Artikel

Bagaimana Jika Tidak Tawaf Ifadah Sampai Berakhir Hari Tasyrik, Apakah Hajinya Sah?

Assalamualaikum ustadz, Kapan terakhir tawaf Ifadah?

Pertanyaan : Apa boleh lewat hari tasyrik? Kami baru pulang dari Mina Nafar tsani tapi belum tawaf Ifadah – Dari Elva Yenti

Jawaban : Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah Was shalaatu was salam ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Pertama: Amalan utama pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) bagi jamaah haji ifrad ada tiga, yaitu:

  1. Melempar jumrah ‘Aqabah,
  2. Mencukur atau memendekkan rambut,
  3. Thawaf Ifadhah dan sa’i, jika belum melakukan sa’i setelah thawaf qudum.

Sedangkan bagi jamaah haji tamattu’ dan qiran, ada tambahan amalan yaitu menyembelih hewan hadyu, dan khusus bagi muttamatti’, juga harus melakukan sa’i setelah thawaf ifadhah.

Kedua: Urutan pelaksanaan amalan-amalan ini yang paling utama adalah:

  1. Melempar jumrah,
  2. Menyembelih hewan hadyu (bagi tamattu’ dan qiran),
  3. Mencukur atau memotong rambut,
  4. Thawaf dan sa’i.

Itulah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ; beliau melempar jumrah, kemudian menyembelih hewan kurban, lalu mencukur rambutnya, setelah itu beliau diberi wewangian oleh ‘Aisyah, lalu beliau pergi untuk thawaf ke Ka’bah.

Namun ketika Nabi ﷺ ditanya tentang seseorang yang mengubah urutan ini;  misalnya mendahulukan yang seharusnya belakangan beliau bersabda:

“لا حرج، لا حرج”

Tidak mengapa, tidak mengapa.

Ketiga: Siapa yang telah melakukan dua dari tiga amalan utama (selain menyembelih), maka ia sudah mendapatkan tahallul awal, yakni ia telah keluar dari sebagian larangan ihram dan boleh melakukan segala sesuatu kecuali berhubungan dengan istri.

Dan jika telah melakukan tiga amalan utama tersebut, maka ia telah mendapatkan tahallul tsani (tahallul sempurna/tahallultsani), yang berarti ia boleh melakukan seluruh hal yang sebelumnya diharamkan selama ihram, termasuk hubungan suami istri.

Keempat: Tawaf Ifadah adalah salah satunya, tawaf ini akan lebih baik jika dilakukan sesegera mungkin dalam hari tasyrik tersebut. Agar semakin cepat menunaikan kewajiban. Karena pada dasarnya kita diperintahkan bersegera dalam melakukan kebaikan. Allah berfirman:

 وَلِكُلّٖ وِجۡهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَاۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ

“Bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan.” [Surat Al-Baqarah: 148]

Tawaf ini tergolong ke dalam rukun haji. Hal ini didasari oleh ayat:

 ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran  yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka   dan hendaklah mereka melakukan  thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” [Surat Al-Hajj: 29]

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud tawaf pada ayat ini adalah Thawaf Ifadhah. Sebagaimana penjelasan dari Imam Ibnu Jarir -rahimahullah-

وعُنِيَ بالطَّوافِ الذي أمَرَ جلَّ ثناؤه حاجَّ بيتِه العتيقِ به في هذه الآيةِ: طوافُ الإفاضةِ الذي يُطاف به بعد التعريفِ، إمَّا يومَ النَّحرِ وإمَّا بعده، لا خلاف بين أهل التأويلِ في ذلك

“Yang dimaksud dengan thawaf dalam ayat ini; yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada para jamaah haji di Baitullah adalah thawaf ifadhah, yaitu thawaf yang dilakukan setelah wukuf di Arafah, baik pada hari Idul Adha maupun setelahnya. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ahli tafsir.” (Jami’ Al Bayan, 18/615)

Kelima: Setelah penjelasan di atas, sebagai pendekatan untuk memahami bahwa tawaf ini amat penting dalam ibadah haji dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, selanjutnya, jika pelaksanaan tawaf ini diakhirkan hingga berakhir hari Tasyrik bagaimana apakah sah?

Syaikh Abdulaziz Bin Baz pernah ditanya tentang hal ini beliau menjawab:

لا مانع من تأجيل طواف الإفاضة، ليس له حد محدود، لكن كل ما تقدم في يوم العيد أفضل في يوم الحادي عشر أفضل من الثالث عشر، وهكذا… كل ما تقدم فهو أفضل، وليس له حد محدود، لكن الأفضل البدار به إذا تيسر الأمر، فإذا كان هناك زحمة شديدة، أو مرض، أو نحو هذا، وأخره؛ لا بأس.

“Tidak mengapa menunda pelaksanaan Thawaf Ifadhah karena tidak ada batas waktu tertentu untuknya. Namun, semakin cepat dilakukan maka semakin baik. Melaksanakannya pada hari Idul Adha lebih utama daripada hari ke-11, dan hari ke-11 lebih utama daripada hari ke-13, dan seterusnya. Jadi, semakin awal dilaksanakan, semakin utama. Meski begitu, tidak ada batasan waktu yang ketat. Hanya saja, yang terbaik adalah segera melakukannya jika memungkinkan. Jika ada kondisi seperti keramaian yang sangat padat, sakit, atau halangan lainnya sehingga harus menundanya, maka tidak masalah.” (binbaz.or.ig)

 Bahkan seandainya dilakukan di luar hari tasyrik pun sah. Dalam fatwa yang lain Syaikh Abdulaziz Bin Baz rahimahullah menjelaskan,

ليس في ذلك حرجٌ، وليس لطواف الإفاضة حدٌّ محدودٌ، فإذا طافه بعد الحج بعد أيام الحج بأيامٍ أو في آخر الشَّهر فلا بأس، حتى لو أخَّره إلى المحرم أو صفر لا حرج عليه في ذلك، لكن البدار به أفضل، وليس له أن يأتي أهله حتى يطوف، وإن كان امرأةً ليس لها أن يمسَّها زوجُها حتى تطوف، فالبدار به أولى عند زوال الزحمة.

“Tidak ada masalah dalam hal ini. Thawaf Ifadhah tidak memiliki batas waktu tertentu. Jika seseorang melakukannya setelah hari-hari haji, bahkan beberapa hari setelahnya atau di akhir bulan Dzulhijjah, maka itu tetap sah. Bahkan jika ditunda sampai bulan Muharram atau Shafar pun, tidak mengapa. Namun, menyegerakannya tetap lebih utama, terutama ketika kepadatan sudah mulai reda. Seseorang tidak boleh kembali kepada keluarganya (berhubungan suami istri) sebelum melaksanakan Thawaf Ifadhah. Bagi seorang wanita, suaminya juga tidak boleh menyentuhnya sebelum ia menyelesaikan thawaf tersebut. Maka dari itu, menyegerakan thawaf ini lebih dianjurkan ketika situasi memungkinkan.”  (binbaz.or.ig).

Dapat disimpulkan bahwa Thawaf Ifadhah boleh ditunda pelaksanaannya karena tidak ada batas waktu yang mengikat. Namun, semakin cepat dilakukan, semakin utama pahalanya. Jika memungkinkan, sebaiknya dilaksanakan segera setelah hari Idul Adha. Meski demikian, penundaan karena uzur seperti sakit atau padatnya jamaah tetap diperbolehkan dan tidak mengurangi keabsahannya.

Wallahu A’lam bis showab.

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori Lc., MA.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button