
Ambil Sebab Tanpa Melupakan Takdir: Inilah Jalan Tengah Ahlus Sunnah
Pertanyaan: Afwan Ustadz, Saya ingin bertanya
- Apakah pengertian mengambil suatu sebab dari takdir dan meyakini suatu sebab dari takdir? Mohon penjelasannya!
- Dan apakah keduanya yaitu mengambil dan meyakini suatu sebab dari takdir itu sama ataukah berbeda?
- Mengapa mengambil suatu sebab dari takdir itu hukumnya boleh sedangkan meyakini suatu sebab dari takdir itu hukumnya syirik kecil?
Mohon penjelasannya beserta contoh!
Jawab:
وعليكم السلام و رحمة الله و بركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد
Saya akan mencoba menjelaskan dengan ringkas semoga dipahami untuk 3 pertanyaan tersebut
Seorang Muslim dituntut untuk mengambil sebab-sebab yang dibolehkan syariat. Para ulama mengatakan:
الأخذ بالأسباب عبادة والاعتماد عليها شرك،
“Mengambil sebab adalah ibadah, tetapi bergantung sepenuhnya pada sebab adalah syirik.”
Barang siapa mengambil sebab, meskipun kelihatannya lemah, namun hatinya tetap bergantung kepada Allah, maka dia telah menjalankan ajaran yang benar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
الالتفات إلى الأسباب، واعتبارها مؤثرة في المسببات شرك في التوحيد، ومحو الأسباب أن تكون أسبابا نقص في العقل والإعراض عن الأسباب المأمور بها قدح في الشرع
“Terlalu fokus pada sebab dan meyakininya sebagai penentu hasil adalah bentuk syirik dalam tauhid. Sebaliknya, mengingkari bahwa sebab bisa membawa akibat adalah kekeliruan dalam akal. Dan berpaling dari sebab-sebab yang memang diperintahkan oleh syariat adalah cacat dalam agama.”
Semoga Allah memberi taufik pada kita semua
بارك الله فيكم