Hukum Berhubungan Intim Ketika Tidak Tahu Sedang Haid bimbingan islam
Hukum Berhubungan Intim Ketika Tidak Tahu Sedang Haid bimbingan islam

Hukum Berhubungan Intim Ketika Tidak Tahu Sedang Haid

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang hukum berhubungan intim ketika tidak tahu sedang haid?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz dan admin serta kita semua dijaga Allah.

Saya tadi sholat shubuh dan dzkir pagi. Setelah itu berhubungan suami istri. Setelah berhubungan lampu kamar dinyalakan ternyata ada darah di tissue bekas lap mani suami. Padahal biasanya ana haid tgl 29 & 30. Berarti maju 2 hari.

Bagaimana hukum ustadz?
Saya posisi tidak tau, seandainya tau tidak mungkin ana mau berhubungan suami istri. Begitu juga suami. Mohon penjelasanya. Apakah ana dan suami berdosa dan harus membayar kaffarat? Jika harus membayar kaffarat. Mohon penjelasannya juga.
Jazaakallahu khoyran.

(Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T08 – G53)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Tidak berdosa dan tidak membayar kafarah apa-apa karena mereka berdua melakukan hal tersebut dalam keadaan tidak tahu. Disebutkan dalam salah satu redaksi fatwa :

فإذا جامع الرجل من تحل له وهي حائض وكانا يجهلان وجود الحيض أو جاءها الحيض أثناء الجماع فلا إثم عليهما، لحديث ثوبان رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه. رواه الطبراني في الكبير وصححه الألباني
لكن يجب عليه أن ينزع وقت ما علم بوجود الحيض، فإن لم ينزع واستمر وقع في إثم كبير ولزمته كفارة وطء الحيض وهي التصدق بدينار أو نصف دينار

“Apabila seorang lelaki menjima’i wanita yang halal baginya dalam keadaan haidh. Sedang keduanya tidak mengetahui atau haidh datang di tengah-tengah jima’ maka keduanya tidak berdosa. Berdasarkan hadits Tsauban radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‘Catatan dosa diangkat dari umatku karena ketidak sengajaan dan lupa, demikian pula karena dipaksa.’
Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Akan tetapi mereka berkewajiban untuk (langsung) menyudahi jima’ sesaat setelah mengetahui keberadaan haidh. Jika mereka tidak berhenti dan terus melakukan jima’ maka mereka terjerumus ke dalam perbuatan dosa besar. Dan wajib membayar kafarah menjima’i wanita haidh yaitu sedekah sebanyak satu dinar atau setengah dinar.”
(Fatawa Islamweb no. 27695).

BACA JUGA

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Senin, 13 Dzulhijjah 1441 H/ 03 Agustus 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini