Perempuan dan Dakwah
Perempuan dan Dakwah
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan bagaimana cara dakwah anak perempuan di dalam keluarga? Selamat membaca.
Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz, izin bertanya. Satu tahun lalu ayah saya meninggal dunia. Apakah saya sebagai saudara tertua perempuan memiliki tanggung jawab untuk dakwah, mengingatkan dan berusaha membuat ibu serta kedua adik saya untuk lebih baik dan menjalankan syariat Islam?
Karena saya sudah sering kali mengingatkan, dan memberitahu baik-baik, tetapi tidak juga membuat mereka tergerak hatinya. Apa yang harus saya lakukan ustadz, mohon bimbingannya. Jazakumullahu khayr.
(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)
Jawaban:
Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Sebuah ungkapan yang bijak,
“Jika ada satu kemungkaran, kemudian kita mengingkarinya dengan cara yang lembut (yaitu dengan hikmah), maka itu sudah cukup menjadi uzur kita di hadapan Allah Ta’ala kelak.”
Jika muncul kemungkaran baru yang kedua, kita bisa mengingkarinya juga (nasihat yang baru), dan hal ini tidak wajib diulang-ulang pada satu kasus yang sama apalagi jikalau membawa kepada kemudharatan (misalnya muncul kemungkaran yang semisal), dan begitu seterusnya.
Tugas sebagai penasehat atau juru dakwah (baik laki ataupun perempuan) hanya menyampaikan nasihat dan petunjuk, taufiq itu dari Allah Ta’ala semata. Telah dipahami secara umum dalam agama kita bahwa tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan.
Sedangkan untuk memberikan hukuman dan azab bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah Ta’ala. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tak bisa bertindak apa-apa, karena hidayah taufiq adalah hak Allah saja.
Imam ahli tafsir Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Ibrahim: 11).
Beliau berkata,
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم
“Utusan itu berkata, sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6/333).
Pada intinya bagi anak perempuan dalam keluarga yang telah ditinggalkan oleh ayah, ia tetap berusaha menyuarakan dakwah ini dengan ilmu dan hikmah, dengan bashirah (ilmu) dan kelembuatan, dengan dalil dan pengertian plus ekstra kesabaran mengajarkan ilmu dan manhaj ini kepada orang-orang yang disayanginya sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.
Dan bagi insan yang masih awam, sikap paling bijaksana di dalam mengambil peran ini adalah dengan menempa diri dengan ilmu syar’i, fokus mempelajari hakikat Islam dengan sabar, istiqamah dan dalam jangka waktu yang lama.
Terakhir kita harus meluangkan waktu khusus untuk mendoakan orang-orang yang saat ini tidak suka pada dakwah agar Allah Ta’ala menganugrahkan hidayah kepada kita dan mereka.
Agar kita dan mereka menjadi penolong-penolong dakwah walaupun dalam skala kecil, menyeru kaum muslimin bagi yang punya ilmu dan kuasa untuk kembali kepada A-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, minimalnya dalam keluarga dan kerabat kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq pada kita semua.
Baca juga artikel selengkapnya: Tetap Dakwah Dengan Lemah Lembut Kepada Keluarga
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 9 Rabiul Awal 1444 H/ 5 Oktober 2022 M
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini