
Menikmati Proses, Jangan Tergesa-Gesa
Dalam hidup, kita sering kali ingin melihat hasil dengan cepat. Kita ingin impian segera terwujud, usaha langsung sukses, atau perubahan terjadi seketika. Namun, Allah telah menunjukkan sebuah pelajaran amat berharga dalam proses dalam penciptaan kita sebagai manusia; menikmati proses dan tidak tergesa-gesa.
Sejak awal, manusia diciptakan dari setetes air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah, lalu menjadi sepotong daging kecil. Setelah 120 hari dalam kandungan, barulah ruh ditiupkan, dan janin mulai bergerak sebagai makhluk hidup. Proses ini berlangsung perlahan, tahap demi tahap, meskipun Allah Maha Kuasa untuk menciptakan manusia dalam sekejap dengan firman-Nya, “Kun (jadilah)” maka jadilah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda menjelaskan proses ini:
إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ، ثم يكون علقة مثل ذلك ، ثم يكون مضغة مثل ذلك ، ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح ، ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه ، وأجله ، وعمله ، وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره ، إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة ، حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع ، فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار ، وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع ، فيسبق عليه الكتاب ، فيعمل بعمل أهل الجنة.
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi darah beku selama itu, lalu menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk menuliskan empat hal: amalannya, rizkinya, ajalnya, dan apakah dia akan celaka atau bahagia. Kemudian ruh pun ditiupkan kepadanya. Seseorang di antara kalian akan terus beramal hingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sejengkal, lalu ditentukan takdirnya, dan dia akan melakukan amal perbuatan penghuni neraka. Seseorang lainnya akan beramal hingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali sejengkal, lalu ditentukan takdirnya, dan dia akan beramal dengan amal perbuatan penghuni surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah pelajaran berharga bahwa segala sesuatu dalam hidup membutuhkan waktu. Kita diajarkan untuk tidak tergesa-gesa, tetapi menikmati setiap proses yang berlangsung. Seperti janin yang berkembang perlahan dalam rahim, begitu pula usaha, impian, dan doa-doa kita. Semua memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang.
Terkadang, kita merasa lelah menunggu hasil, ingin menyerah karena belum melihat perubahan yang diharapkan. Namun, jika kita memahami bahwa Allah menetapkan setiap proses dengan hikmah, kita akan lebih tenang dan sabar. Ada hubungan erat antara sebab dan akibat, antara usaha dan hasil. Apa yang kita tanam hari ini, akan berbuah pada waktunya, sebagaimana manusia yang terlahir setelah proses panjang dalam rahim ibunya.
Setan selalu mendorong manusia untuk tergesa-gesa mendapatkan hasil, agar mereka salah dalam bertindak, ceroboh dalam mengambil langkah dan keputusan, serta kecewa ketika tidak mendapatkan hasil yang cepat. Sebaliknya, Allah mencintai orang-orang yang bersikap tenang, sabar, dan menikmati proses dalam mencapai sesuatu.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
التأني من الله والعجلة من الشيطان
“Sikap tenang itu dari Allah, sedangkan sikap tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la)
Jika ketenangan (tidak tergesa-gesa) itu berasal dari Allah, maka Allah mencintainya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda kepada Al-Asyaj ‘Abd al-Qais:
إن فيك لخصلتين يحبهما الله ورسوله : الحلم والأناة
“Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu kelembutan dan ketenangan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, nikmatilah setiap langkah dalam perjalanan hidup. Jangan terburu-buru menginginkan hasil instan. Keindahan sering kali terletak dalam proses itu sendiri dalam perjuangan, dalam belajar, dalam bertumbuh. Dan yang terpenting, yakinlah bahwa setiap usaha yang dijalani dengan kesabaran akan berbuah manis pada waktunya.
Ditulis oleh Ustadz: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.