7 Keistimewaan Syariat Islam Bagian (1)

7 Keistimewaan Syariat Islam Bagian (1)

7 Keistimewaan Syariat Islam (1)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Q.S. Al-Maidah 5:3)

Seorang mukmin wajib meyakini bahwasanya agama islam adalah agama yang sempurna, tidak ada kekurangan di dalamnya, satu-satunya agama yang benar, dan satu-satunya agama yang dapat mengantarkan ke surga Allah Subhananhu wa ta’ala. Mengingat firmanNya,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran 4:85)

Seiring perkembangan zaman dan semakin majunya ilmu pengetahuan, kebenaran Islam pun semakin terbukti jelas dan semakin banyak orang yang masuk ke dalam agama ini. Hal ini tentu yang utama adalah karena hidayah dari Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian dikarenakan keistimewaan syariat Islam itu sendiri. Nonmuslim yang tertarik terhadap Islam, berusaha mengenalnya kemudian mempelajarinya dengan baik, akan meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.

Adapun keistimewaan syariat islam diantaranya adalah:

1. Bersumber dari Dzat Yang Maha Mengetahui

Syariat Islam adalah satu-satunya syariat yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan (maslahat) untuk manusia pada setiap tempat dan zaman, karenanya syariat ini terjaga dari kekurangan dan kesalahan. Apa yang ada di dalamnya adalah kebenaran mutlak, tidak ada kezhaliman sedikitpun, dan apa yang ditimbulkan olehnya adalah murni maslahat, tidak ada kemudharatan sedikitpun.

Hal ini berbeda dengan syariat atau undang-undang buatan manusia yang banyak sekali kekurangan dan kesalahan-kesalahannya (sehingga senantiasa butuh mengalami perubahan/amandemen) dan banyak sekali kemudharatan yang ditimbulkan (sehingga selalu perlu ditinjau ulang). Kalaupun ada maslahat yang ditimbulkan niscaya maslahat tersebut hanya bisa dirasakan oleh sebagian masyarakat saja tanpa sebagian yang lain, atau hanya bisa dinikmati oleh manusia yang hidup di awal kemunculan syariat atau undang-undang tersebut, dan setelah itu mashlahatnya terkikis oleh zaman. Hal ini tidak lain dan tidak bukan dikarenakan pandangan manusia itu sendiri yang sangat terbatas dalam melihat kebenaran, dan pengetahuannya yang terlalu sempit dalam memaknai kemaslahatan. Bahkan seandainya seluruh manusia bergabung untuk membuat undang-undang yang sempurna dari segala sisinya, dan tidak ada kekurangan sedikitpun didalamnya (seperti syariat islam) niscaya mereka tidak akan sanggup.

Adapun syariat islam kebenarannya akan selalu tampak pada setiap zaman dan mashlahatnya tidak akan pernah tergerus oleh waktu. Karena memang yang membuat adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan tidak ada yang tersembunyi dariNya hal sekecil apapun.

2. Mencakup Semua Aspek

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Q.S. Al-Maidah 5:3)

Islam tidak hanya mengajarkan akidah saja, akan tetapi juga mengajarkan akhlak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (Syaikh Al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah jilid 1 hal. 75: (hadits ini) diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Adab Mufrad no. 273, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat jilid 1 hal. 192, Hakim jilid 2 hal. 613, dan Ahmad jilid 2 hal. 318.)

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba berhubungan dengan Rabbnya, akan tetapi islam juga mengajarkan bagaimana seharusnya seorang hamba bermuamalah dengan sesamanya, Rasulullah bersabda:

لا تباغضوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا، وكونوا عباد الله إخوانا، ولا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ليال

“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari.” (HR. Al-Bukhari no. 6065, Muslim no. 2559, dan lainnya)

Islam juga mengajarkan bagaimana seharusnya seorang mukmin memakai lisannya ketika berbicara dengan orang lain.

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka hendaknya dia bicara yang baik atau diam” (HR. Al-Bukhari no. 6135, Muslim no. 48, dan lainnya)

Islam juga mengajarkan bagaimana seharusnya ummatnya dalam bertetangga:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره

“Barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya” (HR. Al-Bukhari no. 6109, Muslim no. 47, dan lainnya.

Bahkan islam mengancam dengan neraka orang yang tetangganya tidak aman dari perbuatannya:

لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه

Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Al-Bukhari no. 7818, Muslim no. 46, dan Ahmad no. 8638)

Islam tidak hanya memerintahkan ummatnya untuk beramal, akan tetapi islam juga memerintahkan mereka untuk beradab ketika beramal, tidak ada suatu amalan pun melainkan islam mengajarkan adab-adabnya, sampai ketika ‘buang air’ pun islam mengajarkan tata cara dan adab-adabnya. Seorang musyrik berkata kepada Salman Al-Farisi:

علمكم نبيكم كل شيء حتى الخراءة، قال أجل قلد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول أو أن نستنجي باليمين أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار أو نستنجي برجيع أو عظم

“Apakah Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu hingga cara buang hajat?” Salman menjawab, “Benar, beliau melarang kami menghadap kiblat saat buang air besar atau air kecil, beristinja` dengan tangan kanan, dan beristinja` dengan batu kurang dari tiga buah, serta beristinja` dengan menggunakan kotoran binatang atau tulang.” (HR. Muslim no. 262, At-Tirmidzi no. 16, dan lainnya)

Apabila dalam masalah buang air saja islam mengajarkan adab-adabnya apalagi dalam masalah yang lebih besar. Maka tidak ada satu permasalahan melainkan dalam islam ada jawabannya, tidak ada satu amalan pun yang bisa mendekatkan seorang hamba kepada surga melainkan Allah dan RasulNya telah menjelaskannya. Dan tidak ada satu amalanpun yang bisa menghantarkan seorang hamba kepada nerakanya melainkan telah dijelaskan juga oleh Allah dan RasulNya. Oleh karena itu, tidak perlu adanya tambahan dalam agama ini dan tidak perlu juga adanya pengurangan didalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَيُبَاعِدُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلا أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يُبَاعِدُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ ، وَيُقَرِّبُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Sungguh tidak ada satu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali aku telah memerintahkannya kepada kalian, dan tidak ada satu pun yang mendekatkan kalian ke neraka dan menjauhkan kalian dari surga kecuali aku telah melarangnya atas kalian.” (HR. Al-Hakim An-Naisaburi dalam Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, no. 964)

Abu Dzar juga berkata:

تركنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يقلب جناحيه في السماء إلا هو يذكرنا منه علما

“Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada satu burungpun yang mengepakkan sayapnya dilangit melainkan beliau menyebutkan ilmunya kepada kami” (HR. Ahmad no. 21361)

Bersambung . . .

Ditulis Oleh:
Ustadz Al-iskandar Bahr حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )