
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ustaz, saya sering mendengar imam atau teman-teman saya mengucapkan salam dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menambahkan “wabarakatuh”, ada yang hanya “Assalamu’alaikum” saja di bagian akhir. Mohon penjelasan mengenai jenis-jenis lafaz salam yang diajarkan dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jazakallahu khairan.
Jawaban:
Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.
Salam merupakan rukun (pada salam pertama) yang menandakan berakhirnya seluruh rangkaian ibadah shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kedudukan salam:
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat adalah bersuci, pengharamnya (dari hal di luar shalat) adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Berdasarkan keterangan para ulama, berikut adalah variasi lafaz salam yang bersumber dari sunnah:
Variasi Lafaz Salam
Terdapat beberapa cara pengucapan salam yang memiliki sandaran dalil yang kuat:
Cara Pertama: Menambah “Wabarakatuh” pada Salam Pertama
Mengucapkan “Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh” ke kanan,
dan “Assalamu’alaikum wa Rahmatullah” ke kiri.
Hal ini berdasarkan hadits dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَعَنْ شِمَالِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
“Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau salam ke arah kanan: ‘Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh’, dan ke arah kiri: ‘Assalamu’alaikum wa Rahmatullah’.” (HR. Abu Daud).
Cara Kedua: Lafaz yang Paling Masyhur
Mengucapkan “Assalamu’alaikum wa Rahmatullah” ke arah kanan dan kiri.
Ini adalah cara yang paling banyak diriwayatkan, di antaranya dalam hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam ke arah kanan dan kirinya: ‘Assalamu’alaikum wa Rahmatullah’, ‘Assalamu’alaikum wa Rahmatullah’.” (HR. Muslim).
Cara Ketiga: Meringkas Salam Kedua
Mengucapkan “Assalamu’alaikum wa Rahmatullah” ke arah kanan
dan hanya “Assalamu’alaikum” ke arah kiri.
Sebagaimana dalam hadis:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، وَعَنْ يَسَارِهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam ke arah kanan: ‘Assalamu’alaikum wa Rahmatullah’, dan ke arah kiri: ‘Assalamu’alaikum’.” (HR. An-Nasa’i).
Cara Keempat: Salam Satu Kali
Mencukupkan diri dengan satu kali salam saja.
Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الْأَيْمَنِ شَيْئًا
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dalam shalat dengan satu kali salam ke arah depan, dan menoleh ke arah kanan sedikit.” (HR. At-Tirmidzi).
Kepada Siapa Salam Ditujukan?
Imam An-Nawawi, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, menyebutkan hal tersebut dalam perkataannya:
وينوي الإمام بالتسليمة الأولى الخروج من الصلاة والسلام على من عن يمينه وعلى الحفظة، وينوي بالثانية السلام على من على يساره وعلى الحفظة، وينوي المأموم بالتسليمة الأولى الخروج من الصلاة والسلام على الإمام وعلى الحفظة وعلى المأمومين من ناحيته في صفه وورائه وقدامه، وينوي بالثانية السلام على الحفظة وعلى المأموين من ناحيته، فإن كان الإمام قدامه نواه في أي التسليمتين شاء، وينوي المنفرد بالتسليمة الأولى الخروج من الصلاة والسلام على الحفظة، وبالثانية السلام على الحفظة.. انتهى.
“Seorang Imam berniat pada salam pertama untuk keluar dari salat serta memberi salam kepada orang-orang di sisi kanannya dan kepada malaikat penjaga (Hafazhah). Pada salam kedua, ia berniat memberi salam kepada orang-orang di sisi kirinya dan kepada malaikat penjaga.
Seorang Makmum berniat pada salam pertama untuk keluar dari salat serta memberi salam kepada Imam, kepada malaikat penjaga, dan kepada para makmum lain yang berada di arahnya, baik yang berada di barisannya, di belakangnya, maupun di depannya. Pada salam kedua, ia berniat memberi salam kepada malaikat penjaga dan kepada para makmum di arah tersebut. Apabila posisi Imam berada tepat di depannya, maka ia boleh meniatkan salam kepada Imam pada salam pertama maupun kedua sesukanya.
Sedangkan seorang Munfarid (orang yang shalat sendiri) berniat pada salam pertama untuk keluar dari salat serta memberi salam kepada malaikat penjaga, dan pada salam kedua juga berniat memberi salam kepada malaikat penjaga (Al-Majmu’ Syarhul Muazzab. 3/456)
Dari penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah di atas dapat dipahami bahwa secara keseluruhan, salam pertama berfungsi sebagai niat untuk keluar dari shalat sekaligus memberi salam kepada makhluk lain (malaikat/manusia). Adapun secara rinci, salam diucapkan untuk tujuan sebagai berikut:
Bagi Imam:
- Salam I: Niat keluar shalat + salam kepada jamaah di sisi kanan + malaikat penjaga.
- Salam II: Salam kepada jamaah di sisi kiri + malaikat penjaga.
Bagi Makmum:
- Salam I: Niat keluar shalat + salam kepada Imam + malaikat + jamaah di sekitarnya (depan, belakang, samping).
- Salam II: Salam kepada malaikat + jamaah di sisi kiri.
Catatan: Jika Imam tepat di depan makmum, makmum bebas memilih ingin meniatkan salam kepada Imam pada salam pertama atau kedua.
Bagi Munfarid (Shalat Sendiri):
- Salam I: Niat keluar shalat + salam kepada malaikat penjaga.
- Salam II: Salam kepada malaikat penjaga.
Kesimpulan
- Hukum: Salam pertama adalah rukun (wajib), sedangkan salam kedua adalah sunnah menurut mayoritas ulama.
- Adab: Disunnahkan untuk tidak memanjangkan suara (mad) pada kata “As-Salam”, namun diucapkan dengan ringan dan jelas.
- Menoleh: Menolehkan wajah hingga putih pipi terlihat oleh orang di belakang merupakan kesempurnaan sunnah.
Mengamalkan variasi lafaz di atas secara bergantian diperbolehkan agar kita dapat menjalankan seluruh sunnah yang pernah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu A’lam.
Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.