Tayamum di Dalam Gerbong Kereta Apakah Boleh

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullaah wabarakatuh.
Saya baru saja membaca artikel mengenai tayamum yang dilakukan di kereta api. Menurut artikel tersebut, seseorang tidak boleh bertayamum di kereta api ketika terdapat air yang memadai untuk berwudhu. Karena taymum merupakan pengganti wudhu, ketika tidak dijumpai air. Jadi ketika terdapat air yang memadai, bersuci dengan bertayamum tidak diperbolehkan.

Pertanyaan:

Saya pernah safar dengan kereta api, ketersediaan air tidak dapat saya ketahui, karena airnya dialirkan melalui shower. Tetapi pancaran showernya cukup kuat, jadi sepertinya ketersediaan airnya memadai.
Saat itu, saya tetap tidak berwudhu di kereta karena pertimbangan kebersihan kamar mandi. Kamar mandinya pesing, sedangkan ketika kereta melaju, saya berdiri dengan terhuyung-huyung, saya takut terjatuh dan pada akhirnya najis yang terdapat di kamar mandi tersebut malah menepel ke badan saya.
Apakah dengan kondisi seperti itu saya masih diperbolehkan untuk bertayamum?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T02-G36

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah

Jika kondisinya demikian, maka tidak boleh tayammum. Karena hakikat dasar tayammum adalah sebagai pengganti dari yang utama; Air. Maka jika yang utama masih ada dan tercukupi mengapa harus memakai pengganti?

Lalu yang perlu dipahami selanjutnya adalah, illah atau sebab hukum dari tayammum ada 2;
[1] Untuk mereka yang sedang sakit sehingga tidak memungkinkan menggunakan air
[2] Untuk mereka yang tidak mendapatkan atau tidak ada air
Inilah illah dari tayammum, dan memang tidak ada hubungannya ia dalam kondisi safar ataupun tidak. Jika 2 illah diatas terpenuhi, boleh baginya menggunakan pengganti air yaitu dengan debu atau tayammum.

Ini semua bersumber dengan dalil firman Allah ‘azza wajalla

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.. (QS. al-Maidah: 6)

Dua poin diatas juga bisa fleksibel dengan kondisi yang ada, namun masih tetap berhubungan dengan ketersediaan air dan orang yang sakit.
Contoh; kondisi air yang terbatas, serta bersamaan dengan kebutuhan lain yang memerlukan air semisal untuk minum dan memasak.

Atau kekhawatiran akan justru membahayakan penyakit yang sedang dideritanya. Atau ketidakmampuan bergerak untuk wudhu karena penyakit yang diderita.

Atau menggigil kedinginan jika terkena air sehingga tidak khusyuk sholat karena tidak ada yang bisa dijadikan penghangat.

Maka bagi yang berada di kereta dengan kondisi badan sehat dan air yang cukup, masih sangat memungkinkan untuk wudhu.
Adapun tentang bau pesing, ini jelas bukan alasan yang dibenarkan untuk bermudah-mudahan dalam syari’at Allah.

Pun begitu dengan najis, karena berwudhu di kamar mandi pun tidak menjamin tempatnya terbebas dari najis. Angkat atau jinjinglah pakaian anda ketika masuk kamar mandi kereta, berpijak dengan benar, niatkan untuk berwudhu dan bersungguh sungguh menjalankan syari’at, Insya Allah akan dimudahkan.

Wallahu A’lam

Wabillahit Taufiq

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah