Ibadah

Ibadah Tanpa Mengharap Surga?

Ibadah Tanpa Mengharap Surga?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut pembahasan benarkah ibadah tanpa mengharap surga? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum, ustadz sebagaimana kita tahu bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, apabila kita beribadah untuk mendapatkan surga Allah apakah termasuk tidak ikhlas karena mengharap sesuatu?

Bagaimana yang seharusnya ada dalam hati kita saat melakukan semua ibadah, mohon pencerahan.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah ta`alaa, sebagaimana firman Allah ta`ala,”

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… [QS. Al-Bayyinah/98 : 5]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : ” الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟”

“Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat, ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapatkan balasan (pahala) darinya? [HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi]

Apakah bila seseorang menginginkan surga, termasuk riya` dan tidak ikhlas karena Allah semata?

Perlu kita ketahui, bahwa banyak ayat dan hadist yang memotivasi kita untuk berharap surga yang Allah janjikan. Sebagaimana dalil berikut:

وَعَدَ اللَّهُ الۡمُؤۡمِنِینَ وَالۡمُؤۡمِنَـٰتِ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا الۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَا وَمَسَـٰكِنَ طَیِّبَةࣰ فِی جَنَّـٰتِ عَدۡنࣲۚ وَرِضۡوَ ٰ⁠نࣱ مِّنَ اللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapatkan) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya.” (QS at-Taubah : 72 )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ

“Jika kalian meminta sesuatu kepada Allah, mintalah (surga) Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy (milik) Ar-Rahman, darinya mengalirlah sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 7423)

Perhatikanlah dalil-dalil di atas, apa yang Allah tawarkan? Supaya manusia berjuang dan berusaha dalam membaguskan ibadah mereka. Allah Maha mengetahui dengan apa yang dibutuhkan dari seorang makhluk, sehingga Allah memancing dengan sesuatu yang disuka untuk tergerak mengoptimalkan perjuangan.

Kenapa Allah memancing dengan surga dan balasan yang lainnya? Apakah berdosa bila menginginkan sesuatu yang ditawarkan oleh Allah? Allah yang menawarkan dan Dia yang menyuruh manusia untuk mendapatkannya.

Maka dari hal tersebut, tidak ada pertentangan antara riya` dengan keinginan manusia untuk mendapatkan janji yang ditawarkan. Karena yang menyuruh untuk ikhlas Dialah Allah yang juga menyuruh seorang makhluk supaya tertarik mendapatkannya.

Sehingga, hukumnya boleh dan tidak berdosa, bila seseorang beribadah dengan keikhlasan kepada Allah, di sisi lain kita juga berharap untuk mendapatkan surga dengan beribadah kepadaNya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ

“Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as-sabiqun al-muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 10/701, Darul Wafa’,cetakan ketiga, 1426 H)

Mengenai perkataan sebagian sufi,

لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ

“Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan nikmat surga-Mu dan tidak pula karena takut pada siksa neraka-Mu”,

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban,“Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekadar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat.

Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendiskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga.

Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga.

Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu’ Al Fatawa, 10/240-241.)

Wallahhu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 25 Syawal 1443 H/ 26 Mei 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di sini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button