ArtikelFiqih

Apakah Flek Coklat Sebelum Haid Termasuk Darah Haid?

Bismillah walhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.

Masalah munculnya cairan keruh kecoklatan (kudrah) atau kuning (shufrah) sebelum darah merah keluar seringkali menimbulkan keraguan. Untuk memahaminya secara logis, kita harus melihat pada waktu terjadinya dan keterkaitannya dengan darah haid yang utama.

Berikut penjelasan selengkapnya:

Kaidah Dasar berkenaan Shufrah dan Kudrah

Dalam kajian fiqih, cairan kuning, keruh, kecoklatan atau biasa disebut flek, tidak secara otomatis dianggap sebagai haid. Dasarnya adalah pernyataan Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الصُّفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

“Kami tidak menganggap cairan kuning (shufrah) dan keruh (kudrah) setelah suci sebagai bagian dari haid sedikit pun.” (HR. Bukhari no. 326 dan Abu Dawud no. 308).

Artinya, jika flek ini muncul di masa suci (jauh dari jadwal haid), maka ia bukanlah haid. Namun, hukumnya bisa saja berubah jika muncul di waktu yang berdekatan dengan haid.

Syarat Flek Coklat Dianggap sebagai Haid :

Para ulama menjelaskan bahwa flek coklat baru bisa dihukum sebagai haid jika memenuhi dua syarat berikut:

  1. Terjadi di Waktu Haid (Masa Rutin)

Jika flek muncul tepat pada tanggal kebiasaan Anda haid, atau disertai tanda-tanda biologis seperti nyeri perut (mulas).

  1. Bersambung Langsung dengan Darah Haid

Flek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi “pembuka” yang langsung diikuti oleh darah merah yang mengalir.

Kedua syarat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Fatwa Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:

أما إن كان هذا الوسخ جاء في أعقاب الحيض متصلاً بالحيض أو في أول الحيض أو في وقت الحيض، فإنه يعتبر حيضاً

“Adapun jika kotoran (flek) ini muncul mengiringi haid—baik tersambung langsung setelah haid, di awal masa haid, atau memang terjadi di waktu biasanya haid—maka hal tersebut dianggap sebagai bagian dari darah haid.” (Majmu’ Al-Fatawa Ibni Baz)

Dan juga Fatwa Islam berikut:

والذي يرجح ما ذكرنا من اعتبار الصفرة والكدرة قبل الحيض حيضا إذا كانا في زمن العادة ، واتصلا بدم الحيض ، وكان معهما ألم الحيض ، أن الصفرة والكدرة من ألوان الدماء عند أكثر الفقهاء ، والحيض هو انهيار جدار الرحم بما فيه من دم وغدد ، فينزل الدم على ألوان مختلفة متفاوتة ، فيبدأ قويا أسودا أو داكنا غالبا ، ثم يخف حتى يكون كدرة أو صفرة ، وقد يقع العكس ، فيبدأ صفرة وكدرة ، ثم دما ، وسيأتي من حديث عائشة رضي الله عنها ما يدل على أن الصفرة والكدرة قبل الطهر : حيض ، ولا فرق في الحقيقة بين نزولهما قبل الطهر ، أو نزولهما في زمن العادة قبل الدم ، مع علامات الحيض من الألم والوجع .

ولو قيل : إنه لا يشترط غير الاتصال لكان قولا قويا ، كما هو قول الشيخ ابن باز رحمه الله ، بشرط أن يكون في زمن العادة .

“Pendapat yang kuat menimbang penjelasan yang telah kami sebutkan; mengenai status shufrah (cairan kekuningan) dan kudrah (cairan keruh/flek coklat) sebelum haid dihukumi sebagai haid, apabila terjadi pada masa kebiasaan (siklus), bersambung dengan darah haid, dan disertai rasa sakit haid. Secara fakta, shufrah dan kudrah termasuk dalam warna-warna darah menurut mayoritas fuqaha (ahli fikih).

Haid sendiri merupakan luruhnya dinding rahim beserta darah dan kelenjar yang ada di dalamnya, sehingga darah keluar dengan warna yang berbeda-beda. Seringkali darah dimulai dengan kuat berwarna hitam atau merah tua, kemudian menipis hingga menjadi kudrah atau shufrah. Terkadang terjadi sebaliknya; dimulai dengan shufrah dan kudrah, baru kemudian darah (merah).

Kelak akan dipaparkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menunjukkan bahwa shufrah dan kudrah sebelum masa suci adalah haid. Secara hakikat, tidak ada perbedaan antara keluarnya kedua cairan tersebut sebelum masa suci, atau keluarnya pada masa siklus sebelum darah (merah) yang disertai tanda-tanda haid berupa rasa sakit dan nyeri.

Bahkan, jika ada yang berpendapat bahwa tidak disyaratkan apa pun selain ‘persambungan’ (dengan darah haid), maka itu adalah pendapat yang kuat, sebagaimana fatwa Syekh Ibnu Baz rahimahullah, dengan syarat hal itu terjadi pada masa siklus kebiasaan.” (IslamQA, 2012).

Hadis ‘Aisyah radhiyallahu’anha yang dimaksud adalah berikut:

Dari Ummu ‘Alqamah radhiyallahu’anha beliau berkata:

 

كَانَ النِّسَاءُ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ يَسْأَلْنَهَا عَنْ الصَّلَاةِ فَتَقُولُ لَهُنَّ لَا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنْ الْحَيْضَةِ

“Dahulu para wanita mengirimkan wadah kecil berisi kapas yang terdapat bekas cairan kekuningan (shufrah) dari sisa darah haid kepada Aisyah Ummul Mukminin. Mereka bertanya kepadanya tentang (hukum) salat. Maka Aisyah berkata kepada mereka: ‘Janganlah kalian terburu-buru (menganggap sudah suci) sampai kalian melihat al-qassah al-baydha’ (cairan putih bening).’ Yang beliau maksudkan dengan hal itu adalah tanda suci dari haid.”

(Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam “Irwa’ al-Ghalil” nomor 198, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara Mu’allaq dalam Kitab Haid, Bab Datang dan Berlalunya Masa Haid).

Kapan Ia Bukan Haid?

Sebaliknya, flek coklat tersebut bukanlah haid (statusnya hanya seperti air kencing/hadats kecil) apabila:

  1. Terputus: Keluar flek, lalu berhenti total (suci), baru kemudian beberapa hari lagi haid dimulai.
  2. Di Luar Jadwal: Muncul jauh sebelum tanggal rutin tanpa disertai rasa sakit haid.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  rahimahullah menegaskan:

إن كانت هذه الكدرة من مقدمات الحيض فهي حيض ، ويُعرف ذلك بالأوجاع والمغص الذي يأتي الحائض عادة ، أما الكدرة بعد الحيض فهي تنتظر حتى تزول لأن الكدرة المتصلة بالحيض حيض ، لقول عائشة رضي الله عنها : لا تعجلن حتى ترين القصة البيضاء

“Apabila cairan keruh (kudrah) ini merupakan bagian dari pendahuluan (tanda-tanda awal) haid, maka ia terhitung sebagai haid. Hal tersebut dapat diketahui melalui rasa nyeri dan mulas yang biasanya dialami oleh wanita yang sedang haid. Adapun cairan keruh (kudrah) yang muncul setelah haid, maka ia (wanita tersebut) harus menunggu sampai cairan itu hilang, karena cairan keruh yang bersambung dengan haid dianggap sebagai haid; berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha: ‘Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat cairan putih (al-qassah al-baydha’).’” (Sumber: Risalah ad-Dima’ ath-Thabi’iyyah, hal. 59)

Kesimpulan

Berdasarkan alur di atas, jika flek kecoklatan yang Anda alami:

  • Muncul di hari jadwal rutin Anda,
  • Disertai rasa mulas/nyeri haid,
  • Dan bersambung terus hingga darah merah keluar deras,

Maka flek tersebut sudah dihitung sebagai haid. Anda harus meninggalkan shalat sejak flek coklat itu pertama kali muncul. Namun, jika ia keluar sesaat lalu berhenti lama sebelum haid dimulai, maka Anda tetap wajib shalat dan cukup berwudhu setiap kali masuk waktu shalat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ditulis Oleh: Ustadz Ahmad Anshori. Lc., M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button