KonsultasiManhajUmum

Kapan Kita Boleh Untuk Mulai Dakwah? Mulai Dari Mana?

Kapan Kita Boleh Untuk Mulai Dakwah? Mulai Dari Mana?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang kapan kita boleh untuk mulai dakwah? Mulai dari mana?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz, kami mau bertanya. Kapan waktu yang tepat untuk mulai dakwah?
Sebatas apa ilmu yang sudah kita miliki hingga kita bisa dikategorikan sudah boleh berdakwah? Lalu dakwah nya dimulai darimana?
Dan apakah jika kita tidak menyampaikan sesuatu, namun bersikap baik itu sudah termasuk berdakwah?
Syukron, wa jazaakumullah khairan ya Ustadz.

(Disampaikan oleh Fulan, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Aamiin, terimakasih atas doa yang terpanjat, semoga Allah juga  memberikan kepada anda, serta kebahagiaan di dalam kehidupan kita semua.

Sebagaimana yang di perintahkan oleh agama, bahwa umat ini menjadi baik dan terbaik karena dakwah yang di lakukan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(QS: Ali ‘Imran: 110)

Berdakwah dengan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran, dengan mengajarkan ilmu yang di miliki adalah perintah kepada setiap orang yang telah memiliki kemampuan ilmu dalam hal itu. Sehingga bila ia memiliki ilmu maka ia berdakwah sesuai dengan ilmunya, maka inilah permulaan seseorang dalam berdakwah.

Firman AllahTa’ala,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allahdengan hujjah yang nyata.”
(QS. Yusuf [12]: 108)

Bila tidak mempunyai ilmu maka larangan atasnya untuk berdakwah karena ia akan terjebak kepada berbicara tanpa ada dalil, sehingga akan mendapatkan murka Allah bukan pahala. Sebagaimana firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)”
(QS Al-A’raf:33)

Firman Allah Ta’ala :

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.”
(QS. An-Nahl (16): 116)

Juga apa yang dikatakan oleh Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun” – (Al-Qashshash:50)
(Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Melihat keterangan yang telah di sebutkan di atas, pada dasarnya dakwah  bisa di  lakukan oleh siapapun selama ia telah mempunyai bashiroh/ilmu.
Baik ilmu terkait objek yang di ajarkan, ilmu terkait metode dakwah sehingga tidak memunculkan kegaduhan dengan efek negatif dari kesalahan cara yang di lakukan dalam mengajarkan serta ilmu  dengan tahapan yang akan di ajarkan, sehingga ilmu bisa di serap dengan baik , tepat sasaran dan berkesinambungan. Jangan sampai ia mengajarkan ilmu yang tidak dibutuhkan segera/sangat penting oleh orang tersebut, padahal ia membutuhkan ilmu lain dalam kehidupannya.

Syaikh Ibnu Utsaiminrahimahullah berkata,
“.. karena sesungguhnya perkara yang paling banyak merusak dakwah adalah ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Dan yang dimaksud ‘di atas bashirah’ itu bukan ilmu syari’at saja. Akan tetapi ia juga mencakup ilmu mengenai syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwahnya; itulah yang dikenal dengan istilah hikmah…”
(al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/82]).

Syaikh Abdurrazzaq al-Badrhafizhahullah berkata,
“Adapun orang yang berdakwah tanpa bashirah/ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”
(Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 111)

Apakah berarti kalau tidak punya ilmu tidak boleh berdakwah?

Selama ia punya ilmu maka silahkan ia berdakwah dengan cara yang baik, dan berhati hati untuk tidak melampaui batas dengan apa yang ia ketahui.

Berdakwah tidak harus dengan berdiri di atas mimbar, berdakwah bisa dilakukan dengan banyak cara dan media yang diperbolehkan. Dengan sikap kita, diam kita, senyum dan akhlak kita, dengan memberikan buku, dengan menyebarkan info dakwah, dengan menyebar artikel dakwah dan sebagainya, selama dalam koridor yang ia punya dari ilmu serta berhati hati dalam menyampaikan, maka dakwah bisa dilakukan.

Materi dakwah yang terpenting yang hendaknya dipahamkan lebih dahulu kepada kita dan orang orang sekitar kita, hendaknya banyak terkait dengan masalah tauhid dan Ittiba` kepada Rasulullah.
Di samping itu adalah syahadat yang harus di  lakukan oleh seorang yang akan masuk islam, pemahaman tauhid dan ittiba kepada rasulullah dengan baik dan benar adalah sebagai kunci pembuka dari kesadaran seorang muslim terhadap berbagai amal ibadah lainnya yang di bebankan di dalam syariat. Tauhid juga awal dakwah yang di lakukan oleh setiap nabi dan Rasul, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’”
(QS. An-Nahl: 36)

Maka berdakwalah dengan koridor yang telah dilakukan oleh para nabi, Rasulullah dan para salafusshalih dalam berbagai hal, sehingga keberkahan dalam dakwah bisa di dapatkan. Tidak harus menunggu diri kita menjadi ulama besar, yang terpenting ketika berdakwah rambu rambu harus selalu di perhatikan sebagaimana para ulama telah mengajarkannya. Selalu semangat dalam mengajarkan kebaikan dan kebenaran, sebagaimana Sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam :

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”
(HR.Bukhari no. 3461)

Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Rabu, 01 Jumadal Ula 1442 H/ 16 Desember 2020 M



Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Akhwat Jadi Youtubers? Apa Sudah Tahu Hukum Akhwat Upload Video ke Youtube?

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button