Jangan Sepelekan! Syirik Dalam Nama dan Sifat Allah Ini Banyak Terjadi di Sekitar Kita

Jangan Sepelekan! Syirik Dalam Nama dan Sifat Allah Ini Banyak Terjadi di Sekitar Kita
Setelah memahami uraian artikel sebelumnya,
Berikut kami sebutkan beberapa contoh bentuk kesyirikan dalam al-Asma Wa ash-shifat yang mungkin kita temukan di tengah masyarakat :
- Menganggap wali memiliki ilmu ghaib
– Ini syirik dalam sifat ‘alim (Maha Mengetahui). Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang tersembunyi.
– Contoh: Meyakini seorang wali tahu kapan seseorang akan meninggal, atau isi hati orang lain.
- Meyakini wali mendengar doa dari jarak jauh setelah wafat
– Ini syirik dalam sifat as-Sami’ (Maha Mendengar). Hanya Allah yang bisa mendengar segala sesuatu tanpa batas.
– Contoh: Berdoa kepada wali yang telah meninggal dan yakin wali tersebut mendengar dan bisa mengabulkan.
- Menggambarkan wali dengan sifat yang hanya layak bagi Allah
– Seperti menyebut wali sebagai “penjaga rezeki” atau “pengatur alam”.
– Ini syirik dalam sifat ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dan al-Mudabbir (Pengatur urusan).
- Menganggap wali memiliki kemampuan mutlak untuk memberi manfaat atau menolak mudarat
– Ini syirik dalam sifat al-Qadir (Maha Kuasa).
– Contoh: Meyakini jika tidak berziarah ke makam wali tertentu, hidup akan sial.
- Percaya kepada dukun, paranormal, atau peramal
Meyakini bahwa dukun atau paranormal mengetahui masa depan, nasib seseorang, jodoh, rezeki, atau kematian. Ini termasuk syirik karena hanya Allah yang mengetahui perkara-perkara tersebut.
- Membaca ramalan zodiak atau horoskop lalu mempercayainya
Meskipun tampak sepele, mempercayai ramalan zodiak sebagai sesuatu yang akan terjadi adalah bentuk kesyirikan karena itu mengandung klaim ilmu gaib.
- Menganggap arwah orang mati mengetahui keadaan dunia
Seperti meyakini bahwa arwah leluhur mengetahui dan mengawasi kehidupan keturunannya, atau bisa memberi pertolongan dari alam barzakh.
- Keyakinan bahwa jin atau makhluk halus mengetahui isi hati manusia
Hal ini bertentangan dengan ayat bahwa hanya Allah yang mengetahui hal gaib, termasuk isi hati dan niat seseorang.
- Menggantungkan nasib pada benda-benda tertentu (jimat) karena dianggap tahu kondisi pemiliknya
Seperti meyakini bahwa cincin tertentu bisa “merasakan” bahaya dan memberi sinyal atau firasat kepada pemakainya.
Dan selainnya tentu masih ada yang belum kami sebutkan.
Sebagai penutup, memahami tauhid Asma’ wa Sifat dengan benar adalah bagian penting dari aqidah seorang Muslim. Menjauhi bentuk-bentuk kesyirikan dalam nama dan sifat Allah, baik berupa penyamaan dengan makhluk maupun penolakan terhadap apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya, merupakan kewajiban. Di tengah maraknya pemahaman yang menyimpang, penting bagi setiap Muslim untuk merujuk kepada pemahaman salafush shalih dan bersandar pada dalil yang shahih agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang bisa mengurangi bahkan merusak akidahnya. Semoga Allah menjaga kita semua dalam jalan tauhid yang lurus.
Rujukan : Syarah Ushul i’tiqad Ahlis sunnah wal Jamaah, Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghofar
https://dorar.net/aqeeda/3014. Dan lain – lain