ArtikelTafsir

KISAH PASUKAN THALUT, JALUT & NABI DAUD ALAIHISSALAM #BAGIAN 1

Allah ta’ala menceritakan pada kita banyak kisah dalam Al Qur’an agar kita mengambil pelajaran untuk kehidupan. Di antara kisah yang Allah ta’ala ceritakan adalah kisah seorang pemimpin yang bernama Thalut bersama pasukannya melawan musuh yang bernama Jalut. Di antara pasukan Thalut ini, terdapat seorang yang nantinya akan menjadi Nabi, yaitu Daud alaihissalam.

AWAL MULA & RINGKASAN KISAH

Kisah ini diawali dengan kedatangan pembesar Bani Israil kepada Nabi mereka untuk mengadukan kondisi mereka. Allah ta’ala berfirman:

{ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ مِنۢ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰۤ إِذۡ قَالُوا۟ لِنَبِیࣲّ لَّهُمُ ٱبۡعَثۡ لَنَا مَلِكࣰا نُّقَـٰتِلۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ قَالَ هَلۡ عَسَیۡتُمۡ إِن كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ أَلَّا تُقَـٰتِلُوا۟ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَاۤ أَلَّا نُقَـٰتِلَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَقَدۡ أُخۡرِجۡنَا مِن دِیَـٰرِنَا وَأَبۡنَاۤىِٕنَاۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَیۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا۟ إِلَّا قَلِیلࣰا مِّنۡهُمۡۚ وَٱللَّهُ عَلِیمُۢ بِٱلظَّـٰلِمِینَ }

“Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?! Mereka menjawab, Mengapa kami tidak berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami? Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” [QS Al-Baqarah: 246]

Bani Israil tersebut telah diserang oleh pasukan Jalut yang kuat sehingga mereka terusir. Mereka pun meminta kepada Nabi mereka untuk menunjuk pemimpin berdasarkan wahyu dari Allah ta’ala. 

Namun ketika Allah menunjuk pemimpin untuk mereka dan memerintahkan mereka berperang, sebagian besar mereka berpaling. Hanya sedikit yang benar-benar mau berjuang. 

As Sa’di mengatakan:

﴿فلما كتب عليهم القتال تولوا﴾ فجبنوا عن قتال الأعداء وضعفوا عن المصادمة، وزال ما كانوا عزموا عليه، واستولى على أكثرهم الخور والجبن ﴿إلا قليلا منهم﴾ فعصمهم الله وثبتهم وقوى قلوبهم فالتزموا أمر الله ووطنوا أنفسهم على مقارعة أعدائه، فحازوا شرف الدنيا والآخرة، وأما أكثرهم فظلموا أنفسهم وتركوا أمر الله، فلهذا قال: ﴿والله عليم بالظالمين﴾ـ

“Maka ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling”, yakni mereka menjadi pengecut dalam menghadapi musuh, lemah dalam pertempuran, dan hilanglah tekad yang sebelumnya mereka sampaikan. Rasa takut dan kelemahan menguasai kebanyakan mereka.

“Kecuali sedikit dari mereka”, Allah menjaga mereka, meneguhkan mereka, dan menguatkan hati mereka. Mereka pun tetap berpegang pada perintah Allah, serta menyiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh-Nya, sehingga mereka meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Adapun kebanyakan mereka, maka mereka telah menzalimi diri mereka sendiri dengan meninggalkan perintah Allah. “Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim” (Tafsir as Sa’di)

Ayat ini turun di tengah perjuangan & jihad para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Madinah, agar mereka tidak mengikuti jejak keburukan Bani Israil yang pengecut, tak mau berjuang di jalan Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengajarkan kita doa agar kita dijauhkan dari sikap pengecut. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu berkata:

كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُعَلِّمُنا هؤلاء الكَلِماتِ كما تُعَلَّمُ الكِتابةُ: اللهُمَّ إنِّي أعوذُ بكَ مِنَ البُخلِ، وأعوذُ بكَ مِنَ الجُبنِ، وأعوذُ بكَ مِن أن نُرَدَّ إلى أرذَلِ العُمُرِ، وأعوذُ بكَ مِن فِتنةِ الدُّنيا، وعَذابِ القَبرِ.

Dahulu Nabi ﷺ mengajarkan kepada kami kalimat-kalimat ini sebagaimana tulisan diajarkan (mesti dijaga , pent)

“ALLOHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL BUKHLI, WA A’UUDZUBIKA MINAL JUBNI, WA A’UDZUBIKA MIN AN NURADDA ILAA ARDZALIL ‘UMUR, WA A’UUDZUBIKA MIN FITNATIDDUNYAA WA ‘ADZAABIL QABRI”

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (pikun dan lemah), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan dari azab kubur.” (HR Bukhari).

PEMIMPIN DITUNJUK, KEMUDIAN DIINGKARI

Kemudian, Allah menyebutkan tentang penunjukkan pemimpin untuk Bani Israil, namun ternyata mereka pun mengingkarinya dan menolaknya. Sampai Nabi yang Allah utus pada mereka perlu menyampaikan penjelasan dengan lebih detail.

{ وَقَالَ لَهُمۡ نَبِیُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكࣰاۚ قَالُوۤا۟ أَنَّىٰ یَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَیۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ یُؤۡتَ سَعَةࣰ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَیۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةࣰ فِی ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ یُؤۡتِی مُلۡكَهُۥ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمࣱ }

“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja untukmu. Mereka menjawab, Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak? (Nabi) menjawab, Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” [QS Al-Baqarah: 247]

Mereka menolaknya karena mereka menganggap Thalut ini miskin dan bukan keturunan suku yang biasa memimpin Bani Israil. Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya 

وَكَانَ مِنْ سِبْطِ بِنْيَامِينَ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ سِبْطِ النُّبُوَّةِ وَلَا مِنْ سِبْطِ الْمُلْكِ، وَكَانَتِ النُّبُوَّةُ فِي بَنِي لَاوَى، وَالْمُلْكُ فِي سِبْطِ يَهُوذَا فَلِذَلِكَ أَنْكَرُوا. قَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ: لَمَّا قَالَ الْمَلَأُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ لِشَمْوِيلَ بْنِ بَالَ مَا قَالُوا، سَأَلَ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَبْعَثَ إِلَيْهِمْ مَلِكًا وَيَدُلَّهُ عَلَيْهِ، 

“Thalut berasal dari keturunan Binyamin, bukan dari suku yang biasa diangkat menjadi Nabi dan bukan pula dari suku biasa diangkat menjadi raja. Kenabian berada pada Bani Lawi, sedangkan kerajaan berada pada suku Yahudza. Karena itu mereka mengingkari Thalut.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Ketika para pembesar dari Bani Israil mengatakan kepada Syamwil bin Bal (nabi mereka) apa yang mereka katakan, maka Syamwil memohon kepada Allah Ta‘ala agar mengutus untuk mereka seorang raja dan menunjukkan siapa orangnya.

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: انْظُرْ إِلَى الْقَرَنِ  الَّذِي فِيهِ الدُّهْنُ فِي بَيْتِكَ فَإِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ رَجُلٌ فَنَشَّ  الدُّهْنَ الَّذِي فِي الْقَرَنِ، فَهُوَ مَلِكُ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَادْهُنْ رَأْسَهُ مِنْهُ وَمَلِّكْهُ عَلَيْهِمْ.

Maka Allah Ta‘ala berfirman kepadanya: “Perhatikan tanduk (wadah) yang berisi minyak di rumahmu. Jika masuk kepadamu seorang laki-laki lalu minyak yang ada di dalam tanduk itu memancar (menetes/bercucuran), maka dialah raja Bani Israil. Maka oles kanlah minyak itu ke kepalanya dan angkatlah ia menjadi raja mereka.”

 قَالَ: وَكَانَ طَالُوتُ دَبَّاغًا فَخَرَجَ فِي ابْتِغَاءِ دَابَّةٍ أَضَلَّهَا،  فَقَصَدَ شَمْوِيلَ عَسَى أَنْ يَدْعُوَ لَهُ فِي أَمْرِ الدَّابَّةِ أَوْ يَجِدَ عِنْدَهُ فَرَجًا، فَنَشَّ الدُّهْنَ عَلَى  مَا زَعَمُوا، قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ شَمْوِيلُ فَأَخَذَهُ وَدَهَنَ مِنْهُ رَأْسَ طَالُوتَ، وَقَالَ لَهُ: أَنْتَ مَلِكُ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِي أَمَرَنِي اللَّهُ تَعَالَى بِتَقْدِيمِهِ، ثُمَّ قَالَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ: “إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طالُوتَ مَلِكاً”

Wahb melanjutkan, “Thalut adalah seorang penyamak kulit. Ia keluar untuk mencari hewan miliknya yang hilang, lalu ia menuju kepada Syamwil, berharap agar ia mendoakan urusan hewan tersebut atau ia mendapatkan jalan keluar. Ketika masuk rumah Syamwil, minyak itu pun memancar sebagaimana yang mereka sangka. Syamwil berdiri menghampirinya, lalu mengambilnya dan mengoleskan minyak tersebut ke kepala Thalut, seraya berkata kepadanya: “Engkau adalah raja Bani Israil yang Allah Ta‘ala perintahkan kepadaku untuk mengangkatmu atas mereka.”

Kemudian Syamwil berkata kepada Bani Israil: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.” (Tafsir Al Qurthubi)

Ayat Ini Pun Memberikan Pelajaran Penting Pada Kita Tentang Kepemimpinan, Seorang Pemimpin Itu Mestilah Ada Padanya 2 Kekuatan.

1- Kekuatan Ilmu

2- Kekuatan Fisik

As Sa’di rahimahullah menjelaskan 

﴿وزاده بسطة في العلم والجسم﴾ أي: فضله عليكم بالعلم والجسم، أي: بقوة الرأي والجسم اللذين بهما تتم أمور الملك، لأنه إذا تم رأيه وقوي على تنفيذ ما يقتضيه الرأي المصيب، حصل بذلك الكمال، ومتى فاته واحد من الأمرين اختل عليه الأمر، فلو كان قوي البدن مع ضعف الرأي، حصل في الملك خرق وقهر ومخالفة للمشروع، قوة على غير حكمة، ولو كان عالما بالأمور وليس له قوة على تنفيذها لم يفده الرأي الذي لا ينفذه شيئا

“Dan Dia menambahkan kepadanya kekuatan dalam ilmu dan fisik”

Maksudnya: Allah menambah pada Thalut hal ilmu dan tubuh, yaitu dengan kuatnya pemikiran dan fisik, yang dengan keduanya urusan kekuasaan menjadi sempurna.

Apabila pemikirannya sempurna dan ia kuat untuk melaksanakan apa yang menjadi tuntutan kebenaran, dengan itu tercapailah kesempurnaan.

Namun jika salah satu dari 2 hal ini hilang, maka urusan akan rusak. Jika ia kuat secara fisik tetapi lemah dalam pemikiran, maka dalam kekuasaannya akan terjadi kerusakan, penindasan, dan penyelisihan terhadap yang benar, kekuatan tanpa hikmah.

Sebaliknya, jika ia berilmu dalam berbagai urusan namun tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakannya, maka pendapatnya tidak akan memberinya manfaat apapun karena ia tidak bisa mewujudkannya.” (Tafsir as Sa’di).

Bersambung, insyaallah, di episode ke bagian 2 nya.

Ditulis oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button