Adab & Akhlak

Bertambah Ilmu, Tambah Sombong?

Bertambah Ilmu, Tambah Sombong?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bertambah Ilmu, Tambah Sombong? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bagaimana seharusnya kita menyikapi bertambahnya ilmu? Saya khawatir muncul sifat sombong, karena jadi mudah melihat kesalahan dan kekurangan orang.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Grup WhatsApp)


Jawaban:

Ilmu Dapat Membuat Seseorang Menjadi Sombong

Sebab-sebab kesombongan itu ada banyak. Pangkat bisa membuat sombong, jabatan bisa membuat sombong, gelar bisa membuat sombong, begitu pun ilmu juga bisa membuat sombong. Seorang bisa sombong karena ilmunya, bisa karena gelarnya, bisa karena sanadnya, bisa karena gurunya, bisa karena masjidnya, majelis taklimnya, tajwidnya, dan lain-lain.

Jika harta berpotensi menjadikan pemiliknya sombong maka demikian pula ilmu -bila tidak ikhlas dalam menuntutnya- sangat lebih berpotensi menjadikan pemilik ilmu itu menjadi sombong kuadrat (sombong sekali), Wal ‘iyadzu billah,

Allah Ta’ala berfirman ;

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi suka membanggakan diri”. (QS. Luqman : 18).

Indikator Kesombongan

Jika seseorang mendapati dalam dirinya sifat senang dan suka meremehkan orang lain, suka mencibir orang lain, dan suka merendahkan orang lain, maka ketahuilah bahwasanya itu bukti atau indikator terbesar bahwa hatinya telah terjangkiti kesombongan, maka hendaknya dia waspada.

Dalam sebuah hadis, dari sahabat ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu berkata,

قَامَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ خَطِيبًا، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي، إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah di tengah-tengah kami lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ (saling merendah diri) agar tidak seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zalim pada yang lain.” (HR. Muslim 4/2198 no. 2865).

Jangan Jadi Abu Syibrin!

Seringkali pula seorang yang baru mendapatkan sedikit ilmu terkena penyakit sombong, merasa dirinya sebagai ulama dan melihat orang lain sebagai orang-orang yang bodoh bahkah rendahan, ia bangga dengan sedikitnya ilmu, bak seorang ulama yang faqih. Para ulama pun menjulukinya dengan Abu Syibrin.

Lalu Siapakah Abu Syibrin?

Para ulama menjulukinya dengan Abu Syibrin, ia adalah orang yang baru mendapatkan ilmu pada jengkal pertama. Sedangkan para ulama menyatakan bahwa ilmu mempunyai 3 jengkal. Orang yang mencapai jengkal pertama menjadi sombong, pada jengkal kedua ia menjadi tawadhu’ (rendah hati), sedangkan pada jengkal ketiga ia akan merasa kalau dirinya belum tahu apa-apa. (Hilya Thalabil ‘Ilmi, hal. 13-14)

Belajar seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk. Jangan sampai karena bertambahnya ilmu, yang seharusnya menjadikanmu semakin tawadu, malah menjerumuskanmu dalam kesombongan dan menilai rendah selainmu.

Doa Meminta Ilmu Bermanfaat dan Hidup Yang Berfaedah

Berapa banyak para penuntut ilmu yang gagal dalam meraih ilmu yang nafi’ (bermanfaat) akibat rusaknya niat. Awal niat yang suu’ (rusak) berakibat fatal pada kesudahannya, berakibat buruk bagi akhlaknya, berujung pula pada adzab.

Alangkah indah bila ilmu itu sesegar hujan yang turun dari langit, membasahi bumi. Tanah yang tandus, gersang terselimuti oleh kesegaran. Begitu juga tatkala letih, lapar dan dahaga yang dirasakan hilang sejenak, akibat manfaat ilmu yang nafi’.

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي. رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَالْحَاكِمُ

“Anas Radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membaca doa: Allahummanfa’ni bima ‘allamtani, wa ‘allimni ma yanfa’uni, warzuqni ‘ilman yanfa’uni. (artinya = Ya Allah manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku, dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku).” (HR. Tirmidzi, no. 3599 dengan sanad yang hasan).

Wallahu Al Muwaffiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Kamis, 28 Rabiul Awal 1443 H/ 4 November 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Hukum Salaman Dengan Non Muslim atau Orang Kafir

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button