
DO’A, SEBAB DATANGNYA PERTOLONGAN
Allah ta’ala berfirman
{ وَلَمَّا بَرَزُوا۟ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ قَالُوا۟ رَبَّنَاۤ أَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرࣰا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ }
“Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” [QS Al-Baqarah: 250]
Di antara pelajaran penting dalam ayat ini, bahkan pelajaran terpenting dari seluruh kisah Thalut & Jalut ini adalah pentingnya berdoa untuk mendapatkan pertolongan Allah ta’ala khususnya ketika dalam kesempitan. Sebagaimana Allah berfirman:
{ إِذۡ تَسۡتَغِیثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّی مُمِدُّكُم بِأَلۡفࣲ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ مُرۡدِفِینَ }
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu,” [QS Al-Anfāl: 9]
Dengan sebab doa para pasukan, walaupun jumlah mereka sedikit, mereka pun bisa mengalahkan Jalut dan bala tentaranya yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih kuat. Begitulah kekuatan doa, semestinya bagi setiap mukmin senantiasa memulai, mengiringi dan mengakhiri ikhtiarnya dengan doa kebaikan.
SABAR, MODAL BESAR MENDAPATKAN KEMENANGAN
رَبَّنَاۤ أَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرࣰا
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran” (QS Al Baqarah: 250)
Di antara doa yang mereka panjatkan adalah meminta kesabaran karena kesabaran adalah sebab pertolongan. Allah ta’ala berfirman:
{ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَىِٕمَّةࣰ یَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یُوقِنُونَ }
“Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar & mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [QA As-Sajdah: 24]
Sabar adalah menahan diri agar tidak melewati batasan-batasan Allah dalam berikhtiar.
Para Ulama Menjelaskan Bahwa Sabar Itu Dalam 3 Perkara:
1) Sabar dalam meninggalkan ajakan kemaksiatan.
2) Sabar dalam menerima takdir Allah yang terasa tidak menyenangkan seperti sakit, kehilangan atau musibah lainnya.
3) Sabar dalam melakukan ibadah dan ketaatan pada Allah.
Dalam kisah Thalut dan Jalut ini, mereka meminta kesabaran jenis ke-3. Sabar dalam mengerjakan ketaatan pada Allah berupa jihad dalam keadaan pasukan yang sedikit sementara pasukan musuh lebih banyak dan lebih kuat. Allah menurunkan kesabaran pada mereka dan memenangkan mereka.
ORANG YANG DITOLONG, TEGUH DALAM MELANGKAH
Doa pasukan Thalut selanjutnya adalah:
وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ
“teguhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah: 250)
Keteguhan melangkah yaitu ketika seseorang tetap teguh menghadapi situasi sulit dengan berpedoman pada aturan Allah. Dia tidak mundur ataupun lemah menghadapi masalah. Tidak juga melanggar batasan-batasan Allah karena menganggap bisa cepat mengatasi masalah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا﴾ أَيْ: فِي لِقَاءِ الْأَعْدَاءِ وَجَنَّبْنَا الْفِرَارَ وَالْعَجْزَ
“teguhkanlah langkah kami” yaitu ketika menghadapi musuh. Jauhkan kami dari kabur dan sikap lemah. (Tafsir Ibnu Katsir)
Siapa yang hatinya sabar, langkahnya teguh & kokoh, maka inilah orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah. Namun sebagai hambaNya, kita pun tetap mesti mengusahakan pertolongan dengan doa. Maka pasukan Thalut pun meminta pada Allah.
وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ
“tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah: 250)
Orang-orang kafir yang membenci Islam, mereka akan senantiasa menyusun berbagai cara untuk menjauhkan manusia dari Islam, dari yang halus sampai yang kasar. Dalam banyak keadaan, kondisi kaum muslimin di atas kertas lebih lemah. Maka mereka sangat butuh untuk meminta pada pertolongan Allah Yang Maha Kuat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengajarkan kita doa perlindungan dari musuh. Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata
كان رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَتَعَوَّذُ مِن جَهدِ البَلاءِ، ودَرَكِ الشَّقاءِ، وسوءِ القَضاءِ، وشَماتةِ الأعداءِ. قال سُفيانُ: الحَديثُ ثَلاثٌ، زِدتُ أنا واحِدةً، لا أدري أيَّتُهنَّ هي.
“Rasulullah ﷺ biasa berlindung (berdoa memohon perlindungan) dari: beratnya bala/musibah, tertimpanya kesengsaraan, buruknya ketetapan (takdir), dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpa.”
Sufyan bin Uyainah berkata: “Hadits itu sebenarnya tiga perkara, lalu aku menambahkan satu perkara; aku tidak tahu yang mana tambahan itu.” (HR Bukhari Muslim)
PASUKAN THALUT MENANG JALUT TERBUNUH OLEH DAUD
Di akhir cerita ini, Allah ta’ala menceritakan terbunuhnya Jalut oleh salah seorang pasukan Thalut yang selanjutnya akan menjadi Nabi sekaligus raja untuk Bani Israil, dialah Daud alaihissalam. Allah ta’ala berfirman:
{ فَهَزَمُوهُم بِإِذۡنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا یَشَاۤءُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ }
“Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” [QS Al-Baqarah: 251]
Kisah bagaimana Daud alaihissalam membunuh Thalut sebagaimana disampaikan Al Baghawi dalam tafsirnya, akan kami ceritakan sendiri di bagian ke-4 tulisan ini, insyaallah.
Tentang ujung ayat ini, Al Baghawi berkata dalam tafsirnya:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ: وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ بِجُنُودِ الْمُسْلِمِينَ لَغَلَبَ الْمُشْرِكُونَ عَلَى الْأَرْضِ، فَقَتَلُوا الْمُؤْمِنِينَ، وَخَرَّبُوا الْمَسَاجِدَ وَالْبِلَادَ
Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, “Kalau bukan karena Allah menolak (kejahatan mereka) dengan pasukan kaum muslimin, niscaya orang-orang musyrik akan menguasai bumi. Lalu mereka akan membunuh kaum mukminin serta menghancurkan masjid-masjid dan negeri-negeri.” (Tafsir Al Baghawi)
Begitulah orang beriman, satu dengan yang lainnya semestinya saling membela dan mendukung dalam kebaikan.
Bersambung ke bagian #4
Ditulis oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.