Apakah Doa Ayah Sama Dahsyatnya Dengan Doa Ibu
Apakah Doa Ayah Sama Dahsyatnya Dengan Doa Ibu
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apakah Doa Ayah Sama Dahsyatnya Dengan Doa Ibu, selamat membaca.
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz mau bertanya, apakah doa ayah sama dahsyatnya dengan doa ibu?
جزاك اللهُ خيراً
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
Ya, secara umum, doa ayah itu sama dahsyatnya dengan doa ibu. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat;
Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ ، و دعوةُ الصائمِ ، و دعوةُ المسافرِ
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: [1] doa orang tua (kepada anaknya) [2] orang orang yang berpuasa [3] doa orang yang sedang safar” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan-nya, no. 6619, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah).
Dalam riwayat lain :
Sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizhalimi.” (HR. Abu Daud, no. 1536. Dan ahli hadits Syaikh Al Albani menghukuminya sebagai hadits hasan).
Hadits ini dan lainnya yang semisal menunjukkan doa orang tua kepada anaknya itu mustajab. Baik doa ayah maupun doa ibu. Hal ini mencakup keduanya.
Namun, menurut sebagian ahli ilmu, seperti pendapat Al Munawi;
Doa ibu itu lebih mustajab lagi, beliau rahimahullah menjelaskan:
( ودعوة الوالد لولده ) لأنه صحيح الشفقة عليه ، كثير الإيثار له على نفسه ، فلما صحت شفقته : استجيبت دعوته ، ولم يذكر الوالدة مع أن آكدية حقها تؤذن بأقربية دعائها إلى الإجابة من الوالد ؛ لأنه معلوم بالأولى
“[Doa orang tua kepada anaknya] diijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya, dan orang tua banyak mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri. Sehingga doa disertai rasa sayang yang tulus, mengakibatkan dikabulkan doanya.
Dalam hadits ini tidak disebutkan lafadz “al walidah” (ibu) padahal ibu lebih ditekankan lagi haknya dan lebih besar kemungkinan dikabulkan doanya daripada ayah, ini dikarenakan keutamaan ibu sudah ma’lum (diketahui semua orang)”(Faidhul Qadir, 3/301).
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله