Fiqih

Apakah Makan Daging Onta Membatalkan Wudhu? Berikut Dalil Dan Penjelasannya!

Apakah Makan Daging Onta Membatalkan Wudhu? Berikut Dalil Dan Penjelasannya!

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan apakah makan daging onta membatalkan wudhu? Berikut dalil dan penjelasannya! Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillah, afwan ustadz saya izin bertanya, saya pernah baca bahwa kalo kita makan makanan yang proses masaknya itu langsung kena api, maka wudu kita jadi batal, misalnya sate dan daging pada makanan kebab. Apakah itu benar ustadz? Lalu dalam materi fiqih kali ini disebutkan bahwa makan daging onta itu membatalkan wudu.

Apa itu artinya yang membatalkan wudu itu hanya daging onta dan makanan lainnya tidak membatalkan wudu? Jazaakallahu khayran.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Bismillah.

Benar bahwa hanya daging onta yang membatalkan wudhu, menurut pendapat yang kuat. Dan terkait dengan makanan yang terkena api maka pendapat yang lebih rajih adalah tidak membatalkan wudhu seseorang bila yang di makan bukan daging onta.

kami nukilkan jawaban serupa dengan apa yang disebutkan oleh Islamqa pada no fatwa 7103, disebutkan di situ sebagai berikut:

Ketika ditanyakan,” Apakah makan daging onta membatalkan wudu?

Maka di jawab,”

Alhamdulillah. Yang benar, dia diharuskan berwudu (lagi) setelah memakan daging onta, baik ontanya kecil ataupun besar, jantan maupun betina, dimasak maupun masih mentah. Hal ini telah ditunjukkan oleh dalil yang banyak, di antaranya;

1. Hadits Jabir, Nabi () ditanya, “Apakah kami berwudu dari (memakan) daging onta?” Beliau menjawab: “Ya”. Orang itu bertanya (lagi): “Apakah kami berwudu dari (memakan) daging kambing?” Beliau menjawab: “Jika anda mau.” (HR. Muslim, no. 360)

2. Hadits Bara, Nabi () ditanya tentang daging onta? Beliau menjawab: “Berwudulah kalian darinya.” Lalu beliau ditanya tentang daging kambing, maka beliau menjawab: “Tidak perlu berwudu.” (HR. Abu Daud, no. 184, Tirmizi, no. 81. Dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ishaq bin Rahaweh)

Sedangkan kelompok yang tidak mewajibkan wudu setelah memakan daging onta, mereka memberikan beberapa jawaban berikut:

Baca Juga:  Inilah Alasan Adanya Perbedaan Niat di Setiap Perbuatan

A. Hukum ini mansukh (dihapus). Dalil mereka adalah,

Hadits Jabir, bahwa ketetapan terakhir yang Rasulullah () putuskan dari dua perkara adalah tidak perlu berwudu dari (makanan) yang terkena api (HR. Abu Daud, no. 192, Nasa’i, no. 185)

Bantahan ini tidak dapat mengalahkan nash khusus yang telah disebutkan dalam Shahih Muslim. Kemudian di dalamnya tidak ada dalil dalam masalah nasikh (penghapusan). Karena mereka bertanya apakah kami berwudu dari (makan) daging kambing, maka beliau menjawab: “Jika Anda mau.”

Kalau sekiranya hadits ini dihapus hukumnya (mansukh), maka akan dihapus juga hukum memakan daging kambing. Dan perkataan beliau, ‘Jika kamu mau (berwudu)’ menunjukkan bahwa hadits ini lebih akhir dari hadits Jabir.

Sedangkan dalam masalah nasakh (penghapusan hukum) seharusnya ada dalil yang menunjukkan bahwa (hukum) penghapus seharusnya disebutkan kemudian, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu.

Kemudian hadits nasikh ini (tentang daging yang terkena api) cakupannya umum, sementara hadits ini (perintah wudu dari memakan daging onta) bersifat khusus yang mengkhususkan keumuman hadits tadi.

Kemudian pertanyaan tentang daging kambing menjelaskan sebab (illat) bukan masalah terkena api, karena kalau demikian, maka akan sama hukumnya antara daging onta dan daging kambing dalam masalah itu.

B. Mereka berdalil dengan hadits

الوُضُوءُ مِمَّا يَخْرُجُ لاَ مِمَّا يَدْخُلُ

“Berwudu dari apa yang keluar, bukan dari apa yang masuk.”

Bantahannya, hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, 1/116, namun dia menyatakannya lemah, begitu pula diriwayatkan oleh Ad-Daruqutni, hal. 55. Hadits ini lemah karena tiga sebab kelemahan. Silahkan lihat pembahasan tuntasnya (tahqiq) dalam kitab As-silsilah Ad-Dhaifah, no. 959.

Kalau pun kita terima hadits ini dianggap shahih, maka maknanya bersifat umum, sementara hadits yang mewajibkan wudu (setelah memakan daging onta) bersifat khusus.

C. Sebagaian dari mereka mengatakan: “Yang dimaksud dengan sabda beliau, ‘Berwudulah kamu semua darinya’ adalah membersihkan kedua tangan dan mulut dari daging onta karena kuatnya bau busuk dan lemak yang ada padanya, berbeda dengan daging kambing.

Baca Juga:  Bagaimana Jika Melanggar Sumpah Mati Kepada Istri?

Bantahan dari pernyataan ini adalah bahwa kesimpulan tersebut jauh sekali. Karena yang tampak dari nash adalah wudu syar’i bukan dari sisi bahasa (lughawi). Memahami lafaz syar’i dengan maksud syar’i adalah suatu keharusan.

D. Adapula di antara mereka mengambil dalil dari kisah yang tidak ada asalnya, ringkasannya adalah bahwa Nabi () suatu hari berkhutbah, salah satu di antara mereka (pendengar) keluar angin. Dan dia malu untuk berdiri di tengah banyak, sedangkan dia telah memakan daging onta.

Maka Nabi () berkata untuk menutupi rasa malunya: “Barangsiapa yang telah makan daging onta, hendaklah dia berwudu.” Maka sejumlah orang yang memakan daging onta berdiri untuk berwudu.

Bantahannya, Syekh Al-Albany rahimahullah berkomentar: “Sepengetahuanku (cerita) ini tidak ada asalnya, baik dari kitab-kitab sunnah atau kitab lainnya, baik kitab fiqih maupun tafsir.” (As-Silsilah Ad-Dhaifah, 3/268)

Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa keharusan berwudu setelah makan daging yang terkena api (dibakar/dipanggang) telah dihapus (hukumnya), dan bahwa setelah makan daging onta diharuskan berwudu.

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Pendapat bahwa (makan daging onta) membatalkan wudu adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaeh, Yahya bin Yahya, Abu Bakar bin Al-Mundzir, Ibnu Huzaimah dan pilihan Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi.

Diriwayatkan dari semua ahli hadits dan sejumlah para shahabat. Mereka berhujjah dengan hadits Jabir bin Samurah yang diriwayatkan oleh Muslim.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaeh berkata, “Terdapat dua hadits shahih dari Nabi (), (yaitu) hadits Jabir dan hadits Bara. Pendapat ini kuat dari sisi dalil, meskipun mayoritas (ulama) berbeda dengannya.

Mayoritas (ulama) telah menjawab hadits ini dengan hadits Jabir, bahwa ketetapan Rasulullah () yang terakhir kali dari dua masalah ini adalah bahwa tidak perlu berwudu setelah makan (daging) yang terkena api.

Akan tetapi hadits ini umum, sementara hadits berwudu setelah makan daging onta bersifat khusus. Dan yang khusus lebih didahulukan dibandingkan yang umum.” (Syarah Muslim, 4/49)

Baca Juga:  Apakah Sah Sholat Petugas Protokol Kesehatan Sholat Jumat di Masa Pandemi?

Yang berpendapat demikian (makan daging onta membatalkan wudu) dari ulama masa kini adalah Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Al-Albany.

Kemudian terkait dalil tidak batalnya wudhu setelah makan makanan yang terkena api, sebagaimana beberapa alasan dan riwayat berikut:

Mayoritas ulama yang berpendapat tidak batalnya wudhu karena memakan makanan yang dimasak tentu bukan tanpa dalil apalagi mengangkangi dalil seperti tuduhan keji sebagian orang jahil yang kurang adab kepada para ulama. Justru terdapat dalil-dalil yang stabit yang mendasari pendapat ini, diantaranya:

Hadist dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلمخُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi () sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu.” (HR. Abu Daud; shahih).

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

الْوُضُوءُ مِمَّا يَخْرُجُ وَلَيْسَ مِمَّا يَدْخُلُ

Wudhu’ dikerjakan karena perkara yang keluar dan bukan karena perkara yang masuk.” (HR. Daruquthni ; shahih).

Juga riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah (), tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak.” (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 ; shahih).

Wallahu’alam .

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jumat, 8 Dzulhijjah 1443 H/ 8 Juli 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button