Fiqih

Bersentuhan dengan Istri atau Suami Wudhu Batal?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

Bersentuhan dengan Istri atau Suami Wudhu Batal?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Bersentuhan dengan Istri atau Suami Wudhu Batal. Selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, ada yang pernah bilang ke ana katanya kalau sudah wudhu dan bersentuhan dengan suami itu batal. Sedangkan ana sendiri pernah menyimak dalam kajian salah satu asatidz bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam sering mencium istrinya ketika hendak pergi ke Masjid untuk shalat.

Jika apa yang dikatakan orang itu ke ana perihal batalnya wudhu saat bersentuhan dengan suami itu benar, mengapa bisa demikian Ustadz? Bukankah suami adalah mahram?

Lalu, apakah benar bahwa Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam memang sering mencium istrinya sebelum pergi ke Masjid (setelah berwudhu)?

Mohon penjelasannya, Ustadz.
Syukran wa jazaakumullaahu khayr.

جزاك الله خيرا

(Dari Fulanah Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini yang dirajihkan oleh Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz adalah menyentuh wanita itu tidak membatalkan wudhu, berikut redaksi fatwa beliau rahimahullah

لمس النساء في نقضه للوضوء خلاف بين العلماء:
فمنهم من قال: إنه ينقض مطلقًا، كالشافعي رحمه الله.
ومنهم من قال: أنه لا ينقض مطلقًا، كأبي حنيفة رحمه الله.
ومنهم من قال: ينقض مع الشهوة، يعني: إذا لمسها بتلذذ وشهوة ينقض الوضوء، وإلى ذلك ذهب الإمام أحمد رحمه الله.
والصواب في هذه المسألة وهو الذي يقوم عليه الدليلهو: أن مس المرأة لا ينقض الوضوء مطلقًا، سواء كان عن شهوة أم لا، إذا لم يخرج منه شيء؛ لأنه ﷺ قبل بعض نسائه ثم صلى ولم يتوضأ،

“Menyentuh wanita apakah membatalkan wudhu itu diperselisihkan oleh para ulama. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa menyentuh wanita itu membatalkan wudhu secara mutlak seperti Asy Syafii rahimahullah.

Di antara mereka ada yang menyatakan tidak membatalkan wudhu secara mutlak seperti Abu Hanifah rahimahullah.

Dan di antara mereka ada yang menyatakan membatalkan wudhu jika disertai syahwat. Maknanya jika seseorang menyentuh wanita disertai kelezatan dan syahwat maka membatalkan wudhu. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad rahimahullah.

Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang tegak di atas dalil yaitu menyentuh wanita itu tidak membatalkan wudhu sama sekali baik disertai syahwat ataupun tidak selama tidak ada yang keluar darinya sesuatu pun.

Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istri beliau kemudian shalat dan beliau tidak berwudhu lagi. ”

(Majmu Fatawa Syeikh Bin Baz : 10/135).

Wallahu a’lam


Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA. حفظه الله
Kamis, 4 Jumadil Awwal 1443 H/9 Desember 2021 M


Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله klik disini

Ustadz Abul Aswad Al Bayati, BA.

Beliau adalah Alumni S1 MEDIU Aqidah 2008 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Malang tahunan dari 2013 – sekarang, Dauroh Solo tahunan dari 2014 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Koordinator Relawan Brigas, Pengisi Kajian Islam Bahasa Berbahasa Jawa di Al Iman TV

Related Articles

Back to top button