berkata: Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan sembahan-sembahan kamu, dan janganlah kamu meninggalkan Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.” (QS. Nuh: 23)
Beliau menjelaskan:
“Inilah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nuh ‘alaihis salam yaitu ketika mereka telah mati setan membisikkan kepada kaum mereka ‘buatlah patung-patung di majelis yang mereka biasa tempati duduk yang menyerupai wajah mereka, dan berilah ia nama sesuai dengan nama-nama mereka.’ Maka mereka pun melakukannya hanya saja ia belum disembah. Hingga ketika generasi itu telah berlalu dan ilmu telah dilupakan maka ia pun disembah.” (HR. Al-Bukhari: 4920)
Fenomena yang Sama di Zaman Ini
Hal serupa juga terjadi pada penyembahan kubur di zaman sekarang. Bermula dari sikap berlebihan kepada pemilik kubur, kemudian dibuatlah bangunan di atas kuburnya dengan dalih cinta kepadanya. Lalu muncul keyakinan bahwa berdoa di sisinya lebih afdhal daripada di masjid. Tidak lama berselang, kubur itu pun disembah selain Allah.
Demikian pula dengan berbagai bid’ah lain, seperti perayaan maulid, yang dalam banyak kasus berujung pada praktik kesyirikan. Allāhul musta‘ān.
Mengapa Ulama Keras dalam Masalah Bid’ah?
Tidaklah mengherankan jika para ulama sangat keras memperingatkan bahaya bid’ah, bahkan lebih keras daripada perbuatan maksiat lainnya. Sebab dampak bid’ah begitu luas: ia memadamkan sunnah, melemahkan agama, dan sedikit demi sedikit merobohkan bangunannya.
Hassan ibn ‘Athiyyah rahimahullāh berkata:
“Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu bid’ah, kecuali Allah akan mencabut dari mereka sunnah yang semisal dengannya. Kemudian Dia tidak akan mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.”
(Al-Ibanah al-Kubra, 1/351)
Dan Al-Imam Malik rahimahullah seringkali melantunkan bait ini:
وخَير أمورِ الدِّينِ ما كَانَ سُنَّةً … وشرُّ الأُمور المُحدَثَاتُ البَدائعُ
“Dan sebaik-baik perkara agama adalah apa yang menyepakati sunnah … dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan”
Maka wajiblah bagi sekalian kaum muslimin untuk menjauhi bid’ah dan saling memperingatkan akan bahayanya.
Penutup
Maka wajib bagi kaum muslimin untuk menjauhi segala bentuk bid’ah dan saling memperingatkan akan bahayanya, demi menjaga kemurnian tauhid dan kelestarian sunnah Nabi ﷺ.
Wallohu a’lam semoga bermanfaat baarokallohufikum