Tiga Faedah Tentang Khusyuk Ketika Shalat

Tiga Faedah Tentang Khusyuk Ketika Shalat

Tiga Faedah Tentang Khusyuk Ketika Shalat

Faedah Pertama : Apa Itu Khusyuk?

Khusyuk secara bahasa artinya ketenangan, kedamaian, ketundukan, kepatuhan, perasaan hina dan perasaan rendah pada diri. Khusyuk semakna dengan Al-Khudhu’ dalam bahasa Arab. Bedanya, Al-Khudhu’ banyak digunakan untuk menggambarkan ketundukan badan dan khusyuk digunakan untuk menggambarkan ketundukan suara, hati, badan dan pandangan. Perhatikan ayat-ayat berikut,

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

“(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Q.S. Al-Qalam 68: 43)

dan

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ ۖ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

“Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (Q.S. Thaha 20: 108)

Ketundukan yang dimaksud pada pembahasan ini adalah ketundukan hati di hadapan Allah Ta’ala. Ketundukan ini muncul karena adanya pengagungan, kecintaan, dan penghambaan kepada Allah serta pengakuan tentang kehinaan diri sebagai hamba Allah Ta’ala yang tidak mampu berbuat apa-apa. Ketundukan ini lahir karena adanya perasaan takut dan perasaan selalu diawasi oleh Allah.

Khusyuk tersimpan di hati, namun sinarnya terpancar jelas pada perbuatan anggota badan. Apabila hati telah khusyuk, maka seluruh tubuh pun ikut khusyuk. Bukankah hati adalah raja dan badan adalah rakyat? Ini adalah khusyuk yang terpuji dan merupakan kepastian yang tidak terbantahkan. Khusyuk adalah perbuatan hati. Sumbernya adalah iman, takut, malu, cinta, harap, dan syukur kepada Allah.

Semua ketenangan, ketundukan, kepatuhan, dan kekhusyukan yang terlihat pada anggota badan orang yang beriman adalah pengaruh dari kekhusyukan yang terdapat di dalam hatinya. Ini adalah khusyuk yang benar, terpuji dan muncul karena iman. Adapun khusyuk yang lahir dari kemunafikan, itu adalah khusyuk yang semu, hanya terlihat pada anggota badan, tercela, palsu, dibuat-buat, dan tidak bersumber dari hati.

Khusyuk adalah ilmu yang agung dan bermanfaat, namun cepat hilang dan pergi. Syaddad bin Aus dan ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa khusyuk adalah sesuatu yang cepat hilang dan merupakan ilmu yang pertama kali dicabut dari hati anak Adam. ‘Ubadah bahkan mengatakan, kelak dari sekian banyak manusia yang datang dan shalat di masjid, hampir tidak satu orang pun yang khusyuk dalam shalatnya.

إِنْ شِئْتَ لَأُحَدِّثَنَّكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنَ النَّاسِ، الْخُشُوعُ يُوشِكُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ، فَلَا تَرَى فِيهِ رَجُلًا خَاشِعًا

‘Ubadah bin Shamit berkata: “Jika kamu mau, aku akan memberitahumu ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Khusyuk. Nyaris, kamu masuk masjid yang didalamnya ada shalat jamaah niscaya kamu tidak menemui satu orang pun yang khusyuk dalam shalatnya” (HR. At-Tirmidzi no. 2653)

Faedah Kedua : Makna Khusyuk Ketika Shalat

Khusyuk dalam shalat maknanya menghadirkan hati ketika shalat, penuh penyerahan dan kebulatan hati, sungguh-sungguh, penuh kerendahan hati, fokus dengan shalat, tenang, tidak memikirkan hal-hal di luar shalat, dan sadar dengan semua perkataan yang diucapkan maupun perbuatan yang dilakukan mulai dari awal sampai akhir shalat.

Khusyuk ketika shalat mengandung dua perkara; As-Sukuun (tumakninah) dan Al-Khudhuu’ (penuh kerendahan atau kehinaan). Barangsiapa sujud seperti burung yang mematuk makanan, sangat cepat, dan tidak tumakninah, maka dia belum khusyuk dalam sujudnya. Barangsiapa mengangkat kepala dari rukuk padahal belum tumakninah dan belum sempurna, maka dia belum khusyuk dalam rukuknya.

Shalat adalah tiang agama dan khusyuk adalah ruh atau inti dari sebuah shalat. Kedudukan khusyuk bagi shalat sama seperti kedudukan ruh bagi jasad. Shalat tanpa khusyuk ibarat jasad tanpa ruh. Keadaan manusia ketika shalat bermacam-macam: ada yang sangat khusyuk, ada yang seperti orang mabuk, dan ada juga yang shalat diantara dua kondisi tersebut. Khusyuk ketika shalat adalah sifat orang beriman yang sukses di dunia dan di akhirat.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (Q.S. Al-Mukminun 23: 1-2)

Faedah Ketiga : Manfaat Khusyuk Ketika Shalat

Khusyuk merupakan salah satu sebab yang memasukkan seseorang ke dalam surga.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝……. أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ۝

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya…. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Mukminun 23: 1-11)

Pada ayat yang lain Allah menyampaikan berita tentang orang-orang yang khusyuk ketika shalat,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab 33: 35)

Khusyuk juga merupakan salah satu sebab diampuninya dosa seorang hamba. Rasulullah menyebutkan,

فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“… Apabila ia berdiri dan shalat, lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memujinya dengan sesuatu yang memang Dialah yang berhak atasnya, lalu mengkhusyukkan hatinya semata-mata hanya untuk Allah, maka niscaya ia akan terlepas dari dosa-dosanya sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Muslim no. 832)

Sumber bacaan : 28 Faedah ‘An Al-Khusyu’ Fii Ash-Shalah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hal 1-19, Ebook Zad Group.

Ditulis Oleh:
Ustadz Muhammad Abu Rivai حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS