Artikel

Apa yang Dimaksud Kursi Allah Dalam Ayat Kursi? 

Pertanyaan: Assalamualaikum. Saya sering membaca Ayat Kursi, namun masih belum memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Kursi” Allah dalam ayat tersebut. Apakah Kursi itu sama dengan Arsy? Mohon penjelasannya berdasarkan dalil yang shahih. Terima kasih.

Jawaban: Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Ayat Kursi adalah ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an. Salah satu pernyataan amat penting dalam ayat ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Istilah Kursi Allah di dalam Al Quran hanya disebutkan di ayat ini.

Berikut adalah penjelasan mengenai hakikat Kursi Allah berdasarkan keterangan para ulama ahlussunnah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah:

Makna Kursi

Para ulama memiliki beberapa pendapat dalam menjelaskan makna Kursi dalam ayat tersebut, sebagaimana dirangkum dari keterangan para salaf:

Pertama: Kursi adalah tempat kedua kaki Allah.

Ini adalah pendapat yang paling masyhur di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

الكرسي موضع القدمين، والعرش لا يقدر قدره إلا الله

“Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukur besarnya.” (HR. Al-Hakim).

Pendapat ini juga diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, As-Suddi, Ad-Dhahhak, As-Suddi dan yang lainnya.

Kedua: Kursi bermakna Ilmu Allah.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas (dalam riwayat lain, namun penisbatannya kepada beliau dinilai lemah oleh para ulama) serta Said bin Jubair. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari cenderung memilih pendapat ini karena dianggap sesuai dengan konteks penjagaan Allah atas langit dan bumi melalui ilmu-Nya.

Namun pendapat ini kurang tepat karena alasan berikut:

1) Penafsiran tersebut kurang sejalan dengan cakupan ilmu Allah yang bersifat mutlak dan tidak terbatas. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ghāfir ayat 7:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا

“Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Ghāfir: 7)

Apabila Kursi Allah ditafsirkan sebagai ilmu Allah, lalu ayat

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

dipahami sebagai “ilmu-Nya meliputi langit dan bumi”, maka makna tersebut menjadi kurang kuat karena ilmu Allah tidak hanya meliputi langit dan bumi, tetapi meliputi seluruh hal, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang belum terjadi.

2) Konteks ayat Kursi lebih dekat kepada makna kekuasaan, keagungan, dan kemampuan Allah dalam menjaga langit dan bumi, daripada makna ilmu. Hal ini tampak pada kelanjutan ayat:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Ungkapan ini menunjukkan bahwa pemeliharaan langit dan bumi tidak memberatkan Allah. Makna “tidak berat” dan “tidak membebani” lebih berkaitan dengan kesempurnaan kemampuan dan kekuasaan, bukan dengan keluasan ilmu.

3) Penafsiran Kursi sebagai ilmu menyebabkan susunan makna ayat menjadi kurang proporsional. Jika kalimat:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

dimaknai sebagai:

“ilmu-Nya meliputi langit dan bumi”,

maka hubungan maknanya dengan kalimat setelahnya, yaitu

“Dia tidak merasa berat memelihara keduanya,”

menjadi tidak sekuat apabila Kursi dimaknai sebagai sesuatu yang menunjukkan keagungan kekuasaan Allah. Sebab, yang relevan dengan pemeliharaan langit dan bumi adalah kemampuan Allah, bukan sekadar pengetahuan Allah tentang keduanya.

4) Riwayat-riwayat yang dinukil dari para sahabat dan salaf lebih mendukung bahwa Kursi bukan bermakna ilmu. Oleh karena itu, pendapat yang menafsirkan Kursi sebagai ilmu dapat dinilai lemah karena bertentangan dengan konteks ayat, kurang sesuai dengan keluasan ilmu Allah yang mutlak, dan tidak didukung secara kuat oleh atsar-atsar yang ma’tsūr.

Dengan demikian, pendapat bahwa Kursi Allah bermakna ilmu Allah dapat dilemahkan, karena makna tersebut tidak menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan struktur dan konteks ayat Kursi.

Ketiga: Kursi adalah Arsy itu sendiri.

Sebagian kecil ulama, seperti Al-Hasan Al-Bashri, berpendapat bahwa Kursi adalah nama lain dari Arsy. Namun, mayoritas ulama membantah hal ini karena dalil-dalil menunjukkan keduanya adalah makhluk yang berbeda.

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa Kursi bukanlah Arsy, melainkan makhluk tersendiri yang sangat besar. Penjelasan yang paling masyhur mengenai makna Kursi datang dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ، وَالْعَرْشُ لَا يَقْدُرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ

“Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukur besarnya.” (HR. Al-Hakim, dan beliau menshahihkannya sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Tarjih

Pendapat yang paling tepat dan shahih dalam menafsirkan Al-Kursi adalah bahwa ia merupakan tempat kedua kaki di depan Arsy. Hal ini telah diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan selain mereka (Fatwa Islam, no. 356392, tahun 2017)

Berikut kami nukilkan pernyataan para ulama salaf tentang makna Kursi Allah:

Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi dalam Syarah At-Thahawiyyah berkata:

هو كما قال غير واحد من السلف بين يدي العرش كالمرقاة إليه

“Keadaannya sebagaimana yang dikatakan oleh banyak ulama salaf, yaitu berada di hadapan Arsy layaknya pijakan kaki (al-mirqah) menuju ke sana.”

Ibnu Abi Zamanin dalam Ushul As-Sunnah berkata:

هو كما قال غير واحد من السلف بين يدي العرش كالمرقاة إليه

“Termasuk perkataan Ahlus Sunnah adalah bahwa Al-Kursi itu berada di hadapan Arsy, dan ia merupakan tempat kedua kaki.”

Al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata:

والذي تقتضيه الأحاديث أن الكرسي مخلوق بين يدي العرش، والعرش أعظم

Apa yang dituntut (dijelaskan) oleh hadis-hadis adalah bahwa Al-Kursi merupakan makhluk yang berada di hadapan Arsy, dan Arsy lebih besar darinya.” (Fatwa Islam, no. 458011, tahun 2022)

Menetapkan Kursi Allah sebagaimana penafsiran yang diterangkan oleh para ulama salaf merupakan bagian dari keimanan kita terhadap sifat-sifat Allah sebagaimana yang Dikabarkan sendiri atau melalui Rasul-Nya, tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk (tasybih), tanpa menanyakan kaifiyah/bagaimananya (takyif), dan tanpa meniadakan maknanya (ta’thil).

Kesimpulan:

Kursi adalah makhluk Allah yang nyata, sangat besar, dan letaknya berada di hadapan Arsy. Mengetahui keagungan makhluk-Nya (Kursi dan Arsy) seharusnya membuat kita semakin tunduk dan menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

 

Referensi:

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button